Menggenggam Dunia – (15) Cinta yang tak terbalas

Standard

Pikiranku menjadi penuh tebakan, ia akan menerimaku atau menolakku. Ratih menangis di hadapanku. Aku tak tahan melihatnya menangis, seakan hatiku terasa teriris-iris melihat tetesan demi tetesan air matanya.

“Ratih, kenapa?” tanyaku memecah kesunyian melihat tangisannya.

“Mas Arkan.” Tangisnya mengucap namaku.

“Maaf, aku telah lancang mengucapkan isi hatiku.”

Bu Tia, ibu kandung dari Ratih keluar dari rumah dan menghampiriku bersama Ratih, “Arkan? Kok berdiri di depan, ayo mampir ke rumah. Ratih, kok tidak diajak..”

Ucapan Ibu Tia terhenti, tampaknya ia baru menyadari bahwa anaknya menangis di hadapanku. Aku tidak tahu harus berkata apa padanya.

Ibu Tia khawatir, “Ratih? Kenapa kamu menangis? Arkan, kenapa Ratih..?”

“Maafkan saya, Bu. Saya telah membuat Ratih menangis. Saya bersalah.” Ungkap sesalku.

“Hah? Apa yang telah kamu perbuat dengan anak saya?” tanya Ibu Tia dengan khawatir.

Aku tersentak oleh pertanyaan Ibu Tia, aku tak percaya bahwa kejadiannya akan seperti ini, “Saya..”

“Tidak, Mah. Ratih menangis bukan karena Mas Arkan. Mas Arkan tidak salah, dia hanya..” belum selesai bicara, ia lari menangis memasuki rumahnya.

Sesaat Ratih memasuki rumah, keluar pria berumur sebaya denganku dengan wajah heran. Ratih tidak memiliki Kakak ataupun adik, dia anak tunggal di keluarganya.

Apa mungkin saudara Ratih?

“Ada apa dengan Ratih, Bu?” Tanya pria yang berpakaian rapi itu.

Bu?

“Oh ya, Mas. Tidak apa-apa.” Jawab Bu Tia, terlihat sekali raut mukanya yang menyembunyikan hal ini.

Pria itu mengangguk, dan masuk ke dalam rumah tanpa sepatah katapun.

“Arkan, Ibu mau bicara.” Ucap Bu Tia sembari mengajakku duduk di kursi teras rumah.

Aku diliputi rasa sedih dan penasaran, kenapa tingkah Ratih seperti itu? Dan siapa pria yang tadi itu?

“Yang tadi itu calon suami Ratih.” Ungkap Bu Tia mengejutkanku.

Calon suami?

Tak terbayangkan, hatiku dalam sekejap runtuh, bagai halilintar yang menyambarku tiba-tiba dan menghancurkan batin ini. Tangan dan mulutku bergetar, saking tidak percaya dengan yang diungkapkan ibu kandung Ratih, ibu yang kuharapkan sebagai mertuaku nanti. Air mata ini meleleh tak kuasa menahan rasa sakit hati yang baru kurasakan dalam hidup ini. Cintaku tidak terbalaskan, anganku hilang dalam sekejap. Aku merasa benci pada diriku sendiri. Aku yang sangat bodoh, tidak mengerti kondisi Ratih yang telah dipinang orang lain.

“Arkan, kamu kenapa?” Tanya Bu Tia menyadarkanku.

“Tidak apa-apa.”

“Tolong jawab yang jujur, kenapa Ratih menangis? Kalian bertengkar?”

“Tidak, Bu.”

“Lantas?”

“Aku mengucapkan hal yang tidak sepantasnya aku ucapkan.”

“Maksudmu?”
“Maaf, Bu. Lebih jelasnya tanyakan pada Ratih, saya pamit pulang.” Ucapku dengan tak hentinya meneteskan air mata.

Dengan segera aku beranjak pergi dari Bu Tia. Aku yakin Bu Tia sangat kecewa denganku. Bu Tia terus memanggil sampai aku menghilang di hadapannya, tetapi tak kuhiraukan.

           Aku memang manusia bodoh.

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s