Monthly Archives: January 2012

Menggenggam Dunia – (5) Tegar

Standard

Raja siang akan pergi ke peraduannya, suasana sekitar pemakaman sangat tenang dan hangat. Sesekali kicauan burung dengan merdu mengiringi proses pemakaman.

Tuhan Maha Kuasa atas segala sesuatu, daerah sekitar pemakaman menggambarkan bahwa alam menerima Ibu Sri, indah sekali dan penuh hikmat menghapuskan kesedihan semua orang.

Ini adalah sebuah pelajaran lagi buatku, semenjak tinggal di sebuah pedesaan. Apabila seseorang yang disayangi meninggalkan kita, lebih baik kita ikhlaskan dan serahkan semua kepada Tuhan Yang Maha pengatur kehidupan, karena ini semua merupakan takdir-Nya.

Aku melihat Rahmat sudah menerima kematian ibunya, dia tegar dan berusaha tersenyum kepada tetangga yang mengucapkan belasungkawa kepadanya.

Sungguh hebat bocah berkulit putih berumur delapan tahun, dalam waktu beberapa jam telah mengikhlaskan kepergian sang Ibu, yang tiada lain adalah satu-satunya keluarga yang Rahmat miliki.

Berbeda dengan diriku, baru menerima dan mengikhlaskan kepergian ibu dalam waktu dua bulan. Padahal aku masih memiliki ayah, dua kakak, dan sanak saudara yang lain.

Aku teringat akan tujuanku datang ke rumah Rahmat, bahwa aku ingin membiayai Rahmat untuk bersekolah. Lalu aku harus minta izin pada siapa? Dan tinggal dengan siapa Rahmat, sepeninggalan ibunya? Lebih baik setelah pemakaman ini, aku diskusikan pada Rahmat.

Kali ini, aku melihat Rahmat memandang jenazah ibunya tanpa kedip, saat Ibu Sri menuju liang lahat. Kedua mata Rahmat terlihat merah menahan air mata. Betapa pedih bila aku berada pada posisinya. Kematian datang kapan saja tanpa pamit, baru saja tadi pagi aku melihat Rahmat dalam dekapan Ibu Sri, tetapi pada sore ini beliau telah meninggalkan Rahmat.

Proses pemakaman telah usai, beberapa yang hadir, satu per satu meninggalkan komplek kuburan. Aku mendekati Rahmat yang sedang berada di samping Pak Ustad dan keluarga Ibu Nina.

“Maaf, bisa saya bicara dengan Rahmat.” Izinku pada Pak Ustad dan keluarga Ibu Nina.

“Oh, silahkan.”

Aku mengajak Rahmat mengobrol dan duduk di bawah pohon yang tak jauh dari tempat pemakaman. Ia menurutiku.

“Mamet, Kakak turut berduka cita atas kepergian ibumu.” Ucapku pelan.

“Makasih, Kak.” Jawabnya.

“Sebenarnya Kakak punya keinginan untuk kamu.”

“Keinginan apa, Kak?”

“Kamu ingin sekolah?”

“Mamet gak punya uang, Kak. Lagipula rumah tidak ada yang jaga.” Jelas ia dengan pasrah.

“Kakak, ingin membiayai kamu sekolah dan kalau mau Mamet bisa tinggal dengan Kakak di kota.” Jelasku.

“Makasih Kak kalau Kakak mau membiayai Mamet sekolah, tapi Mamet gak bisa meninggalkan desa ini. Mamet tidak punya siapa-siapa lagi selain teman Mamet.”

Aku menyadari bahwa Rahmat sekarang sedang kesepian. Aku harus memahami bahwa ia perlu teman sebaya.

“Ok, Kakak menyekolahkanmu di desa ini saja dan kamu mau tinggal dengan Kakak?” tawarku penuh harap.

“Lalu rumah Ibu?”

“Nanti kapan-kapan kalau Mamet kangen sama Ibu, kita akan jenguk rumah itu. Yang pasti, rumah Kakak lebih dekat dengan pengajian kamu dan dekat juga dengan teman-temanmu. Bagaimana?” pintaku.

“Makasih, Kak Arkan.” Balas ia dengan tersenyum.

“Sama-sama, bocah.” Jawab akrabku mengelus rambut Rahmat.

***

Aku sangat senang bahwa Rahmat setuju untuk melanjutkan pendidikannya dan menginap denganku. Rasanya akan ada secercah kesuksesan pada diri Rahmat, tetapi bukan berarti Rahmat dilepaskan begitu saja untuk kurawat. Ibu Nina tetangga almarhumah Ibu Sri, kurang setuju bila Rahmat tinggal di tempat orang yang baru saja ia kenal.

Aku paham maksud Ibu Nina demikian. Sebelum melepaskan Rahmat untuk dirawat olehku, beliau terus bertanya semua hal yang berkaitan denganku, termasuk identitasku secara rinci.

Akhirnya melalui obrolan panjang hingga malam tiba, Ibu Nina sebagai yang bertanggung jawab atas Rahmat sepeninggalan Ibu Sri, mengizinkanku untuk membawa Rahmat. Lagipula Rahmat setuju untuk tinggal bersamaku. Dengan sebuah amanah untuk menjaga Rahmat, hal itu pasti akan aku lakukan sebaik mungkin.

Rahmat menyusun barang-barang yang akan dibawa, baju, buku pengajian, dan beberapa pemainannya. Aku melihat dan menganggapnya seakan adikku sendiri.

Setelah selesai berkemas, aku dan Rahmat berjalan menuju rumah yang kusewa di perbatasan desa.

