Bawang Putih in The Dongeng

Standard

DRAMA MUSIKALISASI

 

Judul  : Bawang Putih in the dongeng

Karya : Muhammad Arif Ali Wasi

 

Prolog

Setting di wilayah pedesaan, audio suara kicauan burung dan desiran air terjun, slide yang ditampilkan di layar berupa gambar sungai yang indah. Di dalam panggung terdapat beberapa aktor, yaitu Bawang Putih dan tiga teman wanita sebayanya, yang sedang memperagakan nyuci baju layaknya iklan sabun colek.

Narator

Di suatu desa nan jauh di mata, hiduplah seorang gadis manis bernama Bawang Putih. Ia hidup bersama saudaranya yang bernama Bawang Merah dan Ibu Tirinya yang bernama Bawang Bombay. Sepeninggalan ayah kandungnya, ia hidup dalam tekanan bersama kedua Bawang jahat tersebut. Kebahagiaan hiduppun selalu ia cari, dengan cara berkumpul bersama teman-temannya, menjadi anak nongkrong, bahkan dengan menyuci bajupun ia akan sangat bahagia.

Inilah kisah hidup sang Bawang Putih yang terangkai dalam sebuah kisah dongeng.

Lagu Ello-Buka Semangat Baru dibawakan oleh Bawang Putih dan grup Paduan Suara.

Hello teman semua, ayo kita sambut hari baru tlah tiba.

Apa yang kurasakan kuingin engkau tau dan berbagi bersama.

Buka kita buka hari yang baru, sebarkan semangat langkah kedepan.

Jadi pribadi baru.

Buka kita buka jalan yang baru, tebarkan senyum wajah gembira.

Dalam suasana baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

Dengarkan hatimu, pastikan pilihanmu,

esok mentari kan datang, bawa sejuta harapan.

Kita jumpa di sana, berbagi bersama,

dan kita tau, pelangi yang satukan kita.

Buka kita buka hari yang baru, sebarkan semangat langkah kedepan.

Jadi pribadi baru.

Buka kita buka hari yang baru, sebarkan senyum tampil ke depan.

Jadi pribadi baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

(end)

Bukalah bukalah semangat baru.

Bukalah bukalah semangat baru.

Bukalah semangat baru.

Musik selesai.Di dalam panggung terdapat Bawang Putih dengan tiga orang gadis. Mereka berempat menyanyikanlagu Lir Ilir.

Gadis 1              : Hari ini cerah beud ya. Banyak suara kicauan burung yang merdu menemani kita mencuci di sungai. Ihhh, bikin laper deh. Ada makanan ga?

Gadis 3              : Loh nuansa indah kok malah lapar?

Gadis 1              : Kan lapar, jeng.

Gadis 2              : (suara gadis 2 dengan logat khas) Ya udah, tuh… ada yang kuning-kuning di kali. Mungkin bisa dimakan.

Gadis 1              : Ih, itu mah tokai atuh. Kejam deh.

Gadis 2              : Setidaknya mirip pisang goreng. Hehehe.  (cengengesan)

Bawang Putih   : Sudah-sudah jangan gaduh. (suaranya di lembutin dan ada audio yang menandakan pesona diri) Hari ini memang indah, dan seperti biasa banyak cowok tampan yang memperhatikan kita saat sedang menyuci. (melirik penonton dan tersipu ‘malu-maluin’.).

Gadis 1              : Bawang Putih, aku tau kamu memang primadona diantara kita, banyak banyak orang yang mencarimu, banyak orang yang memberimu money alias uang, bahkan hari ini banyak sekali pakaian yang kau terima. Tapi plis deh, Bawang Putih beritau kami, apa resepmu itu.

(Gadis 1,2,3 berbaris dan memasang tampang memelas)

Gadis 1,2,3        : He,em.

Bawang Putih   : (menghembuskan nafas panjang) Baiklah, jika kalian memaksa. Aku akan kasih tau alasannya. Tapi kalian jangan beritau hal ini pada ibu tiriku si Bawang Bombay dan saudara tiriku si Bawang Merah.Bagaimana deal or no deal?

Gadis 1,2,3        : Deal.

