Cerpen : Tumpuan Pada Sang Sandiman

Standard

Oleh : Muhammad Arif Ali Wasi

Suasana genting akibat pertempuran kembali terjadi meliputi seluruh wilayah nusantara. Pertempuran yang terjadi kali ini tidak hanya melibatkan para pejuang militer dengan pasukan penjajah, melainkan seluruh rakyat Pribumi ikut berperang atas nama kemerdekaan. Kedengkian yang dirasakan oleh masyarakat sudah mencapai titik didih untuk membalas perlakuan pasukan penjajah, karena telah meluluhlantakkan pusat pemerintahan dengan serangan nuklir hingga menewaskan lebih dari satu juta jiwa. Pusat pemerintahan tersebut telah hancur berkeping-keping tanpa adanya tanda-tanda kehidupan, sehingga masyarakat Pribumi menyimpulkan bahwa sang raja telah mati ditelan serangan nuklir.

Vacum of power pada pemerintahan membuat masyarakat Pribumi tidak bisa berpikir dengan jernih. Perlawanan yang tidak terorganisir dari masing-masing daerah justru menambah korban jiwa yang semakin meluas karena serangan balik dari pihak penjajah. Kondisi tersebut semakin tidak berimbang, karena masyarakat Pribumi hanya menggunakan peralatan tradisional dibandingkan dengan pihak penjajah yang menggunakan peralatan canggih semacam rudal, granat, hingga senjata api.

Kejadian tersebut membuat dunia internasional menetapkan bahwa negara Pribumi tidak diakui keberadaannya dan digantikan menjadi negara Semesta, yaitu negara sang penjajah. Ketidakadilan dunia internasional yang merugikan bangsa Pribumi, mengharuskan bahwa rakyatnya mau ataupun tidak mau untuk tunduk di bawah kekuasan sang penjajah. Jikalau ada perlawanan dari rakyat, maka tindakan dari militan penjajah tidak segan untuk membunuh rakyat tersebut.

Dari huru-hara yang terjadi akibat pembantaian oleh pihak penjajah, tidak mengurungkan niat untuk melakukan perlawanan dari seorang kriptografer bangsa Pribumi. Sebenarnya ia tinggal di lokasi pusat pemerintahan dan bekerja di sebuah lembaga persandian Pribumi. Namun beruntungnya saat terjadinya pembantaian masal oleh senjata nuklir, ia sedang melakukan perjalanan dinas untuk bertugas dibagian komunikasi sandi dalam negeri yang jauh dari pusat pemerintahan. Seorang kriptografer tersebut bernama Rubi.

Kekuasaan yang diambil alih oleh pemerintahan Semesta, membuat Rubi tidak mempunyai kewenangan penuh untuk mengendalikan komunikasi sandi dalam negeri. Karena sekarang ia dimanfaatkan untuk bekerja sebagai pengendali peralatan sistem sandi dan tidak diperkenan mencampuri tugas komunikasi sandi dalam negeri yang telah dikuasai oleh pemerintahan Semesta.

Tidak hanya sendiri, Rubi ditemani oleh tiga orang rekan satu profesinya yang berasal dari lembaga persandian Pribumi. Mereka bernama Fano, Sintia, dan Ikmal. Tiga orang rekan Rubi tersebut sebelumnya dipercaya oleh lembaga untuk menemani Rubi yang bertugas mengendalikan komunikasi pesan rahasia dalam negeri, namun mereka akhirnya hanya ditugaskan sebagai asisten Rubi untuk menjalankan peralatan sandi. Bagi mereka pekerjaan yang diberikan tersebut, layaknya sebagai seorang buruh yang hanya bertugas menjaga seharian penuh untuk menerima pesan terenkripsi yang diterima dari pemerintahan pusat tanpa harus terlibat dan mengetahui isi pesan yang telah diterimanya.

BRUUK! Terdengar suara pintu ruangan terbuka dengan sangat keras karena bantingan oleh militan Semesta. Ia memasuki ruangan kecil yang penuh dengan peralatan sandi.

“Hei orang dungu, apakah pesan yang dikirimkan oleh pemerintah pusat telah diterima?” tanya dengan kasar seorang pria berpenampilan militer kepada Rubi yang sedang tugas menjaga peralatan sandi.

“Siap belum, Pak. Jikalau pesan sudah sampai, akan segera saya berikan kepada bagian analis sandi.” Jawab Rubi walau ia merasa sangat dongkol dikatakan dungu oleh militan Semesta.

