Monthly Archives: February 2012

Menggenggam Dunia – (15) Cinta yang tak terbalas

Standard

Pikiranku menjadi penuh tebakan, ia akan menerimaku atau menolakku. Ratih menangis di hadapanku. Aku tak tahan melihatnya menangis, seakan hatiku terasa teriris-iris melihat tetesan demi tetesan air matanya.

“Ratih, kenapa?” tanyaku memecah kesunyian melihat tangisannya.

“Mas Arkan.” Tangisnya mengucap namaku.

“Maaf, aku telah lancang mengucapkan isi hatiku.”

Bu Tia, ibu kandung dari Ratih keluar dari rumah dan menghampiriku bersama Ratih, “Arkan? Kok berdiri di depan, ayo mampir ke rumah. Ratih, kok tidak diajak..”

Ucapan Ibu Tia terhenti, tampaknya ia baru menyadari bahwa anaknya menangis di hadapanku. Aku tidak tahu harus berkata apa padanya.

Ibu Tia khawatir, “Ratih? Kenapa kamu menangis? Arkan, kenapa Ratih..?”

“Maafkan saya, Bu. Saya telah membuat Ratih menangis. Saya bersalah.” Ungkap sesalku.

“Hah? Apa yang telah kamu perbuat dengan anak saya?” tanya Ibu Tia dengan khawatir.

Aku tersentak oleh pertanyaan Ibu Tia, aku tak percaya bahwa kejadiannya akan seperti ini, “Saya..”

“Tidak, Mah. Ratih menangis bukan karena Mas Arkan. Mas Arkan tidak salah, dia hanya..” belum selesai bicara, ia lari menangis memasuki rumahnya.

Sesaat Ratih memasuki rumah, keluar pria berumur sebaya denganku dengan wajah heran. Ratih tidak memiliki Kakak ataupun adik, dia anak tunggal di keluarganya.

Apa mungkin saudara Ratih?

“Ada apa dengan Ratih, Bu?” Tanya pria yang berpakaian rapi itu.

Bu?

“Oh ya, Mas. Tidak apa-apa.” Jawab Bu Tia, terlihat sekali raut mukanya yang menyembunyikan hal ini.

Pria itu mengangguk, dan masuk ke dalam rumah tanpa sepatah katapun.

“Arkan, Ibu mau bicara.” Ucap Bu Tia sembari mengajakku duduk di kursi teras rumah.

Aku diliputi rasa sedih dan penasaran, kenapa tingkah Ratih seperti itu? Dan siapa pria yang tadi itu?

“Yang tadi itu calon suami Ratih.” Ungkap Bu Tia mengejutkanku.

Calon suami?

Tak terbayangkan, hatiku dalam sekejap runtuh, bagai halilintar yang menyambarku tiba-tiba dan menghancurkan batin ini. Tangan dan mulutku bergetar, saking tidak percaya dengan yang diungkapkan ibu kandung Ratih, ibu yang kuharapkan sebagai mertuaku nanti. Air mata ini meleleh tak kuasa menahan rasa sakit hati yang baru kurasakan dalam hidup ini. Cintaku tidak terbalaskan, anganku hilang dalam sekejap. Aku merasa benci pada diriku sendiri. Aku yang sangat bodoh, tidak mengerti kondisi Ratih yang telah dipinang orang lain.

“Arkan, kamu kenapa?” Tanya Bu Tia menyadarkanku.

“Tidak apa-apa.”

“Tolong jawab yang jujur, kenapa Ratih menangis? Kalian bertengkar?”

“Tidak, Bu.”

“Lantas?”

“Aku mengucapkan hal yang tidak sepantasnya aku ucapkan.”

“Maksudmu?”
“Maaf, Bu. Lebih jelasnya tanyakan pada Ratih, saya pamit pulang.” Ucapku dengan tak hentinya meneteskan air mata.

Dengan segera aku beranjak pergi dari Bu Tia. Aku yakin Bu Tia sangat kecewa denganku. Bu Tia terus memanggil sampai aku menghilang di hadapannya, tetapi tak kuhiraukan.

           Aku memang manusia bodoh.