Bawang Putih   : Wani piro? (Gadis 1,2,3 mau marah tapi Bawang Putih segera memotong) ya, ya, ya. Bercanda kok… Baiklah sebenarnya aku…

(Gadis 1,2,3 memasang perhatian penuh)

Bawang Putih   : Aku…

(Gadis 1,2,3 memasang perhatian penuh lagi)

Bawang Putih   : Aku…

(Gadis 1,2,3 memasang perhatian penuh dengan ekspresi lebay)

Bawang Putih   : Aku buka jasa laundry. Lumayan dapet penghasilan, lalu banyak yang kenal, banyak ini, banyak itu, bla, bla, dan bla.(dengan tampang polos tanpa dosa)

(Gadis 1,2,3 jatuh bersamaan, karena rahasia yang disimpan Bawang Putih tidak sepenting yang mereka harapkan. Gadis 1, 2, 3 bersiap mau pergi dengan merapikan pakaian yang dicucinya.)

Bawang Putih : Loh sudah selesai nyuci ya?

Gadis 1, 2, 3    : Iya. (kompak dengan menjawab ketus lalu mereka keluar panggung).

Bawang Putih : Ya udah, titi dj ya.

Gadis 1, 2, 3   : TITI DJ????? (melihat sekitar seperti mereka mencari-cari artis idolanya itu dengan nafas tersengal-sengal)

Bawang Putih : Ckckck, maksudku hati-hati di jalan disingkat jadi Titi DJ.

(Gadis 1, 2, 3 memasang ekspresi beranekaragam dengan pasrah mengiringi mereka keluar panggung. Setelah itu fokus ke Bawang Putih yang merapikan cuciannya dan disebunyikan cuciannya di balik benda di panggung)

(Lampu kelap-kelip, audio petir, serta nuansa tegang timbul mengiringi Bawang Bombay memasuki panggung.Ibu Tiri itu memandang si Bawang Putih dari sudut panggung.Musik mulai, Petualangan Sherina-Kertarajasa.

Bawang Bombay   : Namaku Si Bawang Bombay

Aku bagai seorang ratu

Apa yang aku inginkan

Pasti dapat terlaksana

Aku sungguh luar biasa

Oh tiada tandingannya

Aku yang paling berkuasa

Semua orang takluk padaku

Bawang Bombay  : Bawang Putih (audio petir), jadi selama ini kau diam-diam mencari uang tanpa sepengetahuanku, hah?

(Bawang Putih berdiam diri sambil ketakutan)

Bawang Bombay  : Bawang Putih !! (audio petir) jawab pertanyaan saya. (silet mode on)

(Bawang Putih berdiam diri sambil ketakutan yang berlebihan)

Bawang Bombay  : BAWANG PUTIH !!!! (audio petir yang menjadi-jadi)

Bawang Putih       : Hiks-hiks.. (menangis gaya anak kecil)

Bawang Bombay  : Eh, dia malah nangis. (nunjuk Bawang Putih kepada penonton). Permasalahan disini, saya tidak melarangmu untuk bekerja, yang jadi permasalahannya adalah kamu tidak memberi penghasilanmu pada saya.Mengerti? (suara audio petir agak lama dan menjadi-jadi). Ih petirnya berisik banget deh. Sstt…. (kepada audio petir).

Bawang Bombay  : Ini lagi, nangis mulu dari tadi.

Bawang Putih       : Aku takut. (merengut)

Bawang Bombay  : Memang dalam cerita ini kamu harus takut sama saya!

Bawang Putih       : Aku takut petir. (merengut ala Sule)

Bawang Bombay  : As-ta-ga-na-ga-bo-nar-ja-di-dua. Gua kira ente wedi karo abdi. Ahh sudah, sekarang saya tidak mau tau! Serahkan uang hasil kerjamu sekarang juga! Mana?!

Bawang Putih       : Hm, gimana kalo kita diskusi sebentar. (gaya so demokratis)

Bawang Bombay  : Tidak ada posisi nawar, dek!

(Audio warkop mulai.Bawang Putih cemberut maksa, dengan ekspresi humor.Lalu balik badan untuk mengambil uang di selipan bajunya dan memberikan uang selembar demi selembar pada Bawang Bombay.Bawang Bombay dengan segera merampas uang di tangan Bawang Putih).