“Jika terjadi kesalahan sekecil apapun atau dengan sengaja anda memodifikasi isi pesan, saya tidak segan-segan membunuh anda. Ingat itu!” ucap militan Semesta sembari berlalu meninggalkan Rubi.

Rubi hanya terdiam, perasaannya diliputi kemarahan namun terdapat sekecil rasa ketakutan yang tak terbendungi pada dirinya. Sifatnya yang terkenal dengan berwatak keras akhirnya terlihat ciut ketika menghadapi ancaman kematian.

KRING. KRING. KRING. Suara deringan telepon terdengar nyaring memecah keheningan. Jika telepon encryption yang dibuat oleh bangsa Semesta tersebut berdering, maka hal tersebut menandakan adanya pesan masuk yang dikirim dari pemerintahan daerah ataupun pemerintahan pusat.

Secara perlahan, lembaran demi lembaran berisi teks yang tak beraturan muncul dari mesin sandi yang bernama ARFAX. Mesin tersebut sejenis faksimile, namun Rubi menyadari bahwa faksimile tersebut bukanlah sejenis faksimile pada umumnya. Mesin ini merupakan teknologi modern yang merupakan andalan bangsa Semesta untuk berkomunikasi antar titik di masing-masing daerah.

Rubi memegang lima kertas yang keluar dari mesin ARFAX. Seperti biasanya, ia berusaha untuk menganalisis teks acak tersebut sebelum ia berikan kepada bagain analisis sandi. Ia berusaha untuk mencari pola pada teks tersebut namun tak ada hasil yang didapatkan.

“Suatu hal yang mustahil, jika aku dapat mengetahui isi pesan ini dengan hanya bermodalkan lembaran kertas saja.” Ucap Rubi kepada dirinya sendiri dengan lirih.

Tok. Tok Tok. Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.

Ketika Rubi membukakan pintu terdapat dua orang rekannya yang bernama Ikmal dan Sintia datang menghampiri Rubi. Walau ia merasa senang mendapat kunjungan dari rekannya, namun perasaan khawatir tersebut muncul karena ia menyadari bahwa pimpinannya yang otoriter tidak memperbolehkan masyarakat Pribumi untuk berkumpul walau hanya sebatas berbincang-bincang. Jikalau pimpinan dan antek-anteknya menemukan hal tersebut, maka tak segan-segan pelatuk pistol dari militan penjajah akan menyerang kelompok tersebut.

“Ada apa kalian kemari?” ucap Rubi sembari berbisik kepada dua rekannya tersebut.

“Rubi, apakah kamu telah mengetahui kondisi terbaru yang terjadi di luar sana?” tanya Ikmal kepada Rubi.

“Apa yang terjadi?”

“Lagi-lagi pihak militan penjajah menyerang masyarakat Pribumi dengan brutal. Kali ini pemerintahan pusat batalion daerah Barat telah dibom melalui serangan udara. Entahlah apa yang menyebabkan mereka menyerang kembali, namun saya mendengar isu bahwa pemimpin batalion Barat mengerahkan rakyatnya untuk menyerang secara gerilya pemerintahan daerah yang telah dikuasi negara Semesta.”

“Berapa korban jiwa dari peristiwa tersebut?”

“Saya masih belum mengetahui korban jiwa dari peristiwa tersebut, namun tentunya akibat bom tersebut menelan banyak korban jiwa yang dialami bangsa Pribumi Barat.” Ucap Ikmal yang membuat Rubi merasa merinding mendengar penjelasannya.

“Darimana kamu mendapatkan kabar ini?” tanya Rubi.

“Sintia, dia berhasil menyusup ke dalam perut organisasi pemerintahan Semesta. Dia sangat pintar.” Puji Ikmal kepada Sintia.

“Sintia, apakah kamu yakin hal tersebut aman?” tanya Rubi.

“Tenang Rubi, aku mempunyai cara sendiri untuk menipu mereka dan aku sangat yakin keberadaanku di organisasi mereka bagaikan akar pohon yang akan selalu tertanam walau batang pohonnya ditebang. Yakinlah, kita akan meraih kemerdekaan kembali.” Ucap Sintia dengan penuh keyakinan.

“Apakah ada informasi lain yang kamu ketahui dari organisasi Semesta?” tanya Rubi.

“Inilah yang membawaku untuk menemuimu, Rubi. Selain untuk mengabarkan kejadian terkini yang terjadi, aku telah mengetahui sistem sandi yang digunakan pada mesin sandi ARFAX, semoga hal ini dapat membantumu.” Ucap Sintia.