Malam di pedesaan sangat sunyi dan sepi, lampu pijar bertebaran di sepanjang jalan pulang. Malam ini langit penuh dengan bintang yang bertaburan di angkasa, tak ada bulan yang mendampingi malam.

“Kak, kondisi langit seperti yang Mamet rasakan.” Ucap Rahmat.

“Maksud kamu?” tanyaku.

“Langit malam, bertaburan bintang yang bercahaya tapi tidak ada bulan.”

“Kita dapat mengartikan itu bahwa bintang tetap bersinar di malam hari walau tak ditemani oleh sang bulan, sama saja dengan seseorang yang berdiri tegar walau tak didampingi oleh seseorang yang biasa menemaninya. Kamu paham maksud Kakak?”

Rahmat hanya mengangguk, tak ada ekspresi yang ia keluarkan. Terkadang aku sangat heran dengan kepribadian Rahmat, ia terlihat lugu bagaikan anak-anak biasa, tetapi disisi lain ia berpikir layaknya seorang yang telah dewasa.

Kamipun tiba di teras rumah dan segera masuk ke dalam. Saat pulang, aku merebahkan diri di kursi. Sedangkan Rahmat terlihat bingung dengan keadaan rumah.

“Kak Arkan, kamar mandi mana? Dapur mana? Kamar tidur mana?” tanya Rahmat yang terlihat bingung dengan kondisi rumah yang berantakan.

Aku menunjukan satu per satu tempat di rumah yang kutempati bersama Rahmat. Tujuan utama dia adalah kamar mandi. Aku tersenyum melihat tingkah Rahmat, gerak-gerik ia sangat khas layaknya anak biasa. Mungkin ia ingin buang air.

“Kak, kita sholat Isya dulu ya? Kita berjama’ah. Kakak jadi imamnya.” Pinta ia dengan polos.

Sungguh aku sangat terkejut dan heran  dengan perilaku bocah ini, berkali-kali dengan sifatnya telah mengejutkanku serta membuatku terkagum. Kali ini ia mengajakku untuk beribadah. Memang   tak ada yang salah, tetapi aku membandingkan umurnya dengan sifatnya. Dia adalah bocah yang diberi karunia lebih oleh Tuhan, karena sifatnya yang sangat dewasa untuk ukuran anak-anak. Atau mungkin aku yang berlebihan dalam menanggapi ini?

“Kak? Kok malah diam? Ayo Kak.” Ajak Rahmat menarik tanganku.

“Oh iya, kamu dulu ambil air wudhunya.”

Kami pun sholat berjamaah, Rahmat terlihat tenang dan khusyuk dalam sholat, yang merupakan kewajiban setiap muslim. Setelah selesai sholat, kami akhiri dengan doa, Rahmat bermunajat dan terdengar rintihan tangisannya. Aku memahaminya, sebab ini hari pertama ia ditinggal tanpa keluarga kandungnya.

Waktu menunjukan jam delapan malam, kami berdua beranjak untuk makan malam. Masih ada sisa sayur lodeh pemberian Ratih. Kamipun makan bersama dengan lauk seadanya.

Sesekali aku melihat Rahmat melamuni sesuatu, mungkin ia masih terkenang kejadian sore hari ini. Aku berusaha untuk memecahkan lamunannya, apabila dibiarkan pasti akan berkelanjutan dan tidak baik untuk keadaan jiwa Rahmat.

“Makanan ini enak, ya?” iseng aku bertanya.

“Enak sekali, Kak. Seperti masakan Ibu, tapi masakan Ibu lebih enak.” Jawab Rahmat.

Ternyata benar, ia sedang memikirkan ibunya. Rahmat terlihat tegar dan berusaha untuk menutupi kesedihannya.

“Besok Kakak antar kamu untuk daftar ke sekolah ya, makanya nanti besok kamu harus udah mandi pagi.” Nasihatku.

“Mandi pagi? Dingin sekali, Kak.” Manja Rahmat.

“Memang Mamet suka mandi jam berapa?”

“Jam delapanan.”

“Tapi nanti harus sudah siap, jam setengah tujuh pagi, ya?” pintaku.

“Hehehe, liat nanti ya, Kak.” canda Rahmat.

“Nah, sekarang kamu habisin dulu makanannya, setelah selesai kamu harus tidur. Ok?”

“Yoi, Kak.” Jawab Rahmat logat orang kota.

Makan malam kami lanjutkan. Sesudah makan malam, Rahmat membantuku untuk mencuci piring. Saat menjelang tidur kami berdua sikat gigi bersama.

Malampun semakin larut, Rahmat mengantuk dan tertidur pulas. Aku memandangi muka Rahmat sangat bersih yang memiliki sifat tegar dalam menghadapi cobaan. Patutkah diriku yang berumur tiga puluh tahun, untuk belajar dari Rahmat. Semoga Rahmat dijadikan sebuah rahmat dari Tuhan kepada umat manusia kelak. Amin.

Advertisements

Menggenggam Dunia – (4) Tangisan Rahmat

Standard

Pada sore hari yang hangat, aku berjalan menuju rumah Rahmat dan menawarkan diri untuk membiayai sekolahnya. Mata batinku mengatakan bahwa Rahmat akan menjadi orang yang sukses di masa depan.

Aku melewati perjalanan melalui lapangan sepak bola. Tak ada yang bermain, aku hanya mendengar suara anak-anak yang sedang mengaji. Mungkin sekolah tersebut yang Ibu Sri maksud, tempat untuk mengajinya Rahmat tanpa membayar sedikitpun. Masih ada juga ustad yang tanpa pamrih memberikan ilmu agama kepada generasi muda. Ya, semoga saja banyak yang demikian.