Bawang Bombay  : Baiklah segini cukup untuk menutupi kemarahanku hari ini. Kalo kamu ada uang jangan lupa beritau saya ya. Hohoho. (keluar panggung sambil tertawa, di tengah tawanya sempat tersendak hingga terbatuk. Tetapi setelah itu, tawanya kembali menyaring hingga ia keluar panggung).

(Lagu Mocca-Hanya Satu mulai. Bawang Putih dan Paduan Suara )

Bawang Putih       :  Hanya satu pintaku
Tuk memandang langit biru
Dalam dekap seorang ibu

Hanya satu pintaku

Tuk bercanda dan tertawa

Di pangkuan seorang ayah

Apa bila ini

hanya sebuah mimpi

(Datang Pemuda menghampiri Bawang Putih, dan melihatnya yang bernyanyi di tengah panggung.)

ku selalu berharap

dan tak pernah terbangun

Hanya satu pintaku

Tuk memandang langit biru

Di pangkuan ayah dan ibu

Pemuda                 : Bawang Putih.

Bawang Putih       : Pemuda. (tersipu malu dan senang)

Pemuda                 : Kamu kemana saja?

Bawang Putih       : Aku… (ragu-ragu) Kamu gak perlu tau. (sedih)

Pemuda                 : Bawang kamu tau? berabad-abad aku menunggu, hingga menembus ruang dan waktu. Aku rela menunggumu di tengah badai yang menghempaskan badanku hingga ke ujung dunia yang fana nan jauh di mata. Walau tsunami menerjang sampai badai matahari 2012 menerpa. Aku tetap menunggumu. Itu semua hanya untuk mendengar kabarmu, bawang?

Bawang Putih       : Aku gak ada pulsa buat ngabarin kamu….

Pemuda                 : Tapi tanpa kabarmu, aku galau….

Bawang Putih       : Baiklah maafkanlah aku, pemuda.

Pemuda                 : Maafkan aku juga, Bawang. Sejujurnya aku disini menemuimu ingin memberimu sesuatu. (mengeluarkan kotak cincin dari dalam sakunya). Maukah kau… (audio suara detak jantung)

Bawang Putih       : Iya? (bertanya dengan tersipu malu)

Pemuda                 : Maukah….

Bawang Putih       : Iya? (dengan logat yang berbeda)

Pemuda                 : Maukah kau… (terpotong)

(Tiba-tiba Bawang Merah memasuki panggung, audio musik tegang mulai.)

Bawang Merah     : Tunggu. (berjalan bulak-balik dihadapan Bawang Putih dan Pemuda sambil cemberut sekalian pose) Pemuda, kamu tega banget sama aku! kamu selingkuh dari aku, kamu jahat! Jahat! Jahat! (menangis anak kecil)

Bawang Putih       : Kamu selingkuh? (marah pada pemuda)

(Pemuda bingung, saat mau menjawab tiba-tiba disela)

Bawang Merah     : Dan teganya, kamu selingkuh dengan saudara tiriku, si Bawang Putih! Bawang Putih, kamu kok kejam sekali sama aku. Dalam cerita sebenarnya, kan harusnya aku yang kejam bukan kamu. (melanjuti nangisnya)

(Pemuda bingung, saat mau menjawab tiba-tiba si Bawang Putih mengeluarkan kertas di balik bajunya.)

Bawang Putih       : Apa kita salah skrip naskah ya? (memperhatikan kertas naskah dan si Bawang Merah ikut nimbrung membaca naskah yang dipegang Bawang Putih)

Bawang Merah     : Bener kok. (tampang meyakinkan)

Pemuda                 : Sebentar (terpotong)

Bawang Putih       : Cukup! (melihat Pemuda dan menahan nangis. Lalu pergi dengan berlari yang terlihat dibuat-buat)

Pemuda                 : Bawang, tunggu! (belari mengejar Bawang Putih. Di sudut panggung berhenti dan menoleh Bawang Merah sembari marah) Hei, Bawang Merah!!!

Bawang Merah     : APAA, HAH???????!!!!!! (teriak cempreng, dan memasang muka garang)

Pemuda                 : (memasang muka takut) Hem, nggak. Nggak pa-pa.Lari terbirit-birit.

