Menggenggam Dunia – (11) Jatuh Hati

Standard

Ketika tiba di depan rumah, aku melihat Rahmat dengan berseragam olahraga dan menggunakan tas punggungnya, sedang bermain bola menggunakan sundulan kepala, kedua paha, bahu, dan tentunya kedua kaki. Sungguh hebat dia memainkan bola layaknya pemain profesional. Mungkin dia telah terbiasa bermain bola bersama temannya, sehingga dengan amat mudah ia menari bersama bola.

Melihat Rahmat seakan melihat masa laluku saat bermain bola di SMA. Tetapi untuk seumuran Rahmat, hal ini termasuk luar biasa. Bayangkan saja, aku bisa lancar bermain bola ketika berumur sebelas tahun, sedangkan Rahmat dengan tubuh kecilnya yang berumur delapan tahun sudah lebih mahir.

Aku selalu membandingkan Rahmat dengan pribadiku sendiri. Semakin lama aku semakin mengenali Rahmat persis dengan diriku saat masa kecil. Perbedaannya hanya dari status sosial. Aku keturunan orang berada, sedangkan ia turunan dari orang yang amat berkecukupan, bahkan bisa dibilang juga kekurangan.

Daritadi aku terus memperhatikan gerak-gerik Rahmat yang asyik memainkan bola. Perlahan aku mendekati tepat di belakangnya, niat jahat untuk mengagetkannya terlintas dalam benakku. Serasa ingin tahu, bagaimana ekspresi kaget dari bocah perawakan kecil berkulit putih ini.

Belum sempat untuk mengejutkannya, tiba-tiba sasaran bola menuju tepat di wajahku. Bruk. Auw. Bola yang telah terkotori debu itu, menepuk keras terutama di bagian hidung. Sehingga, hidungku keluar darah alias mimisan.

“Kak Arkan?” kagetnya yang baru menyadari keberadaanku.

“Mamet?” jawabku sedikit bercanda meniru gerakan kaget Rahmat.

“Maaf Kak, Mamet tidak sengaja. Mamet gak tahu, kalau ada Kakak di belakang Mamet. Maaf Kak.” Ibanya memohon sambil menunduk.

“Yah, lagian Kakak juga yang tadinya niat ngagetin Mamet, hehe. Eh, malah Kakak yang kena kejutan dari bolanya. Gak apa-apa, lagian, ini bisa cepat sembuh.” Jawabku sembari menahan darah yang keluar dari hidung.

Rahmat terlihat menyesali perbuatannya. Apabila berada di posisi Rahmat, mungkin aku akan sangat menyesal telah mencelakakan orang hingga terluka.

“Ya sudah, ayo masuk.” Ajakku semangat.

Kami berdua pun masuk rumah. Rahmat lekas mengganti seragam dengan baju rumah, sedangkan aku mengambil handuk kecil serta sebaskom air dingin untuk meredakan darah yang keluar, dengan cara mengompres pada leher dan di atas hidung. Aku melepas lelah dengan duduk di kursi.

“Masih sakit, Kak?” khawatir Rahmat.

“Lumayan, tapi sekarang agak mendingan. Tadi Mamet nunggu Kakak lama ya?” tanyaku.

“Lumayan, Kak. Tadi Kakak habis dari mana?”

“Rumah Pak Romli.”

“Pak Romli? Guru ngajinya Rahmat?” tanya ia heran.

“Iya, kenapa Met?”

“Gak apa-apa, Kak. Mamet senang kalau Kakak sudah kenal akrab dengan Pak Romli. Orangnya ramah dan sabar, Kak.” Pujinya.

“Iya, nanti kapan-kapan kita silaturahim ke rumahnya. Gimana kalau besok sore? Besok hari Minggu, Mamet punya waktu luang toh?”

“Boleh Kak.” Jawabnya sembari duduk di sampingku.

Darah yang keluar dari hidung masih merembas dan membasahi handuk. Aku jadi teringat akan masa laluku. Terakhir kali hidung berdarah, disaat aku berada di bangku kelas empat SD. Saat-saat yang memalukan, tetapi menjadikan kenangan yang tak akan terlupakan di masa kecilku.