Aku terus berjalan melewati rimbunnya pepohonan dan sawah-sawah yang siap panen, hingga akupun telah sampai di depan rumah Rahmat. Banyak ibu-ibu yang sedang mengobrol di sekitar rumahnya, tetapi Ibu Sri tidak terlihat, mungkin di dalam rumahnya.

Perlahan kudekati rumah yang terlihat sepi dengan pintu yang terbuka. Wajar saja dalam rumah sederhana itu hanya tinggal dua orang, yaitu Rahmat dan Ibu Sri.

“Assalamualaikum.” Sahutku di depan pintu rumah. Aku terdiam sesat, tetapi tak ada yang menjawab, mungkin beliau sedang di kamar mandi atau mungkin pendengarannya sudah mulai berkurang.

“Assalamualaikum.” Sahutku, tetapi kali ini yang menjawab seorang ibu yang sedang mengobrol dengan tetangganya.

“Cari Ibu Sri, ya?” tanya seorang ibu berjilbab.

“Iya, Bu.” Jawabku.

“Ketok saja pintunya.”

“Oh iya, makasih Bu.” Jawabku ramah.

Aku mengetuk pintu sedikit agak keras sebanyak tiga kali, tetapi tak ada yang menjawab. Aku ulangi berkali-kali, tapi hasilnya tetap sama.

Ibu yang menggunakan jilbab memperhatikan tingkahku, dan ia mengambil inisiatif untuk masuk ke rumah memanggil Ibu Sri.

“Tunggu ya Mas, saya panggilkan dulu.” Jelas Ibu berjilbab.

Aku hanya mengangguk sembari tersenyum ramah padanya. Ibu itu memasuki rumah sembari memanggil nama Ibu Sri.

Cuaca di lingkungan ini cukup teduh, dibandingkan dengan rumah yang aku sewa di perbatasan desa. Tentram dan harmonis. Aku menikmati pemandangan sekitar rumah ini.

“Akhhhhh……!” jerit seseorang dari dalam rumah. “Tolong! Tolong! Tolongi Ibu Sri.” Teriak Ibu berjilbab, panik dan segera meminta tolong keluar rumah.

Aku dan beberapa warga yang mendengar teriakannya, segera memasuki rumah Ibu Sri, alangkah terkejutnya diriku dan warga yang melihat, Ibu Sri ditemukan terkujur kaku di kamar mandi. Aku teringat Rahmat, saat melihat ibunya tergeletak dan mengeluarkan darah di kepalanya.

Bapak-bapak yang melihat kejadian itu langsung segera mengangkat tubuh Ibu Sri dan dibaringkannya pada kursi panjang. Akupun ikut membantu mengangkatkan Ibu Sri, tanganku dengan sigap langsung memeriksa kondisinya.

Jantungku berdebar kencang, tak ada yang aku rasakan pada denyut nadi dan hembusan nafas. Berkali-kali aku periksa kondisi Ibu Sri, tetapi tetap sama. Terlambat, aku mengatakan pada warga desa yang berada di sekitarku, bahwa Ibu Sri telah meninggal dunia akibat pendarahan pada kepala. Kemungkinan penyebabnya beliau terjatuh.

Serempak mereka mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Semua warga yang hadir turut berduka cita saking tak percayanya dengan kondisi Ibu Sri, terlihat dari mimik wajah mereka yang meneteskan air mata.

“Assalamualaikum.” Sapa seorang anak kecil yang memakai baju muslim kepada warga. Ia terlihat lugu dan polos.

Ibu berjilbab mendekati bocah berkulit putih itu, yang tiada lain adalah Rahmat. Mata Ibu tersebut merah karena menahan tangis dan berusaha menyembunyikan tangisan di depan Rahmat.

Sebagian penduduk desa yang berada di rumahnya ikut sedih. Karena setelah dua tahun yang lalu Rahmat ditinggal ayahnya, untuk kali ini pula ia ditinggal oleh ibunya yang tercinta untuk selamanya.

“Nak, ibumu…” jelas ibu berjilbab dengan tegar, walaupun degan air mata yang meleleh.

“Ibumu…”

“Kenapa Ibu?” tanya Rahmat polos.

“Ibumu, Nak…” tangis ibu berjilbab itu.

Rahmat mendekati ibunya yang sedang terbaring di kursi, ia heran dengan semua yang terjadi. Ia melihatku disamping ibunya yang terbaring.

“Kak, ada apa dengan ibu?” tanya Rahmat.

Tak ayal, aku tak bisa menahan tangis yang kutahan, sebab kenyataan hidup yang Rahmat alami sungguh pahit. Seumur Rahmat harus hidup tanpa belas kasih orang tua, hal ini dapat melemahkan semangat hidupnya.

Perlahan Rahmat memegang tangan ibunya, lalu mengusap wajah, dan membelai rambut ibunya. Ia terkejut dan panik bahwa pada rambut ibunya terdapat darah.

“Kenapa ada darah? Ibu kenapa?” tanya Rahmat panik melihat kondisi ibunya.

Semua warga terdiam dan menunduk mengungkapkan rasa sedihnya.

“Ada apa dengan Ibu? Kenapa gak ada yang mau jawab?” tanya Rahmat agak berteriak dan semakin panik.

Semua hanya terdiam. Ibu berjilbab memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Rahmat. Perlahan ia mendekati Rahmat yang berada di samping ibunya.

“Rahmat, ibumu saat ini telah menyusul bapakmu.” Halus ia menegarkan Rahmat.