Pernyataan Sintia bahwa ia mengetahui sistem sandi ARFAX membuat Rubi sangat terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Sintia telah melangkah sangat jauh untuk menyusup ke badan organisasi negara Semesta.

Tok. Tok. Tok. Terdengar suara ketukan pintu dari luar.

“Rubi, waktu kita tidak banyak. Yang mengetuk pintu yaitu rekan kita, Fano. Ia memberikan isyarat bahwa kami harus segera pergi, sebelum militan menemui kita.” Ucap Ikmal dengan khawatir.

“Sintia, mohon jawab pertanyaan saya. Apa sistem sandi dari mesin ARFAX?” tanya Rubi pada Sintia.

“Rubi, dia menggunakan sistem Transformasi pada ARFAX. Sistem itu sangat mudah dibaca walau tidak menggunakan mesin sandi untuk mendekripsi pesan.” Ucap Sintia.

“Transformasi? Mungkinkah bangsa besar seperti Semesta hanya menggunakan sistem transformasi untuk melindungi pesan?”

“Percayalah! Apakah kamu tidak sadar, Rubi? Kenapa kamu hanya membawa lembaran kertas ini kepada mereka?”

TOK. TOK. TOK. Terdengar suara ketukan pintu yang semakin keras.

“Maaf, Rubi. Waktu kita tidak banyak. Good luck, Rub.” ucap Ikmal.

Ikmal dan Sintia pergi meninggalkan Rubi melalui pintu belakang. Selang beberapa detik setelah kepergian dua rekannya, datanglah tiga orang pasukan militan menghampiri Rubi. Mereka membuka pintu dengan kasar, dan segera menarik Rubi dari ruangan.

“Hei, apa salah saya? Lepaskan!” teriak Rubi.

“Pimpinan ingin menemui anda. Siap-siaplah wahai orang dungu! Hahaha.” Ucap militan dengan nada yang tinggi.

Tangan Rubi digenggam dengan paksa oleh militan Semesta, sehingga ia seperti tak berdaya melawan kuatnya tenaga militan. Perasaan khawatir Rubi semakin memuncak, karena sebelumnya ia pernah melihat rakyat Pribumi dilakukan hal yang sama seperti dirinya dan akhirnya dibunuh atas perintah pimpinan.

Rubi memasuki ruangan raja, ia melihat singasananya yang terbuat dari kayu jati dan terlihat kokoh sehingga membuat aura kekuasaannya semakin ditakuti bagi siapapun yang mendekatinya. Ia ditemani oleh beberapa dayang cantik yang membuat setengah lingkaran di belakangnya.

Beberapa orang militer yang membawa Rubi, akhirnya menjatuhkannya di hadapan raja. Rubi merasakan posisi yang sangat hina karena ia diperlakukan tak semena-mena oleh militan, dan rajanya hanya melihat Rubi dengan senyum sinis.

“Hei sandiman dari bangsa Pribumi. Saya tau kau dikenal sebagai pahlawan bangsa Pribumi, ketika kau berhasil menyadap informasi dari pihak kami. Sehingga militer Pribumi berhasil menyerang kami sebelum kami menyerang kalian. Cih!” ucap raja dengan angkuh.

“Jika kau berada di posisi saya, saya yakin anda akan melakukan hal yang sama seperti tindakan saya. Kemerdekaan bangsa Pribumi adalah harga mati untuk kami raih.” jawab Rubi dengan nada menantang.

“Hei kamu! Beraninya kamu berbicara seperti itu dengan raja. Dasar lancang!” ucap salah satu dayang yang berada di belakang raja.

Rubi menyadari bahwa sebagian besar dayang yang berada di belakang raja merupakan bangsa Pribumi yang berkhianat, dan hanya memikirkan kesenangan dan keamanan pribadinya.

“Raja bunuh saja pemuda itu!” ucap dayang yang berada di belakangnya.

Rubi sangat terkejut dengan ucapan salah satu dayang yang berada di belakang raja, lebih herannya lagi ucapannya tersebut diikuti persetujuan oleh dayang yang lainnya. Namun raja hanya membalas dengan mengangkat tangan kanannya yang mengisyaratkan untuk diam. Lalu raja mengisyaratkan kepada pasukannya dengan mengangkat kepalan tangan kanannya, dan masuklah tiga orang militan dengan senjata pistol yang cukup besar di tangannya.

