Monthly Archives: March 2013

Berbagi Pengalaman (3)

Standard

Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi pengalaman mengikuti ujian masuk ke Sekolah Tinggi Sandi Negara. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk adik-adik calon mahasiswa yang berminat untuk masuk ke sekolah yang menurut saya “Alhamdulillah” itu. πŸ˜€

Tahun 2010 sebenarnya saya pernah daftar ke perguruan tinggi ini, tapi saya harus berhenti berjuang hingga tes psikotes yaitu ujian tahap ke-3 (saat iu). Tahun 2011, saya mengikuti ujian SPMB STSN lagi, berawal dari kerja keras disertai ikhtiar hingga berakhir dengan manis. Ya, saya masuk ke dalam 40 orang pilihan STSN.

SPMB STSN 2011, saya sudah pantau websitenya dari 1 bulan sebelum pembukaan pendaftaran online. Saat itu, website sudah di update oleh pihak STSN, pebukaan pada awal april (kalo gak salah). Pendaftaran hari pertama pada pukul 07.00 pagi, saya membuka link pendaftaran, dan saat mendaftar saya berada di pendaftar ke-15 saat itu. Jangka waktu 1 bulan pendaftaran online, akhirnya hanya terdapat 1814 pendaftar online. Pengumuman selanjutnya adalah calon mahasiswa diminta untuk pendaftaran ulang dengan verifikasi secara langsung di Sekolah Tinggi Sandi Negara untuk selanjutnya mengikuti tes akademik di gor dekat ragunan. Saat verifikasi, gunanya untuk kepastian peserta pendaftar, dengan bukti KTP atau kartu identitas lainnya. Mungkin yang agak kaget, saya ditanya nomor telepon orang tua yang saya cantumkan di pendafataran online. Untungnya saya bisa jawab.

Tahap selanjutnya, beranjak ke tes akademik. Tahun 2010, saya melakukan tes akademik di Sekolah Tinggi Sandi Negara, tetapi untuk tahun 2011 saya melakukan tes akademik di Gor Ragunan. Dengan ragu-ragu akan tujuan, saya sendiri menuju ke daerah ragunan untuk pertama kali. Saya berangkat pukul 10 pagi dari Sukabumi, sampai sana siang menjelang sore. Sempat menjadi gelandangan disana, karena seperti orang ilang untuk mencari tempat yang dituju. Tanpa malu tanya kesana-kemari, akhirnya saya temukan juga Gor Ragunan tempat tes akademik. Jika tidak salah saya lihat dari jumlah tempat duduk, hanya 1400 yang melakukan verifikasi ulang.

Jujur, pengalaman saat di Ragunan. Saya berusaha cari tempat penginapan atau kos yang ada di daerah tersebut, tetapi apa daya usaha mencarinya pun sia-sia. Daerah kos dan penginapan sudah penuh terisi oleh para peserta SPMB. Hingga pukul 20.00, tujuan saya bukan untuk mencari tempat penginapan, melainkan tempat singgah apa saja yang bisa dijadikan untuk tempat tidur. Syukur alhamdulillah, saat itu saya masih bisa tidur di mesjid dalam kompleks Gor Ragunan, ditemani oleh para peserta pendaftar yang tidak kebagian penginapan atau mungkin mereka memang sengaja untuk mengirit uang dengan menginap di mesjid. ( tujuan sama, hha πŸ˜€ hemat Rp. 50.000). Tetapi resiko yang saya dapat, saya susah untuk tidur. Mungkin saat itu, saya baru bisa tidur jam 2 pagi, dan bangun jam 4 pagi, karena adzan subuh. Nyamuklah penyebab utamanya,, πŸ˜₯

Tes masuk, dilakukan secara dua gelombang. Saya termasuk ke dalam gelombang pertama. Saat tes, saya berusaha melawan ngantuk sekaligus menghadapi soal-soal MIPA, TPA, dan Bahasa Inggris. Tetapi alhamdulillah semua berjalan lancar. Hingga pengumuman akan diumumkan satu minggu kemudian. Perjalanan pulang dari Ragunan ke rumah, saya lagi-lagi “kesasar” dengan naik busway untuk pertama kalinya… *_* Tak apa, semua bisa jadi pengalaman baru…