“Maksud Ibu Nina?” tanya Rahmat terlihat lemas. Terlihat kondisinya yang lemas dan mulai menangis. Ibu Nina mendekati Rahmat, dan memegang kedua bahu Rahmat dengan kedua tangannya. Ia berusaha menyembunyikan perasaan sedih.

“Ibumu meninggal, Nak.” Ucap Ibu Nina dengan terharu.

Seketika Rahmat terdiam dan tak percaya bahwa ibunya telah tiada. Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan, perlahan ia memegang kedua wajah orang yang ia cintai. Air mata terus mengalir hingga membasahi kedua pipinya.

Kedua tangan Ibu Nina mengelus pundak Rahmat, tetapi dengan cepat Rahmat berlari keluar meninggalkan rumah.

Aku mengikuti Rahmat dan lari mengejarnya. Ia berhenti dan duduk menangis di bawah pohon. Bagaimanapun aku mengerti perasaan Rahmat. Aku pernah merasakan dengan yang Rahmat rasakan saat ini, saat mendengar kabar bahwa ibunda telah meninggal dunia.

Ketika kehilangan seorang ibu, rasanya dunia ini menjadi tidak berwarna, hampa, dan sepi. Saat pertama kali mendengar kabar bahwa ibu telah meninggal, bagaikan es tajam yang menusuk hati. Perih dan menyiksa.

Namun demikian, aku lebih beruntung dibandingkan Rahmat. Aku ditinggal oleh almarhumah ibu saat umur dua puluh tahun. Berbeda dengan Rahmat yang masih membutuhkan Ibu untuk beranjak dewasa. Ia ditinggal dalam umur delapan tahun. Massa kanak-kanak yang harusnya ia lewati bersama ibu, ternyata harus rela dipisahkan oleh takdir Tuhan.

“Ibu.” Tangis Rahmat mengenang ibunya.

Berkali-kali ia ucapkan kata Ibu dengan penuh duka yang mendalam. Aku sangat terharu melihat kondisi Rahmat. Perlahan kudekati untuk menenangkannya, dan duduk di sampingnya.

“Ibumu pasti akan mendapatkan tempat yang terbaik di Surga, karena telah menjaga dan merawatmu menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.” Ucapku perlahan sembari mengelus rambut Rahmat yang halus.

“Aku pingin ikut Ibu, Kak.” harap ia sembari menangis.

“Mamet jangan berkata itu, kamu ingat perkataan ibumu disaat kakimu sakit? Ibunya Mamet bilang bahwa kamu tetap anak yang Ibu banggakan.” Sahutku menenangkannya.

“Mamet gak bisa hidup tanpa Ibu.” Pasrah dan memeluk kedua lututnya.

“Kamu pasti bisa kok. Kakak juga dulu ditinggal oleh ibunya Kakak. Memang Kakak juga sedih terima hal tersebut, tapi perlahan Kakak bangkit, dan berusaha untuk membahagiakan Ibu dengan apa yang Kakak capai saat ini.” Ucapku menyemangatinya.

“Memang apa yang Kakak capai?” tanya Rahmat hingga mengurangi rasa sedihnya.

“Kakak dulu bekerja jadi asisten dokter.”

“Itukan dulu, sekarang Kakak pengangguran toh?” tanya Rahmat sekenanya.

“Yah, sekarang Kakak milih istirahat dulu dari pekerjaan. Nanti setelah cukup istirahatnya Kakak mulai berkerja lagi.” Terangku.

“Oh begitu.” Kembali Rahmat berbicara lemas.

“Yang penting, sekarang kita harus mempunyai semangat hidup. Kita harus berjuang dan buktikan pada semua orang bahwa kita bisa, walaupun tanpa Ibu. Ok?” ucapku bersemangat.

“Ya, Kak.” Ucap Rahmat terisak-isak.

“Kok loyo gitu. Ayo, kita laki-laki jadi harus semangat. Ok.” Aku merangkul Rahmat.

“Ok, Kak. Makasih ya, Kak.” Ada secercah semangat dari ucapan Rahmat.

“Nah gitu, kita tidak boleh meletakan dunia pada hati ini, tetapi letakkanlah dunia pada tangan ini.” Ucapku membangkitkan Rahmat.

“Maksud Kakak?”

“Maksudnya kita harus menggenggam kehidupan ini, tak boleh menyerah dalam hidup ini, jangan sampai kamu letakkan hidup ini pada hati, sehingga kamu terlena dengan kehidupan ini. Tapi letakkanlah kehidupan ini pada tanganmu, supaya kamu bisa mengendalikan hidup ini menjadi lebih baik.” Ucapku penuh kelembutan.

“Semoga Mamet bisa ya, Kak.”

“Pasti bisa, kita berdoa kepada Tuhan semoga diberi kemudahan untuk menggenggam dunia.”

“Semoga, Kak.” Jawab Rahmat walau masih ada rasa kesedihannya.

Menggenggam Dunia – (3) Bunga Desa

Standard

Hari sudah semakin panas, aku beranjak pulang ke rumah sewaan yang berada di perbatasan desa. Cukup melelahkan tetapi sangat menyenangkan.

Hari ini aku telah menerima pelajaran berharga, bahwa sebaiknya aku harus mensyukuri hidup ini. Semenjak keluar dan memutuskan hijrah dari kota menuju pedesaan, aku kurang mensyukuri hidup pada Tuhan dengan segala yang telah Ia berikan padaku. Berupa ilmu, harta, kedudukan, tetapi yang ada hanya kesombongan untuk melakukan sesuatu. Apakah ini pengaruh dari kota? Entahlah, adakalanya itu benar.