(Dalam panggung hanya ada Bawang Merah)

Bawang Merah     : Yang penting, aku berhasil merusak kebahagian si Bawang Putih. (audio kuntilanak)

(Perlahan satu persatu lampu mati, hanya ada satu lampu kecil yang menyala mengiringi narator. Audio musik piano yang sendu mulai. Layar di slide pemandangan hutan)

Narator

Ucapan yang diterlontarkan oleh Bawang Merah, membuat Bawang Putih menangis dan memilih untuk pergi dari lingkungannya. Ia sungguh kecewa dengan Pemuda yang telah mempermainkan dirinya, hingga ia pergi menjauhinya dan mencari kebahagiaan yang baru. Ia pergi ke kota seberang hingga rela dengan menyusuri hutan seorang diri.

(Setting panggung dengan sebuah lampu ajaib di tengah panggung. Musik Agnes Monica-Karena Ku Sanggup mulai)

Bawang Putih       : Biarlah ku sentuhmu

B’rikanku rasa itu

Pelukmu yang dulu

Pernah buatku

Ku tak bisa paksamu

‘tuk tinggal di sisiku

Walau kau yang selalu sakiti

Aku dengan perbuatanmu

Namun sudah kau pergilah

Jangan kau sesali

Karena ku sanggup walau ku tak mau

Berdiri sendiri tanpamu

Ku mau kau tak usah ragu

Tinggalkan aku

Huuu..kalau memang harus begitu

(Bawang Putih melihat lampu ajaib, di tengah panggung lalu mengambilnya.Terlihat mimik heran di wajahnya.)

Bawang Putih       : Teko air? Jangan-jangan ini lampu ajaib, dan kalo aku gosok-gosok akan keluar jin yang akan mengabulkan semua permintaanku. (bawang Putih mengusap lampu ajaib itu, lalu audio kemunculan peri terdengar)

(Muncul peri dari balik tangga panggung yang sebelumnya tidak terlihat oleh penonton)

Bawang Putih       : Loh kok keluarnya peri jadi-jadian sih?

Peri                        : Hehehe, jin penghuni lampu ini lagi izin pesiar, sebagai gantinya akulah yang keluar dari lampu ini karena kamu telah menggosok-gosok lampu ini.

Bawang Putih       : Oh aku tau, sekarang peri sedang piket jaga ya, makanya ga bisa izin pesiar?

Peri                        : Hehehe, kurang lebih begitchu. Baiklah, ada yang bisa saya bantu nyonya….? (menanyakan nama)

Bawang Putih       : Bawang Putih.

Peri                        :  Ya, nyonya Bawang. (melirik penonton) nama yang aneh. (mengucapkan pada penonton)

Bawang Putih       : Begini peri, ……………………………………….. (dialog kosong diisi hanya dengan gerakan dan audio pengiring) begitu, bagaimana kumaha pripun? Apakah peri bisa bantu?

Peri                        : (Nangis terharu dengan gaya humor) Malang benar nasibmu.

Bawang Putih       : Ih kok peri jadi nangis. Ni aku ada permen buat peri jadi jangan nangis ya.

(Peri melihat permen dan terlihat dengan ekspresi kecewa, lalu nangis lagi)

Bawang Putih       : (manyun) nih ada uang. (menunjukan uang seribu)

Peri                        : (lihat seribu dan menunjukan pada penonton, ekspresi nolak lalu memberi lagi pada Bawang Putih, nangis lagi deh)

Bawang Putih       : (manyun, balik badan ngambil 100rb di selipan sarungyang dipakainya, balik bdan lagi) nih!! (terpaksa)

Peri                        : (menunjukan uang 100rb pada penonton, ekspresi nangis berubah jadi gembira) Horee… Baiklah, peri bisa kabulkan keinginan Bawang Putih. Dengan cara, kamu pergi ke tengah hutan untuk mencari sebuah rumah yang dihuni oleh tujuh orang kurcaci. Disitu kamu akan menemukan kebahagiaan yang selama ini kamu cari, tapi ingat pepatah berakit-rakit dahulu berenang-renang kemudian.

Bawang Putih       : Ih aneh, udah bikin rakit kok malah renang. Tulalit deh.

Peri                        : Heh! Itu artinya bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian. Jadi dalam perjalanan, kamu akan menemukan rintangan yang akan kamu hadapi, jika kamu berhasil melewati rintangan itu, maka kamu pasti akan menemukan kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang sangat bahagia dengan membawa kebahagiaan yang bahagia nan senantiasa bahagia. (saat penjelasan dialog ini si Bawang Putih mengangguk-anggukan kepala) Paham kan?