LOLOS!! Alhamdulillah tes akademik bagi saya, bukan sebagai penghalang masuk untuk menjadi calon mahasiswa. Saat itu, jumlah pendaftar yang diterima hanya 400 orang. Selanjutnya adalah mengikuti tes psikotes, yang akan diadakan langsung di Sekolah Tinggi Sandi Negara. Berangkat setelah subuh dari Sukabumi, saya melaju dengan angkutan umum menuju kampus idaman saya waktu itu. Seperti halnya tes psikotes pada umumnya, saya mengikuti alur tes dari a-z, yang dimulai dari jam 9 pagi hingga sore.

Menunggu dan menunggu hasil pengumuman selanjutnya, akhirnya untuk tahun 2011 saya berhasil lolos untuk ke tahap berikutnya. Sontak, itu sedikit kejutan. Karena saya mempunyai peluang untuk bisa masuk ke STSN, saat itu calon mahasiswa/i yang diterima hanya 200 orang. Jadi ada peluang sekitar 1/5 untuk masuk ke STSN.

Tahap selanjutnya adalah tahap administrasi, saat itu hanya mengumpulkan lampiran-lampiran administrasi berupa ijazah, skck, surat tanda sehat, dll… Semua, sebagai sarat masuk untuk ke tahap berikutnya yaitu tes kesehatan dan olahraga.

Masuk ke tahap ke-4 ini, terbagi menjadi dua hari. Tes kesehatan pada hari pertama dan tes olahraga pada hari kedua. Saat itu, saya tidak mungkin untuk berangkat-pulang-berangkat dari Sukabumi ke Bogor, saya pun mencari tempat penginapan rumah warga disekitar kampus. Dengan biaya Rp. 25.000 semalam, saya bisa menginap disana dengan fasilitas seadanya.

Hari pertama, saya mengikuti rangkaian tes kesehatan dari tes gigi, mata, urin, tinggi badan, berat badan, paru-paru, dll. Tensi darah tak luput di cek, saya dengar dari dokternya ternyata tensi darah saya sedikit lemah. Katanya “jarang olahraga ya, Mas.” Saya jawab “iya”. Haha πŸ˜€

Hari kedua, tes olahraga. Walau cukup melelahkan dengan mengikuti lari memutari lapangan selama 12 menit, pull up, push up, shit up, shuttle run, saya bisa dibilang rata-rata ke bawah dibandingkan dengan yang lain. Saat selesai tes, saya pulang dengan rasa pesimis. Karena dihari pertama, saya dapat teguran jarang olahraga, ditambah dengan hari kedua, hasil tes olahraga saya termasuk yang palling rendah. Saya laporan ke orangtua dan merekapun mengucapkan “Ya, serahkan saja sama Allah. Mudah-mudahan diberi hasil yang terbaik, jangan lupa berdoa”.

Dan alhamdulillah hasilnya diluar prediksi, saat hasil pengumuman di umumkan. Saya masuk ke dalam 100 orang yang lolos ke tahap selanjutnya. Rasa dag-dig-dug menunggu pengumuman terbayar sudah dengan mengucap syukur bisa lolos ke tahap ke-5.

Tes selanjutnya adalah wawancara. Tes ini, mungkin salah satu tes vital untuk pantas atau tidaknya calon mahasiswa yang layak untuk masuk STSN. Saya mengikuti 3 tahap tes wawancara, yaitu wawancara akademik, wawancara psikologi, dan wawancara tentang pengetahuan kenegaraan. Tak heran, saat mengikut tes ini pasti ditanya “macem-macem” dari A-Z. Saran untuk adik-adik yang masuk ke dalam tahap ini, utamakan JUJUR dan jaga etika. πŸ˜€ okey!

