Berbagi Pengalaman (4)

Standard

Pada kesempatan di artikel ini, saya akan berbagi pengalaman pada hari ini yang cukup membuat hati ini gerimis.

Jumat, 28 Juni 2013.

Saya mengawali hari ini dengan terbangun sekitar pukul empat lebih. Seperti biasanya, ketika saya terbangun selalu melihat waktu melalui hp yang terletak tak jauh dari tempat tidur. Saat melihat layar handphone, terdapat 4 pesan yang belum terbaca. Dari nomor yang tidak dikenal, yang mengirimkan sms berisi nomor rekening, sms tausiyah gratis dari aagym, serta dua sms dari keluarga.

 

mama m3

28/06/2013 02:45

“Assalammualaikum…

Arif td jam 12’n uu meninggal dunia..,

doain ya..,

smoga amal ibadah beliau d trima d sisi Allah Swt,amin..”

 

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un…

Buyut, ibu dari Mbah Putri telah kembali ke Rahmattulah tengah malam tanggal 28 Juni 2013. Hal tersebut cukup membuat saya terpukul.

Teringat saat SMA, saya bersekolah di SMA Negeri 1 Tegal. Menjadi seorang anak pindahan dari Sukabumi bertanah Sunda, menuju lingkungan baru bertanah Jawa. Selama di tegal, saya tinggal bersama kedua mbah (Mbah Kakung dan Mbah Putri) dan Buyut (ibu dari Mbah Putri).

Mungkin banyak yang heran, kenapa saya bisa tinggal bersama tiga orang yang telah berumur lebih dari 60 tahun dalam satu rumah. Ya, itulah pilihan yang saya ambil dengan matang ketika berada di SMP untuk bersekolah dan tinggal di Tegal walau pada awalanya orangtua kurang setuju, tetapi pada akhirnya dengan segala rayuan yang ada, saya diberikan izin untuk sekolah di mantan sekolah ibu di Tegal dan tinggal bersama mereka.

Disana, saya banyak menerima pelajaran tentang kehidupan, khususnya dari almarhumah buyut. Beliau terkadang menceritakan masa lalunya saat masa penjajahan Jepang, yang membuat saya seakan kembali ke masa itu. Teringat beliau selalu membangunkan saya saat adzan subuh berkumandang, mengajarkan amalan serta wirid harian yang selalu ia lakukan rutin, hingga candaan serta perilaku beliau yang membuat saya merasa senang di dekatnya.

Beliau juga pernah menghibur saya dengan sebuah lagu Jepang, yang masih ia ingat saat masa penjajahan yang keras itu. Entah judulnya apa, yang jelas saya masih menyimpan rekaman itu.

Miyuta okaeno sora akete. Watashi otakaku ya karakeba. Okichi no okichi no, kasuto suto, I bau arekeu …….” (titik-titik itu lirik yang lupa) Rekaman itu masih tersimpan di komputer rumah Sukabumi, ingin sekali segera mendengarnya. Walau raganya sudah tak ada. .

Waktu terus berlalu, hingga kelulusan SMA, beliau terlihat sangat sedih saat menghitung hari saya harus pulang ke Sukabumi untuk berjuang melanjutkan kuliah. Beliau malah menyarankan agar saya melanjutkan kuliah di Tegal. Bahkan beliau menyelipi sebuah kalimat tanya yang saat itu saya hanya menjawab dengan gurauan.

“kalo kamu pergi, uyut mau cerita sama siapa?”

Itulah ucapan beliau, yang seakan-akan tersirat bahwa dia sangat kehilangan.

Selain itu, terkadang di setiap perbincanganku dengan beliau, ia mengatakan. . .

“Kalo uyut sudah gak ada, jangan lupa sama uyut. Kirim doa untuk uyut, Yasin, alfatihah..”

Dan ketika hari-H, saya meninggalkan Tegal untuk kembali merantau ke Sukabumi, jelas ucapan perpisahan dari beliau dengan tangisan serta pelukan yang erat yang hingga saat ini gambaran perpisahan itu masih teringat jelas dalam benak ini.

Dan Jumat, 28 Juni 2013 adalah lembaran akhir dari kisah yang diukir oleh buyut. Segala ilmu, pengalaman, dan kasih sayangmu akan selalu saya ingat.

Setiap yang berjiwa pasti akan meraskan kematian. Hidup dan mati ini adalah takdir Allah, manusia hanya tinggal menunggu tanggal mainnya..

Semoga hidup tenang, Buyut….

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s