Ketika itu, aku sedang berjalan dan melihat sahabatku yang bernama Rizal sedang berbicara akrab dengan temanku yang bernama Putri. Dengan cepat aku menanggapinya dengan guyonan yang menyebutkan bahwa mereka sepasang kekasih. Swit, switt. Aku pun tertawa geli melihat mereka. Tetapi mereka membalasnya dengan guyonan juga.

Karena saking puasnya untuk mengerjai mereka, tanpa sadar di hadapanku terdapat dinding kelas dan aku pun menabrak dinding itu hingga hidungku mengeluarkan darah. Sakitnya, bukan hanya sakit karena mimisan saja, tapi juga sakit karena malu ditertawakan teman-temanku yang melihat.

Dari pengalaman itu, aku mengambil pelajaran. Bahwa kita memalukan orang, tetapi suatu saat kita akan dipermalukan orang. Makanya jangan sampai kita memalukan orang. Huhuhu. Mengingat masa SD, membuatku teringat dengan sekolah Rahmat.

“Oh ya, gimana pelajaran di sekolah?” tanyaku.

“Tadi ada pelajaran olahraga dan Mamet main bola bersama teman-teman. Asyik banget Kak. Mamet bisa cetak empat gol ke gawang lawan.” Jawabnya dengan girang.

Aku tersenyum melihat tingkah Rahmat, dan aku tidak perlu heran dengan permainan sepak bolanya yang luar biasa.

“Sip, nanti Kakak tantang Mamet main sepak bola, Ok?” tantangku.

“Ok Kak.”

“Lalu gimana dengan persiapan murid teladan?”

“Tadi Mamet ketemu dengan Pak Rudi, katanya mulai hari ini Mamet harus mengurangi bermain untuk persiapan lomba. Dan mulai hari Senin, Mamet diberi tambahan jam pelajaran setelah pulang sekolah, selama satu jam.” Paparnya.

“Memang, untuk mencapai peringkat juara kita harus belajar dengan giat dan tidak menggunakan waktu dengan sia-sia, kecuali untuk pengembangan diri. Ingat nasihat dari Kakak, ya?”

“Yo’i, Kak.” Jawabnya dengan gaul.

“Wuih, yo’i? Belajar darimana bro?” jawabku tak kalah gaul.

“Hehehe, teman Mamet suka pake kata-kata itu.”

“Asalkan jangan kata yang kasar dan tidak sopan, yang Mamet tiru. Ok?”

“Ya, Kak.”

“Ok bocah, biar tambah pintar kita makan siang dulu.” Ajakku sembari menaruh handuk dan baskom yang telah kupakai, hingga mimisan yang mereda.

“Ok bro. Hehehe.” Jawab ia dengan candanya.

***

Tok. Tok. Tok.

Disaat aku sedang menyetrika pakaian, terdengar suara pintu. Rahmat dengan segera membukakan pintu. Saat dibuka, berdiri seorang wanita yang anggun dan berkarisma dengan senyum yang merekah serta rambut yang terurai indah. Ia adalah Ratih sang Bunga Desa.

Ratih membawa rantang tertutup, kemungkinan isi dari nampan itu adalah makanan untukku dan Rahmat.

“Maaf Mas Arkan, Ratih mengganggu.” Ucap ia dengan sopan.

Seketika melihat tingkah dari Ratih, hatiku berdebar kencang. Aku menutupi kekagumanku dengan tersenyum padanya, walau mungkin terlihat aneh.

“Loh Kakak? Itu kan baju kesayangan Kak Arkan?” tanya Rahmat memecahkan pandanganku pada Ratih.

Alangkah terkejutnya diriku bagaikan tersambar petir dan gemuruh halilintar, baju yang kusetrika telah hangus dan membuat salah satu baju kesayanganku bolong. Dengan lekas aku mencopot kabel setrika dari listrik.

Entah apa perasaan yang aku luapkan. Mungkin apabila tidak ada Ratih dihadapanku, pasti tingkahku akan sangat tak karuan. Mungkin juga apabila dibayangkan seperti anak kecil yang diambil mainannya dan merengek, karena baju yang gosong itu adalah baju penuh kenangan. Tetapi ini lain, rasa tak karuan itu harus terpaksa disembunyikan, hanya karena seorang Ratih yang ada dihadapanku.

