Menggenggam Dunia – (17) Pertempuran Dimulai

Standard

“Kepada seluruh peserta Lomba Murid Teladan Sekolah Dasar Tingkat Kota diharapkan berkumpul di ruang perlombaan, dan kepada para pendamping dimohon untuk keluar ruangan karena perlombaan akan segera dimulai. Terimakasih.” ucap operator dengan speakernya.

Rahmat tidak banyak berbicara dan hanya tersenyum, terlihat mukanya sangat gugup karena perlombaan pertamanya akan dimulai. Ia segera pamit kepadaku, Pak Romli sebagai pendamping serta teman-temannya. Motivasi dari teman-temannya membuat Rahmat sedikit lebih tenang.

Sebanyak dua puluh delapan peserta yang mengikuti perlombaan, dan hanya dua belas peserta yang masuk dalam babak kedua. Semoga minimal Rahmat masuk ke babak kedua sesuai harapan pak Romli dan guru lain.

Aku melihat profil data peserta yang diberikan Pak Romli. Dua puluh empat peserta siswa kelas lima dan empat peserta siswa kelas empat termasuk Rahmat. Terbesit pertanyaan ketika aku melihat terdapat dua sekolah dengan dua perwakilan.

“Pak, bukankah tiap daerah mewakili satu orang?” tanyaku pada Pak Romli.

“Benar, terkecuali dengan perwakilan sekolah yang berhasil masuk dua besar murid teladan tahun lalu. Di daftar tersebut, ada dua sekolah yang wakilnya dua peserta, pihak juri menilai demikian karena menganggap masih terdapat siswa yang layak bersaing  pada perlombaan ini dari setiap sekolah yang berhasil masuk dua besar.”

Aku mengangguk mendengar penjelasan dari Pak Romli, karena memang masuk akal untuk memberi kesempatan pada saingan sang juara di tiap sekolah untuk mengikutinya.

“Dua peserta dari SD Gentra itu yang harus diwaspadai.” Ungkap Pak Romli.

“Kenapa, Pak?”

“Semenjak diadakannya perlombaan siswa teladan sepuluh tahun yang lalu hingga sekarang, SD Gentra selalu masuk ke babak selanjutnya. Bahkan tiga tahun berturut-turut menjuarai perlombaan ini, tetapi sayangnya dipatahkan rekornya oleh SDN Pajajaran yang menjuarainya  tahun lalu dan SD Gentra diposisi kedua. Tentunya kedua SD itu berhak melaju ke tingkat provinsi karena masing-masing kota mewakili dua peserta.”

Aku melihat nama dari data peserta yang mewakili SD Gentra yaitu Fauzi dan Arif sedangkan yang mewakili SDN Pajajaran adalah Taufik dan Dewangga.

“Melihat dari segi prestasi, ke empat orang tersebut pantas masuk babak final.” Ucap Pak Romli.

“Prestasinya apa saja, Pak?”

“Fauzi pernah menang menjuarai lomba cerdas cermat saat ia duduk di bangku kelas empat, dia sangat pintar dalam berkomunikasi dan pandai menganalisis masalah. Arif tak kalah hebatnya, walau ia hanya sesekali berprestasi tetapi ia termasuk anak yang cerdas. Untuk Taufik dan Dewangga, saya kurang terlalu paham dengan kelebihan mereka, setau saya Taufik adalah anak yang pintar dari SDN Pajajaran, dan Dewangga cakap dalam bahasa Inggris.” jelas Pak Romli.

Mendengar semua cerita dari Pak Romli tentang profil peserta, membuatku sedikit pesimis dengan kemampuan Rahmat. Aku meyakini Rahmat tidak kalah bersaing dengan ke empat peserta itu dari kelebihannya yang ia punya, tetapi bagaimanapun pengalamanlah yang berbicara di setiap perlombaan. Walau Rahmat tidak juara, setidaknya ia mempunyai pengalaman dari perlombaan ini.