“Grup penembak, tahan dulu pelatukmu. Jika saya beri aba-aba tembak, jangan ragu untuk menembak orang bodoh itu.” Ucap raja menggertakkan nyali Rubi.

Rubi telihat lemas dan pasrah karena nyawanya seakan-akan telah diujung kematian. Ia terkulai lemas sambil menundukkan kepalanya di hadapan raja. Raja melihat suasana tersebut dengan wajah tanpa dosa dan senyuman riang di bibirnya.

“Jika kamu mau menjawab pertanyaan dari saya, maka saya berjanji tidak akan membunuhmu.” Ucap raja.

“Apa pertanyaan tersebut?” tanya Rubi.

“Siapa tokoh penggerak dibalik masyarakat Pribumi pada saat ini? Sehingga masyarakat Pribumi melakukan perlawanan terhadap kami, walau hal tersebut hanyalah sia-sia belaka. Tak ada hasil yang kalian dapatkan, malah merugikan bangsa Pribumi sendiri.” tanya raja.

Rubi hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari raja. Suasana semakin menegang, karena hal tersebut membuat raja semakin kesal. Sang raja berdiri dari singasananya yang kokoh dan menghampiri Rubi.

“Saya tidak akan jawab.” jawab Rubi secara lirih.

“Baiklah, sepertinya anda lebih memilih mati. Pasukan tembak, bersiaplah kalian!” ucap raja.

“SIAP!” jawab serempak oleh tiga orang militan bersenjata. Merekapun membentuk barisan sejauh sepuluh meter tepat di hadapan Rubi.

“Jika pada hitungan ketiga, anda masih belum menjawab. Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini.” Ancam raja.

“Satu.” Raja menahan ucapannya dan menunggu respon dari Rubi, namun Rubi masih tidak merespon.

“DUA!” ucap raja dengan nada yang semakin keras. Tetapi Rubi hanya diam menunduk.

“TIGAA!”

DORRRRR. Suara tembakan meletus membuat tubuh seseorang menjadi tak berdaya. Ia mengerang kesakitan tak berdaya menahan sakit pada tembakan yang tepat di bagian dadanya. Semua orang terkejut, bahkan para dayang berteriak histeris menyaksikan bahwa raja mereka tertembak oleh pistol yang dipegang oleh Sintia. Sintia menembak raja di balik pot tanaman besar, yang terlihat aman jika digunakan untuk bersembunyi.

Setelah Sintia menembak raja, dengan segera ia menembak dengan tepat sasaran ke tiga orang regu tembak kerajaan. Kelompok bersenjata tersebut lumpuh tak berdaya akibat tembakan Sintia.

“TERDAPAT SERANGAN LUAR DARI RAKYAT PRIBUMI! PASUKAN HARAP BERSIAP!” ucap pasukan militan Semesta yang berada di luar kerajaan sehingga terdengar dari dalam kerajaan.

Pasukan pertahanan kerajaan yang berada di dalam mengalami kebingungan, karena ia mendengar kabar serangan dari luar. Namun sang pemimpin mereka telah tewas terbunuh oleh tembakan dari Sintia. Akhirnya dengan keputusan sepihak dari komandan pertahanan, ia memerintahkan sebagian kecil pasukan yang berada di dalam kerajaan menyerang Sintia dan Rubi serta sebagian besar untuk menghadang serangan dari luar.

Kembali terjadi peristiwa tak terduga, karena secara tiba-tiba Ikmal muncul untuk menahan militan Semesta yang akan menyerang Sintia dan Rubi. Dengan peralatan pedang dan tombak yang digunakan, Ikmal mencoba untuk menghadang sebisa mungkin kekuatan militan yang menyerang dirinya sedangkan Sintia membantu Ikmal dengan menembakkan peluru yang tersisa ke militan yang menyerang Ikmal.

“Rubi, segera kirim pesan melalui jaringan radio kepada seluruh daerah agar segera melakukan penyerangan gerilya. Dan jika kamu sanggup, tembus ke bagian komunikasi sandi tempatmu bekerja dahulu untuk mengamankan pesan tersebut agar tidak disadap oleh bangsa Semesta. Cepat!” ucap Ikmal dengan tegas sembari menahan serangan militan Semesta.

Rubi segera menuju ke tempat jaringan radio melalui jalur pintas, sehingga aman dari serangan pasukan pertahanan kerajaan. Ia menyebarkannya sinyal radio ke seluruh pelosok negeri agar masing-masing daerah melakukan serangan gerilya kepada pemerintahan Semesta. Selang beberapa menit, ia mendapatkan berbagai balasan pesan melalui sinyal radio bahwa masyarakat Pribumi di masing-masing daerah telah memulai serangan dadakan baik dari serangan dalam maupun serangan dari luar ke pemerintahan Semesta.