Menggenggam Dunia – (14) Maukah menikah denganku?

Standard

Hari demi hari kondisi Rahmat membaik dan suhu tubuhnya menurun. Kondisi Rahmat yang demikian berpeluang untuk mengikuti lomba siswa teladan tingkat Kota.

Dengan kondisi Rahmat yang sedang sakit, hubunganku dengan Ratih semakin dekat. Ratih setiap waktu selalu mengunjungi rumahku, selain menjenguk Rahmat, aku dan Ratih banyak berbincang-bincang.

Sempat iseng kubertanya pada Ratih mengenai tipe pria pendamping hidupnya. Ternyata sebagian besar aku telah memenuhi kriteria yang Ratih inginkan, kecuali satu hal yang tidak sesuai dengan diriku. Dia menginginkan orang yang sederhana dan membenci orang yang bermewah-mewahan.

Terkadang saat bekerja sebagai dokter di kota, aku masih mempunyai sifat bermewah-mewahan. Hidup di desa dengan kesederhanaan hanya sebagai selingan hidup, karena bosan dengan kemewahan. Tetapi hidup di desa ini sesungguhnya mahal, karena banyak sekali pelajaran yang kupetik dari kehidupan yang sederhana ini.

“Kak, besok Mamet sekolah ya?” pinta Rahmat

“Ya Mat, lagipula kondisimu sudah membaik. Di sekolah jangan terlalu memaksakan berpikir dan banyak istirahat ya.”

Terlihat secercah kebahagiaan pada wajah Rahmat. Aku senang melihat ia senang, berkumpul bersama teman sebaya memang membahagiakannya.

Aku teringat Ratih, perilakunya seakan memberi harapan bahwa ia akan menerimaku.

Aku sangat yakin sekali, bahwa bersamanya akan terasa bahagia. Wajahnya menentramkan hati, perilakunya meluluhkan jantungku.

“Kak Arkan?” sapa Rahmat mengagetkanku.

“Ada apa, Kak? Kok melamun?”

“Hem, tidak ada.” Singkatku.

Akhir-akhir ini aku merasa aneh, mungkin tanpa kusadari aku sering melamun. Ratih, dialah yang aku bayangkan.

Bagaimana pendapat Mamet mengenai Ratih? Lebih baik aku tanyakan, mungkin aku semakin yakin setelah mendengar ucapannya.

“Met, menurutmu Ratih bagaimana?” tanyaku.

“Bagaimana apanya?”

“Ya, apa-apanya.”

“Sifatnya?”

“Ya.”

“Baik.”

“Lalu?”

“Ramah sekali.”

“Lalu?”

“Pengertian.”

“Lalu?”

“Sopan.”

“Lalu?”

“Lintas.”

“Lintas?”

“Kak kak. Kak Arkan suka sekali sama Mba Ratih ya?”

Aku merasa malu untuk menjawab pertanyaan Rahmat, lebih baik sembunyikan saja.

“Biasa saja.”

“Jujur ya, Kak? Kak Arkan sama Mba Ratih cocok. Mamet setuju kalau..”

“Kalau?”

“Kalau Kak Arkan mau jujur sama Mba Ratih. Hehehe” ledek Rahmat dengan tawanya.

Rahmat sepertinya paham dengan perasaanku pada Ratih. Aku tidak bisa berbohong lagi.

“Kalau Mamet dukung Kakak, oke deh. Apa boleh buat. Sebenarnya Kakak juga suka dari pertamakali bertemu Ratih, tapi apa perasaan dia juga sama seperti Kakak?” ucapku agak malu.

“Nah gitu donk, jujur sama Mamet. Kecil-kecil, Mamet ngerti perasaan orang dewasa. Hahahah. Menurut Mamet, Mba Ratih suka sama Kak Arkan.”

Aku mengelus keras rambut Rahmat, “Wuah, bocah. Pokoknya doakan Kakakmu ini ya? Kakak nanti usahakan jujur sama Ratih.”

“Yo’i, Kak.” Ucap Rahmat dengan mengacungkan jempol untukku.