Bawang Putih       : Kagak. (tampang muka bloon)

Peri                        : Heh! Ya sudah, ini ada garam, trasi, dan timun. Saya yakin di dalam perjalanan kamu akan membutuhkan benda-benda ini.

Bawang Putih       : Buat apa peri?

Peri                        : Buat makan sama nasi uduk! (kesel) ya bukanlah, nanti di tengah perjalanan kamu akan menemui berbagai rintangan termasuk bersiaplah bertemu dengan seekor monster hijau, rayulah monster itu agar bisa memakan makanan ini, jika tidak kamu akan di sandera oleh dia dan malah di bawa ke KUA. Hati-hati.

Bawang Putih       : Oh.

Peri                        : Baiklah waktu peri tidak banyak, peri patuhi jam malam dulu ya alias mau tidur.

Bawang Putih       : Ya udah, makasih ya Peri. Nanti bangun jangan lupa pencet alarm pagi. Kan piket jaga.

Peri                        : Iya-iya…. (audio peri menghilang)

(Bawang Putih sendiri di panggung, Cuma beberapa langkah kedepan, datang Buto Ijo dengan pakaian hijau, celana hijau, dan kulit serba hijau. Menghampiri Bawang Putih dengan audio suara laki-laki ketawa dan audio musik tegang)

(Bawang Putih bengong terpana dan terpatung, si Buto Ijo mencoba menakut-nakuti dengan suara ketawanya yang seram kepada bawang Putih, tetapi ekspresi bawang Putih tetap terpana dan terpaku di tempat. Kejadian berulang-ulang hingga Buto Ijo kesal)

Buto Ijo                 : Yah, kagak takut. (logat betawi)

(Bawang Putih membalas dengan suara audio kuntilanak, sehingga Buto Ijo ketakutan)

Bawang Putih       : Yah cemen, hei Buto Ijo! Tadi aku ketemu peri, menyuruhmu untuk memakan ini. (menunjukan garam, trasi dan timun)

Buto Ijo                 : Buat apa?

Bawang Putih       : Aku juga kurang tau, (tampang bingung yang so manis) Mungkin dia tau kau lapar, makanya diberi ini. Makan yah?

(Audio musik iseng mulai)

Buto Ijo                 : Kagak.

Bawang Putih       : Ayo makan. (kayak nyuruh anak kecil makan)

Buto Ijo                 : Kagak. (intonasi yang berbeda)

Bawang Putih       : Makan-makan-makan.

Buto Ijo                 : Kagak-kagak-kagak.

Bawang Putih       : Nang-ning-ning-nang-ning-kreng, ayo-ayo-ayo makan?

Buto Ijo                 : Kagak-kagak-kagak.

Bawang Putih       : Makan!

Buto Ijo                 : Ihh, kagak!

Bawang Putih       : Huft, dasar anak kecil. Makan aja susah. Lihatlah penderitaan diluar sana, ada rakyat yang cari makan saja susah, dan ini udah dikasih makan gratis malah nolak. Syukuri apa yang diterima, Jo. (tampang demokratis)

Buto Ijo                 : (tampang nangis terpaksa) Iya-iya aku makan. Hiks.

(Buto Ijo mendekat dan duduk di tengah sambil memakan makanan yang diberikan Bawang Putih)

Bawang Putih       : Nah, gitu donk. Anak pintar. (mengelus kepala Buto Ijo)

(Audio kentut, pret. Bawang Putih mengernyitkan dahinya, mendengar audio kentut berulang-ulang)

Bawang Putih       : Ih!!! Jorok.. (menutupi hidungnya)

Buto Ijo                 : Aduh, gawat mau pup dulu. Kamu jangan kemana-mana, tunggu disini! (audio kentut yang keras) Aduhhhhh!!!! Idah di ujung! (audio kentut) Ah!!! (lari terbirit-birit ke belakang panggung).

Bawang Putih       : Malang sekali. Baiklah, aku harus melanjutkan perjalanan.

Narator                  : Bawang Putih dengan mantap memulai perjalanannya. Dengan berani dan tanpa rasa takut, ia menyusuri hutan terlarang seorang diri, Tanpa ia sadari tiba-tiba seorang nenek lusuh datang mendekati Bawang Putih.