Perlawanan antara pasukan militer Semesta dengan bangsa Pribumi yang sebelumnya didominasi oleh bangsa Semesta membuat perlawanan yang dirancang oleh Rubi dan rekan-rekannya menjadi seimbang, karena taktik yang dilancarkan oleh bangsa Pribumi dengan menyusup ke masing-masing badan pemerintahan tergolong berhasil. Para pejuang Pribumi berhasil menguasai sektor dalam dan menguasai senjata perang, sistem komunikasi Semesta, serta penyerangan langsung kepada masing-masing raja di setiap kerajaan. Penyerangan terhadap raja di masing-masing kerajaan terbukti berhasil, karena mereka merupakan salah satu faktor sebagai ujung tombak komando yang menggerakkan pasukan militer Semesta. Dengan ketiadaan pemimpin di tengah kendali militan Semesta, maka bangsa Pribumi dapat memanfaatkannya dengan menyerang secara langsung militan Semesta yang tak terorganisir.

Namun perjuangan bangsa Pribumi tidaklah mudah, banyak korban jiwa yang diterima oleh bangsa Pribumi akibat senjata canggih dari pengamanan pihak negara Semesta. Tetapi pasukan berani mati dari bangsa Pribumi yang menyusup ke kerajaan, berhasil membuat kelumpuhan total di masing-masing kerajaan Semesta yang tersebar di wilayah nusantara.

Pertempuran berlangsung selama tiga hari yang sebagian besar dimenangkan oleh bangsa Pribumi. Hanya terdapat satu daerah yang masih dikuasai oleh miltan Semesta karena kekalahan yang diderita oleh rakyat Pribumi di daerah tersebut. Namun raja dari pihak Semesta di daerah tersebut telah tewas dalam pertempuran, sehingga tanpa ragu wakil dari rakyat Pribumi mengancam akan melakukan serangan ke daerah tersebut jika pasukan militan tidak meninggalkan daerah kekuasaan dalam waktu dua puluh empat jam.

Perang tidak terjadi antara dua kubu, karena pasukan militan Semesta yang tersisa menyerahkan daerah kekuasaannya ke tangan penduduk Pribumi. Jikalau mereka tetap memaksakan perang untuk mempertahankan wilayah, tentulah akan mengalami kekalahan karena lawan mereka adalah penduduk Pribumi dari seluruh wilayah nusantara. Sehingga pada akhirnya bangsa Pribumi mendapatkan kemerdekaan dari bangsa Semesta yang telah menjajah nusantara selama lima bulan.

Selama perang antara bangsa Pribumi dan negara Semesta telah merenggut korban jiwa yang cukup besar, yakni lebih dari dua juta orang penduduk Pribumi telah tewas di medan perang. Kejadian tersebut menyimpan duka yang mendalam bagi rakyat Pribumi ditambah ketiadaan pemimpin yang mereka segani telah tewas oleh serangan nuklir pada awal perang berlangsung. Walau dalam keadaan berkabung, masyarakat Pribumi harus segera mencari pemimpin baru yang akan menegakkan kembali pemerintahan Pribumi dalam satu komando. Tujuan lainnya adalah untuk mengangkat nama negara Pribumi agar diakui kembali oleh masyarakat dunia, bahwa Pribumi telah merdeka.

Muncul satu nama yang pantas menjadi pemimpin baru bagi bangsa Pribumi. Ia bernama Ikmal yang sebelumnya bekerja di lembaga persandian Pribumi. Saat pertempuran berlangsung, ia merupakan panglima perang di medan pertempuran sehingga dengan gagah berani ia berhasil menumpas pasukan militan Semesta. Walau ia diangkat oleh rakyatnya untuk menjadi seorang pemimpin, namun ia menyadari faktor kemenangan yang diraih bangsa Pribumi bukanlah dari kepemimpinannya di medan perang. Ia mengatakan pada rakyatnya, bahwa kemenangan ini tidak akan diraih jika tidak ada komunikasi antara masing-masing daerah untuk bersama-sama menumpas penjajah. Disinilah peran penting sang sandiman yang bertugas di belakang layar sebagai pembawa caraka, sehingga tumpuan utama kemenangan bangsa terletak di bahu seorang sandiman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s