Langkah demi langkah, aku berjalan menikmati pemandangan desa yang indah, sejuk, dan tentram. Aku melewati lapangan bola tempat bermainnya Rahmat dan Saiful. Sepi tak ada yang bermain di lapangan itu, yang ada hanya dua gawang dari kayu dan sebuah bola di tengah lapangan.

Bola? Aku senang dengan permainan bola. Aku menyukai permainan ini, semenjak duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar. Sudah lama tidak bermain bola, bahkan terakhir kali bermain bola saat aku berada di bangku SMA bersama teman sekolah. Permainan bola memang membutuhkan kerja sama tim.

Lapangan sepi dan bola tak ada yang memakai, kebetulan sekali. Aku ingin melepas rasa rindu untuk bermain sepak bola.

Kedua tangan kumasukan dalam saku celana. Aku menari bersama bola tanpa menyentuh tangan sedikitpun, aku memainkan bola dengan menendang ke atas, menyundul bola, memantulkan melalui betis dan berbagai jenis gaya aku mainkan dengan indah. Selang beberapa waktu, saat bola mengenai kaki kanan, dengan cepat aku mengarahkan bola ke gawang, dan shoot. Gool! Tendangan sempurna mengarah tengah gawang.

Sambutan berupa tepuk tangan dari anak-anak mengiringi bola masuk, layaknya pertandingan bola di stadion. Dan aku baru menyadari ternyata anak-anak itu telah memperhatikan gerak-gerikku saat bermain bola.

“Wah, Kakak hebat.” Kata anak berambut ikal dan berkulit sawo matang.

“Kakak pemain timnas Indonesia, ya?” tanya penuh kekaguman dari anak yang lain.

“Waduh, anak-anak terima kasih pujiannya. Maaf tadi Kakak pinjam bola kalian.”

“Kak Arkan, mau bermain sama kami?” ajak Saiful.

Ternyata ada Saiful, dengan senyum yang khas, saat memperhatikanku dari tadi. Ia mengajakku untuk bermain bola, nyaliku tertantang untuk bermain dengan anak-anak desa.

“Ok, siapa takut.” Ledekku penuh keakraban dengan anak-anak.

Akupun bermain dengan mereka layaknya anak-anak. Bermain bola di tanah yang becek, dan berlumpur. Tak heran bajuku ikut kotor. Seorang mantan asisten dokter sepertiku, bermain dengan anak-anak desa, sangatlah menyenangkan.

***

Hari sudah semakin siang, disertai cuaca yang sejuk berubah menjadi sangat panas. Aku berjalan pulang menuju rumah dengan baju yang sangat kotor penuh lumpur, usai bermain sepak bola dengan anak-anak.

“Eh, Mas Arkan. Kok bajumu kotor? Jatuh dimana?” tanya seorang ibu berbadan gemuk yang heran melihat kondisiku.

“Tadi saya bermain bola, bersama anak-anak, Bu. Jadi maklum baju saya ikut kotor juga.” Ucap ramahku pada Ibu Lusi, yang tiada lain adalah tetanggaku.

Sebelumnya, diperjalanan ada beberapa warga yang mengenalku dan menanyakan hal yang sama seperti pertanyaan Ibu Lusi. Sebenarnya berpakaian kotor sangat wajar di desa ini, seperti para petani yang pulang dengan pakaian kotor. Mungkin karena aku bukan petani. Jika dilihat dari postur tubuh, walau tinggal di desa dan memakai pakaian orang desa tetapi tubuhku masih terlihat orang kota.

Akhirnya aku sampai depan rumah. Aku rebahan di kursi teras rumah untuk melepas lelah. Walau cuaca panas, semilir angin perlahan menerpa ke seluruh tubuh.

Aku mengingat kejadian dari pagi hingga berakhir dengan berpakaian kotor. Ada suka maupun duka. Suka karena aku semakin akrab dengan penduduk desa serta bermain bola dengan anak-anak desa untuk pertama kalinya, dan duka karena masih ada orang yang berkeinginan untuk menyekolahkan anak dan menganggapnya sesuatu yang berat. Aku paham dengan kondisi mereka, tetapi syukurnya Ibu Sri telah menyekolahkan Rahmat pada pengajian gratis. Menurutku itu sudah cukup baik untuk bekal Rahmat.

Apa lebih baik, aku membiayai sekolah Rahmat ya?

Tiba-tiba pikiranku fokus untuk merencanakan hal tersebut. Itu memang ide baik, lagipula aku mempunyai cukup uang untuk membayar sekolahnya.

“Mas Arkan.” Sapa seorang wanita yang tiba-tiba menyapa di sampingku.

Aku salah tingkah dan mengambil posisi duduk. Aduhai, gadis yang menyapaku adalah bunga desa di pedesaan ini. Perasaanku bercampur heran dan berbunga-bunga.

“Ratih, ada apa? Ayo silahkan duduk.” Aku menggeser, untuk mempersilahkan Ratih duduk.

“Makasih Mas Arkan, Ratih cuma memberi titipan dari Ibu untuk makan siang Mas Arkan. Diterima ya, Mas.” Dengan suara lembut, ia memberikan kantung plastik berisi sayur lodeh dan dua ekor ikan goreng.

“Wah, terimakasih ya Ratih. Sampaikan ucapan terimakasih juga pada ibumu.”

“Sama-sama, Ratih pamit dulu, Mas.”

“Tidak mampir dulu?” pintaku iseng.

“Hem, lain kali saja pasti Ratih mampir. Mari Mas.” pamitnya sembari tersenyum manis.

Oh. Senyuman Bunga Desa yang tak akan kulupakan. Selain dia memiliki wajah yang indah dengan rambut panjang yang tergerai, dia juga memiliki hati yang lembut bagaikan selembut kain sutra. Pantaslah ia dijuluki oleh warga sebagai Bunga Desa.