Aku sesekali mengintip Rahmat lewat jendela. Terlihat ia sangat tenang dibandingkan dengan peserta lain dalam mengerjakan soal-soal ujian.

Semoga perlombaan ini menjadi batu loncatan Rahmat untuk terus berprestasi.

***

 

Bel tanda ujian selesai telah bunyi, satu per satu kertas ujian para peserta diambil oleh panitia lomba. Terlihat dari wajah para peserta keluar dengan mimik muka yang beraneka ragam, ada peserta yang kesal dan ada pula yang bangga. Aku melihat Rahmat dengan bangga keluar dari ruangan. Teman-teman Rahmat dengan lekas mendekatinya bak menyambut superhero.

“Gimana Met? Bisa gak?” tanya Ento, teman Rahmat.

“Ya gitu deh.” Canda Rahmat.

“Wah Mamet calon pengganti Isak sama Albet nih.” Timpal Saiful.

Rahmat dan teman-temannya terlihat sangat harmonis. Melihat mereka mengingatkanku dengan masa kecil. Masa disaat kebahagiaan nyaris sempurna dalam hidupku.

“Bagaimana soal ujiannya, Mat?” tanya Pak Romli.

“Jujur Pak, cukup susah. Terutama soal bahasa Inggris, ada kata-kata yang sulit.” Ucap Rahmat.

Aku tersenyum dengan ucapan polosnya, walau Rahmat berkata susah tetapi mimik wajahnya yang bahagia terlihat bahwa ia sukses mengerjakan soal. Aku mengusap rambut Rahmat.

“Ya sudah, Bapak dengar pengumuman satu jam lagi. Lebih baik kita istirahat dulu dan semoga saja Rahmat bisa masuk ke babak kedua.” Harap Pak Romli.

“Memang ada berapa babak , Pak?” tanya Rahmat.

“Ada tiga babak, Mat. Berdoa saja, dan yakin kamu harus bisa masuk babak final ya. Yakin dengan kemampuanmu, dan kamu jangan sedih jika belum bisa masuk babak berikutnya. Anggap perlombaan ini sebagai rintangan pertama dalam menghadapi tantangan berikutnya agar lebih siaga. Siap?”

“Iya Pak, terima kasih sudah semangati Rahmat.” balas Rahmat.

“Met, kita keliling tempat ini dulu yuk! Gila, bagus banget ni gedung, beda sama sekolahan kita.” Ajak Saiful dengan bercanda.

“Kak Arkan, Pak Romli, Rahmat keliling dulu sebentar ya. Nanti Rahmat ke tempat ini lagi.” Pinta Rahmat.

“Kamu kan harus istirahat, Mat.” Jawabku.

“Tidak apa-apa, Mas Arkan. Biar mereka bermain dulu.” Ramah Pak Romli.

Rahmat menatapku kembali dengan penuh harap, ia tak akan pergi tanpa seizinku

“Ya sudah, jangan jauh-jauh ya.”

Rahmat dan teman-temannya senang dan segera beranjak untuk mengelilingi gedung. Suasana di gedung ini memang cukup menentramkan hati, pemandangan sekitar dikelilingi taman yang dipenuhi dengan hiasan bunga beraneka warna. Terdapat beberapa burung dalam sangkar dan kelici yang dibiarkan bebas di taman. Indah dan unik, udara tak seburuk yang aku bayangkan jika berada di kota. Udara sekitar sungguh segar mungkin karena banyaknya tanaman yang bermekaran mengelilingi gedung.

“Saya yakin, Mas Arkan pasti sedang menikmati pemandangan di sekitar gedung ini.” Ucap Pak Romli, mengejutkan lamunanku.

“Wah, iya Pak. Bapak tau saja, pemandangannya seperti bukan di kota ya, Pak. Pertama masuk ke tempat ini, saya sempat terkejut dan terpana dengan tempat ini. Pemandangan indah yang baru kali ini saya rasakan di tengah-tengah kota.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s