(audio tegang mulai)

Nenek sihir            : Hehehehe. (tepat dibelakang Bawang Putih)

(Bawang Putih merespon melihat sekitar, tanpa melihat dibelakangnya)

Nenenk sihir          : Hehehehe. (lagi)

(Bawang Putih melihat kebelakang,tapi merspon lambat. Diam dahulu melihat nenek sihir, lalu teriak. Nenek sihir memasang ekspresi terkejut sembari menutupi telinganya)

Nenek sihir            : Hey anak muda, sedang apa kau disini?

Bawang Putih       : Hey anak tua, kenapa kau tanya-tanya?

Nenek sihir            : Hehehe, berani sekali kau bertanya seperti itu padaku. Hehehe, kau tidak tau siapa aku?

Bawang Putih       : Memangnya kau siapa?

Nenek sihir            : Aku adalah penguasa hutan terlarang ini, wahai anak muda.

Bawang Putih       : Penguasa? Tunggu kalau begitu nenek tau seluk beluk hutan ini. Nenek yang cantik, bisakah aku meminta pertolongan?

Nenek sihir            : Hehehe, (mengeluarkan kaca dari bajunya, lalu mengaca dirinya) Ternyata benar kata suamiku si Kakek Sihir, aku masih terlihat cantik.

Bawang Putih       : (Hem,,, batuk yang menjadi-jadi)

Nenek sihir            : Hehehe, saya lupa. Pertolongan apa yang kau pinta dariku wahai anak orang.

Bawang Putih       : Tadi aku bertemu dengan peri, dan ia memberitahuku dengan menyusuri hutan terlarang ini, aku akan mendapatkan kebahagiaan yang selama ini aku cari. Bisakah kau menuntunku menyusuri hutan ini?

Nenek sihir            : Hohoho, baiklah sekarang kamu ikut denganku. Akan kutunjukan jalan menuju kebahagiaan itu.

(Audio petir menyaring bunyi disertai musik tegang, Bawang Putih memasang muka takut. Lighting dimainkan, masuk 4 orang pria ke dalam panggung dengan pakaian serba hitam dan kaca mata hitam. Mengelilingi si Bawang Putih yang berada di tengah panggung. Persiapan lagu Lengser Wengi disertai paduan suara)

Nenek sihir             : Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo Tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro
aku lagi bang wingo wingo
jin setan kang tak utusi
dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet

(audio kuntilanak. Bawang Putih yang sedari tadi menggelar sajadah dan bersimpuh menghadap penonton dengan sikap memohon doa)

Bawang Putih       : (Sikap doa berlebihan)

(nenek sihir yang dari tadi cekikikan,  jadi memfales suara ketawanya)

Nenek sihir            : Ndak mempan.

(audio tegang menjadi-jadi, ternyata muncul pocong putih dan kuntilanak dari sisi panggung. Audio suara pocong dan kuntilanak terdengar. Nenek sihir ketakutan dan lari terbirit-birit di tengah panggung, stelah itu keluar. Dan 4 orang pria hitam, yang dari tadi ga tahan untuk menjaga image cool akhirnya ngacir juga.)

(Bawang putih yang dari tadi berdoa ala Fitri Tropika, akhirnya membuka mata dan melihat sekitar. Perlahan dengan wajah gembira, ia melirik sekitar tak ada siapapun)

Bawang Putih       : Wah, sesuatu. aku kira, bakal diculik, disandera, dibekap, lalu dijual, lalu dibawa ke luar negeri, jadi pembantu, pembantu Justin Bieber, pdkt, pacaran, nikah, punya anak, dan akan hidup berbahagia. Huhuhu. Cukup, mungkin bukan takdirku seperti itu, aku harus menyusuri hutan ini untuk menemui kebahagiaan kata si Peri jadi-jadian itu.

  Narator

Pada akhirnya Bawang Putih terus berjalan menyusuri hutan belukar dan semak-semak belukar, hingga ia sampai ke sebuah rumah yang dihuni oleh tujuh orang kurcaci. Dan detik-detik menuju kebahagiaanpun akan ia dapat.