Menggenggam Dunia – (2) Sebuah Wasiat

Standard

Aku menggendong bocah berkulit putih menuju rumahnya, ditemani dengan teman sepermainannya. Sesekali bocah itu mengerang kesakitan pada kakinya.

“Adek sabar ya. Sekarang Kakak antar kamu pulang.” Jelasku pada bocah yang kugendong.

“Kak, sebenarnya ini bukan pertama kalinya Rahmat keseleo, dia sering sekali. Tapi untuk kali ini saja dia keseleo gak bisa berdiri.” Jelas temannya.

Ternyata nama bocah berkulit putih dan berhidung mancung ini bernama Rahmat.

“Kalau Adek sendiri, namanya siapa?” tanyaku pada teman Rahmat.

“Namaku Saiful, Kak. Teman-temanku biasa panggil Ipul, kalau Rahmat biasa dipanggil Mamet. Unik ya, Kak?” tanya Saiful diiringi tawanya.

Aku membalasnya dengan senyum. Sungguh masa kanak-kanak, terlihat dari wajah mereka yang polos tanpa beban kehidupan di wajah mereka.

“Rumah Mamet masih jauh?” isengku untuk bertanya.

“Mau saja ngomong, Kakak sudah tanya. Nah itu rumahnya.” Saiful menunjuki rumah yang sederhana dan terdapat kandang ayam.

Aku hanya mengangguk membalas ucapan Saiful. Di rumah tersebut, aku melihat seorang ibu yang sedang menjemur pakaian di pekarangan rumah.

“Itu ibunya Mamet?” tanyaku.

“Ia Kak, itu ibunya. Ayo Kak.” Ajak Saiful mendekati ibunya Rahmat.

Saat kami mendekat, ibu tersebut menengok dan sangat terkejut mungkin karena melihat anaknya di gendong tak berdaya oleh orang yang tak ia dikenal.

“Ipul, kenapa Rahmat?” tanya beliau dengan rasa cemas.

“Biasa Bu, dia keseleo lagi saat main bola. Nah, Kakak ini yang mengantarkan Mamet ke rumah.” Jelas Saiful kepada ibunya Rahmat.

“Aduh Mas, terima kasih banyak ya.”

“Sama-sama, Bu. Oh ya, Ibu punya balsam dan kain buat membalut kaki? Apabila Ibu berkenan, saya sekalian ingin mencoba mengobati Rahmat.” pintaku pada ibu yang berpenampilan tertutup rapat dan menggunakan kain penutup kepala.

“Oh, ada Mas. Tunggu sebentar ya.” Balas ia dengan ramah.

Memang beda kehidupan di kota dan di desa. Mungkin kalau kejadian ini di kota, seorang ibu tak akan mempercayai anaknya dirawat oleh orang asing sepertiku. Tapi alangkah indahnya kehidupan di desa, semua saling percaya satu dengan yang lain, itupun saling percaya pada batas-batas tertentu.

“Kak, Ipul boleh tanya?” pinta Ipul menepuk pundakku dari belakang.

Akupun menengok dan menundukan badanku sembari menggendong Rahmat. “Ipul mau tanya apa?”

“Nama Kakak itu Arkan ya? Kakak tinggal dimana?” tanya polos Saiful.

“Iya nama Kakak, Arkan. Kakak tinggal di ujung desa ini. Kalau Ipul tinggal dimana?”

“Ipul tinggal di dekat lapangan bola tadi, Kak.”

“Ibunya Mamet, namanya siapa?” tanyaku pada Saiful.

“Ibu Sri, Kak.”

“Tampaknya Ibu Sri sangat khawatir, ya?” ungkapku.

“Wajar saja, Kak Arkan. Mamet ini anak satu-satunya dan keluarga satu-satunya yang Ibu Sri miliki.” Jawab Saiful.

Aku hanya mengangguk memakluminya. Terlihat Ibu Sri dengan tergesa-gesa membawakan balsam dan kain putih padaku. Tampaknya ia pantas khawatir apabila Rahmat sedang sakit. Inilah ibu yang amat mencintai sang anak, apabila terjadi sesuatu bukan dengan memarahi anaknya, tetapi dengan kasih sayangnya.

“Loh kok masih berdiri toh, Mas? Ayo duduk.” Ajak Ibu Sri padaku, sembari menunjukan kursi panjang di teras rumah beliau.

Akupun membawanya dengan menggendong Rahmat dan membaringkannya di kursi tersebut. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Rahmat, mungkin karena ia menahan rasa sakitnya yang luar biasa. Perlahan aku periksa keadaan kaki Rahmat.

Aku oles balsam perlahan pada daerah mata kaki, lutut, dan kedua sikunya. Ia pun merintih kesakitan. Tak heran Ibu dan Saiful ikut khawatir melihat kondisi Rahmat. Untuk mengurangi terjadinya pembengkakan, aku harus mengompreskan air dingin pada kakinya.

“Maaf Ibu Sri, apakah ada air dingin?” pintaku.

“Oh iya, saking khawatir Ibu lupa suguhi air.” jawab Ibu Sri.

“Kak Arkan, haus?” tanya Saiful.

“Oh, bukan itu maksud saya. Air itu buat dikompres pada kaki Rahmat.”

“Oh begitu, ya sudah Ibu ambilkan dulu, Mas.” Jawab Ibu Sri dan memasuki rumah.

***

Perawatan sesuai prosedur ilmu perawatan sederhana telah aku lakukan kepada Rahmat, setelah absen satu bulan untuk tidak memeriksa seorang pasien.