Wawancara apa adanya di tes tahap ke-5, menempatkan saya ke dalam 78 peserta yang lolos ke dalam tes pantukhir. Apa itu pantukhir? tes ini merupan final, untuk menentukan siapa saja yang layak masuk ke dalam 40 orang pilihan STSN. Tak tanggung-tanggung, kami ber-78 orang itu akan diwawancara langsung oleh para petinggi Lembaga Sandi atau pihak penyelenggara STSN. Hanya ditanya sekitar dua puluh menitan, keluar ruangan. Dan pengumuman selanjutnya adalah menunggu hasil tiga hari kemudian di web STSN. Siapa saja yang akan masuk sebagai mahasiswa/i STSN angkatan 10.

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, (sedikit lebay :p ) untuk menunggu hasil, AKHIRNYA!!!!!!! Saya membuka pengumuman pada pukul 11 malam…. Dengan berhadapan depan komputer rumah disertai modem yang sedikit lemot, saya masuk ke dalam 40 orang itu.

Terharu! Karena mengintip rangkaian cerita selama satu tahun ke belakang. Perjuangan itu terbayar manis, dengan hadiah dari Allah…. πŸ˜€ Akhirnya saya bisa juga masuk ke STSN yang katanya memang sekolah GRATIS dan insyaAllah tak serumit PTK atau PTN lain…. Sayapun pun melakukan registrasi ulang, untuk menjawab kepastian sebagai mahasiswa STSN angkatan 10 ke kampus STSN….

Dan kesan saya setelah masuk menjadi mahasiswa. “Kalian tidak akan pernah menyesal untuk masuk sini.”

Pesan untuk adik-adik calon mahasiswa, jangan takut mendaftar dan mencoba di STSN. Usaha disertai doa, insyaAllah kalian masuk ke sekolah impian ini. πŸ™‚ Tetap semangat dan berjuang…. πŸ˜€

Next, Berbagi Pengalaman (4). Tentang apa ya? Tunggu aja, hahahah…. πŸ˜€

Teater HAKISA

Standard

Sekolah di Sandi Negara ternyata tak menutup kemungkinan diadakannya sebuah klub seni teater. Jumat, 22 Maret 2013 akhirnya terbentuklah sebuah kelompok teater yang bernama HAKISA. Kenapa HAKISA? Ya, itu pertama kali terucap dari saya sendiri selaku salah satu dari 7 orang pencetus teater di sekolah persandian ini. ( HHe, πŸ˜€ )

HAKISA terbentuk dari singkatan kata “Hati Kita Satu”. Sebenarnya kami akan membuat sebuah nama yang tak jauh berbeda dari embel-embel persandian, karena penampilan teater sebelumya sebelum terbentuk klub ini, kami pernah menampilkan sebuah pertunjukan dengan judul naskah Caraka Satria karya Mba Nisa. Dan saat itu, teater kami dipanggil dengan nama Teater Caraka Satria.

Tetapi Jumat lalu, kami meresmikan suatu kelompok teater sekaligus pemberian nama oleh 7 orang pencetus teater. Siapa saja mereka??? YA, diantaranya adalah Gigih Bagus selakuΒ  Koordinator Teater, lalu saya sendiri Muhammad Arif Ali Wasi, Susilo Gumilang, Khairunnisa Puspa, Sundari Tianingrum, Sylvia Kharisma, dan Warisyatno.

Ya, mungkin agak sedikit unik. Di teater ini, saya dan Susilo Gumilang kembali bertemu di Teater Hakisa, yang sebelumnya pernah bertemu di Teater Detak. Mungkin lebih jelasnya, pernah saya sampaikan di artikel ini. ^^

Disampaikan lebih lanjut oleh Gigih Bagus saat peresmian kelompok teater ini, target penampilan yang terdekat saat ini adalah Try Out STSN dan Art Night STSN. Sedangkan impian beliau adalah membuat pementasan mandiri yang mengatasnamakan Teater. Untuk itu, kita lihat saja. Akan sejauh mana Teater ini berkiprah di STSN, harapan saya sih… tampil ke luar instasi.. Mungkin minimal ikut perlombaan teater… Doakan saja…. HAhahah… πŸ˜€

Oh ya, ini jargon kami…

“Satu Hati di Atas Panggung, HAKISA!”