(setting panggung dengan sebuah kursi di tengah panggung, pot bunga yang bertebaran, dan slide yang ditampilkan adalah sebuah rumah yang indah. Di dalam panggung sudah ada sosok pangeran yang terbaring di atas kursi dan 5 orang kurcaci yang sedang melakukan pekerjaan serta 2 orang kurcaci sedang merawat pangeran yang tertidur di bangku. Bawang Putih masuk dari samping panggung.)

Kurcaci 1               : Kurcaci 3 (sebut nama), musrikkkkkkkkk……

(lagu Iwa peye-trio macan  mulai. Dance menyesuaikan)

Bawang Putih       : Hem, permisi. (ragu-ragu dengan suara pelan)

(Tidak ada respon dari 7 kurcaci)

Bawang Putih       : Permisi. (ucapan yakin)

(Semua kurcaci berhenti aktivitas dan semua menoleh pada Bawang Putih. Ekspresi kurcaci seperti senang dengan kehadiran bawang Putih, merekapun satu sama lain saling berbisik dan akhirnya mereka berkumpul membelakangi Pangeran.)

Bawang Putih        : Mohon izin sebelumnya, kedatanganku ke sini atas instruksi yang diberikan oleh peri.

All Kurcaci            : Peri?? (kaget dengan ekspresi beraneka ragam)

Bawang Putih        : Iya, memang kenapa ya?

(Semua Kurcaci berembug menghadap penonton dan membelakangi Bawang Putih)

Kurcaci 1               : Akhirnya waktu yang kita tunggu-tunggu datang juga.

Kurcaci 2               : Akhirnya sang Putri yang membangunkan Pangeran datang juga.

Kurcaci 3               : Akhirnya pangeran bisa terbangun dari tidur lelapnya.

Kurcaci 4               : Akhirnya kutukan itu akan berakhir.

Kurcaci 5               : Akhirnya kita dapat hidup dengan bahagia.

Kurcaci 6               : Akhirnya kita dapat hidup dengan bahagia.

Kurcaci 1,2,3,4,5   : (menggeplak kepala Kurcaci 6) Udah, ndul.

Kurcaci 7               : Akhirnya (ucap dengan yakin, ucapannya tertahan selama tiga detik dan terdengar suara audio kentut, prêt) Aku kebelakang dulu, mau pup. (sambil memegang pantatnya dan lari terbirit-birit)

(Kurcaci 1,2,3,4,5,6 selesai berembug, lalu menghadap Bawang Putih yang dari tadi melong melihat kurcaci rapat.)

Kurcaci 1               : Kurcaci 2 (sebut nama), tolong ambilkan buku mantra itu.

(Kurcaci 2 langsung lari mengambil Buku Mantra yang sudah tersimpan di sudut panggung lalu memberikannya pada Kurcaci 3)

Kurcaci 1               : Wahai Putri Salju, kamu datang ke tempat yang tepat.

Bawang Putih        : Sebentar. Aku ini bukan putri salju.

Kurcaci 5               : Setidaknya kau disuruh peri untuk ke tempat ini bukan?

Bawang Putih        : Iya (tampang bingung)

Kurcaci 4               : Jadi selamat, sekarang kau berubah nama jadi Putri Salju.

Bawang Putih        : Oh gitu yah? (ketawa maksa)

Kurcaci 1               : Begini Putri, lihatlah Pangeran yang tertidur di atas bangku itu. Dia tertidur sudah cukup lama. Ia di mantera oleh Cinderella, karena ia tidak mau menikah dengan Cinderella.

Kurcaci 3               : Iya, bayangkan saja. Cinderella dengan belek di mata dan bulu ketek kemana-mana.Siapa yang mau?

Kurcaci 1               : Untuk itu, kami meminta peri agar membawakan seorang wanita yang baik hatinya untuk membangunkan sang Pangeran.

Kurcaci 6               : Iya, dan kau lah yang datang.

Bawang Putih        : Terus apa yang harus aku lakukan?

(Kurcaci 1 menyuruh Kurcaci 3 memberikan buku mantra dan membukakan halaman tengah untuk dibaca oleh Bawang Putih.

Kurcaci 1               : Nyanyikanlah lagu itu untuk Pangeran, niscaya pangeran akan bangun.

(Lagu belum terpikirkan, ada ide?)

(Pangeran terbangun dari tidurnya, semua kurcaci senang berlebihan.)

Pangeran                : Kau kah yang membangunkan aku?