Rahmat tertidur lelah di atas tempat duduk yang berada di teras rumahnya, dengan kepala di atas pangkuan Ibu Sri dan kaki yang dibalut oleh kain putih. Sedangkan Saiful telah pulang menuju rumahnya.

“Terima kasih loh, Mas Arkan.” ramah Ibu Sri.

“Sama-sama, Ibu.” Balasku dan meneguk teh hangat yang telah disuguhi oleh Ibu Sri.

“Sebenarnya Ibu ingin memberikan sesuatu sebagai tanda ucapan terima kasih, tapi..”

“Tidak usah Bu, terima kasih. Saya ikhlas buat menolong Rahmat.” Potongku dengan halus.

“Mas Arkan baru pindah ke desa ini ya? Saya baru pertama kali lihat Mas Arkan di wilayah sini.”

“Saya tinggal di perbatasan desa ini satu minggu yang lalu.”

“Tinggal sendiri, Mas?” tanya Ibu Sri.

“Iya, di wilayah ini tidak ada kerabat dekat saya. Oh iya, Bapaknya Rahmat sedang kerja ya, Bu?” tanpa segan aku bertanya.

“Bapaknya Rahmat sudah tiada, Mas. Beliau meninggalkan kita, saat umur Rahmat beranjak enam tahun.” Ungkap Ibu Sri sembari merenung.

“Maaf atas pertanyaan saya yang tidak sopan, Bu.” Sesalku.

“Tak apa, pertanyaan Mas Arkan mengingatkan kembali terhadap wasiat yang diberikan untuk Ibu. Dahulu saat Bapak meninggal dia mewasiatkan sesuatu yang menurut Ibu berat untuk kami jalankan. Tapi ia yakin sekali bahwa kami akan sanggup menjalankan sebuah wasiat tersebut.” Jelas Ibu Sri, mengingat massa lalu.

“Sebuah wasiat?” aku mulai heran dengan yang diucapkan Ibu Sri.

“Menyekolahkan Rahmat hingga ia menjadi orang yang sukses, di massa depannya. Hanya itu.”

Aku terkejut dengan yang diucapkan oleh Ibu Sri. Menurutku pribadi yang mempunyai harta yang cukup, tak perlu ada beban untuk menyekolahkan keponakan sendiri. Tetapi hal ini merupakan beban untuk rakyat yang berpenghasilan kurang.

Dalam hati kecil ini, aku berpikir seakan pikiranku ini masih buta terhadap penderitaan rakyat kecil, seperti Ibu Sri. Alangkah beruntungnya diriku ini dengan penghasilan yang cukup.

“Ya sudahlah, mungkin ini belum rezeki Ibu untuk menyekolahkan Rahmat. Tuhan akan selalu memberi rencana yang terbaik untuk ciptaan-Nya.” Ucap Ibu Sri dengan senyum yang merekah tanda ketegaran hatinya.

“Jadi, Rahmat dari dulu sampai sekarang tak pernah sekolah?”

“Dia menimba ilmu dari pengajian gratis di dekat lapangan bola tempat ia bermain.”

Rahmat perlahan bangun dan memanggil ibunya. Sesungguhnya dia punya bakat untuk berprestasi, tetapi sayang nasib kehidupan menghambat ia menuju kesuksesan.

“Kakak yang tadi menolong Mamet, ya?” tanya Rahmat dengan lugu.

“Iya, tadi Kakak lihat kamu kesakitan. Gimana kakinya, masih sakit?”

“Lumayan, Kak.” Ucap Rahmat sembari merasakan kesakitan.

“Lain kali hati-hati ya, Mat. Nanti kalau ada apa-apa sama kamu, gimana?” tanya Ibu Sri khawatir.

“Maaf ya, Bu.” Menunduk dan mengakui kesalahan.

“Gak apa-apa, Ibu sayang kamu, nak. Kamu anak yang Ibu banggakan.” Peluk Ibu Sri pada Rahmat.

Saat melihat mereka, aku teringat massa kecilku yang berada pada dekapan kasih sayang ibu, dan sekarang ibuku telah tiada.

Ibu, aku selalu merindukanmu.

Menggenggam Dunia – (1) Bocah Berkulit Putih

Standard

Alangkah sejuknya pagi ini dibandingkan pagi sebelumnya. Kicauan burung mengiringi langkah demi langkah para petani menuju sawah mereka. Kehidupan di desa adalah hidup yang benar-benar hidup. Setiap orang yang mengunjungi desa pasti akan selalu teringat dengan kampung halamannya.

Pagi yang cerah dengan semangat yang membara. Setiap hari aku melihat rakyat yang hidup di desa terlihat harmonis, saling bertegur sapa, tolong menolong, kerja bakti, dan senyum yang merekah pada setiap wajah mereka. Indah dan mempesona melihat wajah mereka, alangkah nyamannya hidup di desa ini.

Aku adalah aku. Hidupku adalah hidupku. Walaupun aku lahir di kota, besar di kota, menggunakan fasilitas kota, dan mempunyai rumah di kota, tetapi entah mengapa hatiku tergerak untuk tinggal di desa.

Lupakanlah kota, sekarang aku telah mempunyai kehidupan baru di desa, tempat yang sangat sederhana, agak sempit, dan bisa dibilang banyak tikus berkeliaran di rumah yang ku sewa ini. Tak apa, sekarang aku sudah bersahabat dengan para tikus walaupun terkadang aku kesal dengan tikus yang suka mengambil tanpa izin makanan yang kusimpan di teras rumah.