“Eh, hemp ini. Tidak apa-apa, ini sebagai corak baju, biar tambah keren.” Jawabku sekananya.

“Yah Kak. Itu sih bukan tambah keren, tapi bajunya udah compang-camping.” Jawab Rahmat.

Lagi-lagi aku salah tingkah dengan keberadaan Ratih dihadapanku.

Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa?

“Mas, ini ada titipan dari Ibu. Syukuran ulang tahun.” Potong Ratih dengan senyum yang lembut dan menawan.

“Siapa yang Ulang tahun, Mba Ratih?” tanya Rahmat.

“Hari ini Mba ulang tahun, Mat. Doakan Mba ya, adik imut.” Balas Ratih sembari megelus lembut rambut Rahmat. Terlihat bagaikan sosok ibu.

“Wah, selamat ulang tahun, Mba Ratih. Semoga keinginan Kakak bisa terkabulkan.” Jawab Rahmat dengan ceria.

Alangkah nyamannya melihat Ratih tersenyum dan bahagia, dia sangat menyayangi Rahmat. Hal itu terlihat jelas dari cara pandangannya, cara berbicara, dan dari tingkahnya. Untuk pertama kalinya, aku menemukan wanita yang membuatku nyaman setelah ibu kandungku.

“Kak Arkan, kenapa tidak mengucapkan selamat ulang tahun ke Mba Ratih?” tanya Rahmat yang terlihat memiliki maksud lain menanyakan itu padaku.

“Oh ya, selamat ulang tahun ya Ratih.” Jawab singkatku. Mungkin apabila aku ngomong ini dan itu akan terlihat salah tingkah.

Ratih memberikan rantang itu pada Rahmat. Rahmat terlihat senang dan aku hanya tersenyum pada mereka. Melihat mereka bagaikan seorang ibu dan anaknya, dan lebih pantas lagi kalau aku yang jadi Bapak dari mereka.

“Mas, aku pamit pulang dulu.”  Sahut Ratih dengan ramah.

“Ya, terima kasih, Ratih. Sampaikan ucapan terima kasih kembali pada ibumu.” Jawabku dengan ramah.

“Terima kasih ya, Mba Ratih.” Sambung oleh Rahmat.

Setelah Ratih keluar dari rumah, perlahan Rahmat melihatiku sembari menahan tawanya. Aku paham maksudnya, Rahmat bermaksud menyindirku.

“Ada apa bocah?” tanyaku pura-pura tidak mengetahui maksudnya.

“Gak ada apa-apa, Kak. Kalau dilihat-lihat, Kak Arkan sama Mba Ratih cocok, loh.” Sindirnya.

“Cocok dalam arti apa tuh? Sebagai teman? Tetangga? Atau..”

“Istri.” Jawab Rahmat dengan singkat memotong perkataanku.

“Huss.” Balasku.

“Kenapa huss?” tanya Rahmat.

“Belum waktunya.” Jawabku sekenanya.

“Kapan waktunya, Kak?”

“Kapan-kapan.”

“Jadi beneran donk, Kak Arkan mau istri seperti Mba Ratih.”

“Menurut Rahmat?” tanyaku perlahan mendekati Rahmat.

“Cocok.” Jawab Rahmat singkat sembari menaruh rantang pemberian Ratih.

“Kenapa Cocok?”

“Tampan dan cantik.”

“Wah, kamu bisa saja.”

“Bisa-bisa saja.”

“Lalu Kak Arkan harus bagaimana?”

“Umur Kak Arkan dengan umur Mba Ratih sudah cukup untuk menikah, toh?”

“Jadi maksud Mamet, Kakak nikah dengan Mba Ratih?”

“Yoi, Kak.”

Lekas aku menutupi wajah Rahmat dengan bantal yang berada di dekatku, dengan canda dan tawa. Walau tidak pantas dikatakan Rahmat, tetapi perkataan dia ada benarnya juga. Ya, suatu saat bila hati jatuh pada sang Bunga Desa, aku akan melamarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s