Bawang Putih        : Iya, Pangeran.

Pangeran                : Putri Salju, maukah kau mendengar perkataanku?

Bawang Putih        : Pangeran tapi aku bukanlah Putri Salju, aku adalah Bawang Putih.

Pangeran                : Bawang? Bagaimana dengan harga Bawang di pasaran?

Bawang Putih        : Melonjak naik, Pangeran. Padahal harga BBM tidak jadi naik.

Pangeran                : Kau tidak usah memikirkan itu, Putri. Yang pasti kau akan hidup bahagia denganku.

(Sebelumnya audio romantis berubah menjadi audio petir mengiringi Pemuda datang bersama Bawang Bombay dan Bawang Merah.)

Pemuda                  : Bawang Putih, jadi kamu udah berpaling dariku? (terharu)

Bawang Putih        : Tidak, kamu salah paham. (memelas) Tunggu! (menyadari sesuatu) bukankah kamu yang diluan selingkuh dariku?

Pemuda                  : Kamu salah, Bawang. Aku selalu tetap micentaimu (terpotong)

Bawang Putih        : Micen tai??

Pemuda                  : Maksudku mencintaimu.

(Pangeran bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Bawang Putih yang sedang berbicara dengan Pemuda.Pemuda dan Bawang Merah kaget.)

Pemuda & BM       : Paijo?!

(Semua yang ada di panggung terpaku selama tiga detik)

Bawang Bombay   : Bawang Merah, kamu kenal dia?

Bawang Merah      : Iya mamah, dia itu Paijo. Kekasihku yang pernah ceritain ke mamah.

Bawang Putih        : Dia bukan Paijo, dia adalah pangeran. (menunjuk Pangeran)

Pangeran                : Baiklah, aku akan ceritakan hal yang sebenarnya. Begini, sebenarnya aku… (terpotong)

Semua yang ada di panggung kecuali Bawang Merah dan Pangeran            : HUAAPAAAAHHHH??!!!!!! (terkejut)

Pangeran                : Belum diceritain.

(Semua langsung bersikap normal dan memasang telinga untuk mendengarkan Pangeran)

Pangeran                : Sebenarnya saya bukanlah Pangeran.

All, kec Pe & BM  : HUAAPAAAAHHHH??!!!!!! (terkejut)

Pangeran                : Boleh saya lanjutkan? (merasa terganggu)

(Semua langsung hening, walau dengan raut muka terkejut mereka langsung mendengarkan ucapan yang akan disampaikan Pangeran)

Pangeran                : Dialah pangerannya. (menunjuk pemuda)

All, kec Pe & BM  : HUAAPA (langsung menutupi mulut masing-masing)

Kurcaci 1               : Pangeran apa maksud semua ini?

Pangeran                : Sang pangeran yang sesungguhnya ingin menemui gadis yang dicintainya di sebuah desa, tetapi dia sengaja melepas atribut dia sebagai pangeran. Karena dia tidak ingin masyarakat desa heboh mendengar pangeran melamar gadis desa. Dan akhirnya kita bertukar posisi untuk sementara.

(Kurcaci 7 masuk)

Pemuda                  : Benar, ini semua hanya untukmu bawang Putih.

(Bawang Putih tersipu malu dan Kurcaci 7 jadi sasaran pemukulan Bawang Putih.Tiba-tiba terdengar audio kentut dan kurcaci 7 kembali keluar panggung. Pangeran dan Pemuda menunduk dihadapan Bawang Merah dan Bawang Putih )

Pangeran dan Pemuda  : Bawang, menikahlah denganku.

(Musik Endless Love  mulai. Bawang Putih dan Bawang Merah tersipu malu)

Bawang Merah dan Bawang Putih : Iya pangeranku.

(Suasana ceria di panggung tergambarkan, di slide yang ditampilkan terdapat kembang api. Di atas kursi penonton berhamburan kertas warna-warni dan balon yang berhamburan ke kursi penonton. Audio petasan dan kembang api mewarnai panggung, dan lirik lagu Glen mengakhiri drama musikalisasi)

Narator

Dan pada akhirnya Bawang Putih dan Bawang Merah menemukan kebahagiaan dengan menemukan pasangannya.Inilah kisah hidup yang romantic dari 4 sejoli yang mencari cinta.

~~~~THE END~~~~

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s