Mungkin wajar bila dimakan oleh tikus yang mengatas namakan hewan yang tanpa perlu izin untuk mengambil makanan, tetapi tikus yang selalu  mengambil makananku adalah para bocah tetangga. Baru saja meninggalkan makanan di teras rumah dalam waktu beberapa detik, dan sekejap hanya tinggal alas makanan beserta sendok yang tersisa.

Biarlah namanya juga anak-anak, mereka masih kurang beruntung dibandingkan aku yang mempunyai segalanya. Bagaimanapun inilah warna kehidupan, saat aku senang menjalaninya semua ini, pasti akan terasa indah.

Semangat yang cerah dari penduduk desa, menggugahku untuk berjalan mengelilingi desa. Perumahan di desa berbeda dengan perumahan di kota. Di desa aku temukan aktivitas penduduk yang sebagian besar petani, ada pula ibu rumah tangga yang berdagang, dan tak jarang para ibu yang hilir mudik membawa sayuran menuju pasar terdekat yang berada di utara desa ini.

Sesekali aku menyapa ibu-ibu yang sedang berjualan sayur mayur menggunakan sepeda menuju pasar, dan mereka membalas dengan senyuman bahkan obrolan singkat dan akrab. Suasana seperti ini jelas berbanding terbalik dengan kondisi kota, kebanyakan dari mereka sibuk dengan tugas kantor, dari pagi hingga malam. Tak ada sosialisasi sedikitpun terhadap masyarakat sekitar.

Saat di perjalanan, aku melihat anak-anak desa yang sedang asyik bermain bola di tengah beceknya tanah. Mereka bermain dengan riang tawa dan penuh keharmonisan dalam pertemanan. Aku melihat seorang bocah lelaki berkulit putih, berhidung mancung, dan berambut indah layaknya pemeran iklan sampo, menggiring bola dari depan gawang hingga gawang lawan. Emosiku sudah mulai masuk dalam ritme permainan mereka.

Sesekali hatiku bersorak kegirangan melihat gerak-gerik bocah berkulit putih itu, sembari menggiring bola dengan lincah. Satu per satu lawan ia hadapi dan terus melaju hingga ke gawang lawan. Luar biasa. Aku tergerak untuk memberi teriakan dukungan untuk bocah tersebut, ketika sampai di depan gawang lawan, bocah itu memberi ancang-ancang untuk menendang bola. Aku semakin bersemangat melihatnya. BRUKK. Bocah itu terpeleset dan jatuh di genangan tanah becek tersebut, seketika aku mengendus kesal.

Saat melihat bocah tersebut menggiring bola, aku teringat dengan persepakbolaan Indonesia. Aku berpikir, tampaknya bocah itu layak untuk menjadi pemain kelas dunia melebihi pemain Timnas Indonesia saat ini, itupun bila kemampuan dia terus diasah.

Aku tersenyum kecut, sangat ironis. Sebenarnya ratusan juta penduduk negeri ini, masih tersimpan banyak anak-anak yang berprestasi dalam segala bidang. Apabila dikumpulkan anak-anak yang berkemampuan tinggi, mungkin Indonesia menjadi negara terbaik dan terpintar bahkan mungkin bisa mengalahkan teknologi negara adidaya.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari anak-anak di lapangan bola, ternyata mereka menjerit untuk meminta tolong penduduk sekitar. Aku dan beberapa warga mendekati anak-anak tersebut dan alangkah terkejutnya diriku, bocah berkulit putih itu menjerit kesakitan sembari memegangi kakinya.

Terlihat beberapa warga desa yang menanyakan kepada anak-anak tentang kondisi bocah tersebut. Ia dirangkul oleh Pak RT. Dilihat dari kondisi wajah yang kesakitan dan tangan sang bocah yang memegangi kaki, aku langsung mengetahui bahwa kakinya terkilir.

“Maaf Pak, izinkan saya untuk memeriksa anak tersebut.” Pintaku tanpa ragu.

“Oh Mas Arkan, silahkan. Tampaknya Mas Arkan yang lebih berpengalaman.” Jawab Pak RT.

“Terima kasih, Pak.” Balasku dengan senyum.

Aku adalah seorang mantan asisten dokter, yang dikeluarkan, karena dinilai salah menangani pasien. Asisten dokter juga manusia, pasti pernah melakukan kesalahan, tetapi mengingat kesalahanku memang tak bisa diterima dan membahayakan pasien, aku dengan senang hati mengundurkan diri sebelum dikeluarkan surat pemberhentian kerja dari rumah sakit. Toh, masih banyak lowongan kerja yang membutuhkan lulusan kedokteran.

Kejadian yang dialami bocah tersebut, sangat fatal apabila tidak ditangani dalam segera. Dengan tangan sendiri, aku mencoba menekan dengan perlahan rasa sakit dari kaki bocah tersebut. Ternyata benar feeling awalku, bahwa dia hanya keseleo.

“Maaf, ada yang tahu rumah anak ini?” tanyaku pada anak-anak yang tadi bermain bola.

“Di dekat sawah, Kak.” Jawab teman bocah berkulit putih ini.

Akupun tersenyum geli mendengar panggilan Kakak dari bocah sekitar umur delapan tahunan, padahal umurku tahun ini genap tiga puluh tahun. Biarlah, memang mukaku masih terlihat muda.

“Adek bisa antarkan Kakak ke rumahnya?”

“Iya, Kak.” Jawab salah satu temannya.

“Pak RT, saya antarkan ke rumah anak ini dulu. Permisi Pak.” Pamitku kepada Pak RT.

“Terima kasih Mas Arkan, atas bantuannya.” Ramah Pak RT