 

***

 

Tekadku sudah bulat, tekad ini harus kuutarakan pada Ratih. Dialah wanita pertama yang telah membuatku jatuh cinta.

Aku mempersiapkan semua, mulai dari baju yang kupakai, parfum, rambut yang rapih, dengan harapan bahwa orangtua Ratih mungkin merasa senang dengan penampilanku.

Baju yang kupakai yaitu kemeja coklat bergaris hingga pergelangan tangan dengan celana panjang berwarna hitam. Saat aku berkaca pada cermin di rumah, tak kusangka alangkah tampannya bayangan di balik cermin itu. Aku semakin pede untuk melamar Ratih dengan kondisiku ini.

“Kakak ganteng deh, semoga sukses ya Kak.” Ucap Rahmat tepat di belakangku.

“Makasih ya adik imut.”

Semua sudah selesai, tinggal keluar dan menuju rumah Ratih. Perasaanku semakin tercampur baur antara bahagia, cemas, dan rasa penasaran akan diterima atau tidaknya.

Aku berjalan menuju depan pintu rumah sendiri, rasanya begitu lama. Perasaan harap-harap cemas terus menjalar pada tubuhku ini.

Langkah demi langkah kuberjalan, tak seperti biasanya suara langkah ini terdengar olehku.

Akhirnya aku sampai depan pintu rumah. Perlahan kubuka pintu tersebut, seakan membuka pintu kebahagiaan atau bisa pula membuka pintu kesedihan. Rasa optimis langsung menyeruak dalam batinku, ketika angin tenang yang lembut menyibak tubuhku.

Semangat Arkan, ini hari bersejarah untukmu.

Rumah Ratih tidak jauh dari tempat aku tinggal, kira-kira sepuluh meter disamping rumahku. Tak peduli dengan suara sekitar bahkan kondisi jalan apapun, perhatian mataku tertuju pada rumah Ratih yang sudah di depan mata.

Sampai di depan rumahnya, terlihat pintu depan yang terbuka. Nyaliku seakan kropos, aku tak berani melangkah ke depan, aku tidak berani mengetuk pintu. Dengan sendiri bibirku bergetar, lidahku kaku. Pertanda apa ini, apa mungkin karena aku belum berpengalaman mengenai jatuh cinta? Apa ini karena aku masih pengecut untuk mengungkapkan cinta yang pertama kali dalam sejarah hidupku.

            Cukup! Apa yang harus kuperbuat?

            “Mas Arkan?” sapa Ratih keluar dari pintu rumah dengan sedikit terkejut.

Tak seperti biasanya ia terlihat sedih seperti menahan tangis. Mungkin hanya perasaanku saja. Ratih. Ratih. Ratih. Ya, hatiku lunak jika ada di hadapannya. Semenjak awal tekadku sudah bulat, aku harus ungkapkan itu.

“Ratih, aku, aku ingin mengatakan isi hatiku.” Ucapku gugup dihadapannya.

“Mas.” Balas ia meneteskan air mata.

“Kamu jangan menangis, aku hanya..”

“Mas, aku juga.” Ratih menangis mengucapkannya.

Apa maksudnya ‘aku juga?’ Apa dia mencintaiku juga? Baiklah ini saatnya kuungkapkan.

“Semenjak pertama kali aku bertemu denganmu, entah apa yang kurasakan. Kau adalah wanita pertama yang telah membuatku jatuh cinta. Semenjak mengenalmu, aku semakin yakin bahwa kau pantas untuk mendampingi hidupku. Aku sangat mencintaimu dan menyayangimu.” Ucapku dengan suara bergetar.

“Mas.”

“Ratih, maukah menikah denganku?”

Menggenggam Dunia – (13) Jatuh Cinta

Standard

“Mamet. Mamet.” panggil teman-teman Rahmat untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama.

Kondisi Rahmat masih belum memungkinkan untuk berangkat sekolah. Suhu tubuhnya masih tinggi, padahal ia harus mengikuti tambahan pelajaran rutin setiap pulang sekolah.Aku segera beranjak ke depan rumah.

“Adik-adik, Mamet sedang sakit dari kemarin sore. Bisa tolong izinkan ke guru, kalau hari ini dia tidak berangkat?” pintaku.

“Sakit apa, Kak? Wah, padahal dia bakal ikut lomba siswa teladan.” Sesal Ento, teman Rahmat yang berbadan gemuk.

“Dia hanya kelelahan, mungkin tidak akan lama lagi ia sembuh. Doakan saja ya.” Jawabku.

“Ya sudah, Kak. Salam buat Mamet semoga lekas sembuh dan bisa main bareng lagi. Ya gak teman-teman?” timpal Saiful.

“Jiahh. Pikiranmu main terus Pul. Mamet kan harus belajar buat persiapan lomba.” Jawab tak kalah seru oleh temannya yang lain.

Terlihat teman yang lain mendukungnya, Saiful hanya cengar-cengir.

“Ya sudah, Kak. Kita berangkat sekolah dulu ya, mungkin setelah pulang sekolah kita bakal nengok Mamet.” Lanjut Ento.

“Assalamualaikum, Kak.” Serempak teman-teman Mamet.

“Iya, Waalaikumsalam.”

Kasihan Rahmat, apakah harus membawanya ke rumah sakit? Motor jarang kupakai, dan bensinnya pun habis. Bagaimana aku harus membawa Rahmat?

Aku kembali periksa kondisi Rahmat, suhu tubuhnya tetap tinggi. Aku mengerti bahwa ia hanya sakit panas sesaat. Ya, mungkin dengan obat seadanya akan cukup untuk merawat Rahmat.

Tok. Tok. Tok.

“Mas Arkan?” sapa seseorang dari depan pintu rumah. Suaranya sangat aku kenal.

“Ratih.” Sapaku.

“Mas, Rahmat sakit? Tadi Ratih tidak melihat ia berangkat sekolah bersama temannya.”

“Hem, iya. Dia terlalu kelelahan dan suhu tubuhnya pun panas. Dia perlu istirahat.”

“Boleh saya jenguk?” pintanya.

“Oh ya, dengan senang hati. Silahkan masuk.”

Ratih segera masuk dengan pandangan menunduk seperti menahan malu. Aku segera menyadari dengan apa yang telah aku ucapkan.

Dengan senang hati? Aduh!

            Ratih memegang kening dan leher Rahmat secara bergantian. Raut mukanya berubah. Aku malah berharap, bahwa yang sakit adalah diriku. Sehingga…

“Mas, panas sekali. Apa lebih baik dibawa ke rumah sakit?” tiba-tiba Ratih menanyaiku.

“Eh, hem. Iya, tidak. Ehm, nggak.” Jawabku gugup.

“Maksudnya Mas Arkan?”

Gawat. Apa yang aku pikirkan. Arkan Saputra, konsentrasi!

“Hem, dia bisa aku rawat dengan manual oleh cara alami dan obat tradisional.”

Ratih mengangguk walau terlihat rasa cemasnya. Sungguh, dia terlihat sangat menyayangi Rahmat, dia pantas sebagai kakak bahkan pantas pula sebagai ibu yang merawat anaknya.

Aku teringat ucapan Rahmat ketika Ratih membawakan rantang makanan pada hari ulangtahunnya.

Apakah aku harus memberanikan diri untuk menjalin hubungan dengan Ratih? Setiap aku bertemu Ratih, jantungku seakan berdebar sangat cepat, hatiku sangat jatuh dalam suaranya, jiwaku tentram saat melihat mukanya, bahkan aliran darahku seakan luluh dalam gerak-geriknya. Yang lebih mengherankan lagi, pikiranku dipenuhi rangkaian bait puisi untuk memujinya.

            “Mas?”

“Aaaa… E, ada apa?” aku terkejut, tiba-tiba Ratih telah berdiri tepat di hadapanku.

“Ada tamu.” Ucap Ratih.

“Tamu?”

“Ada di belakang, Mas.” Ratih menunjuk belakangku.

“Aaaa…” lagi-lagi aku terkejut. Pak Rudi telah berdiri tepat di hadapanku.

“Selamat Pagi, Mas. Kebetulan pagi ini jam pelajaran saya kosong, maka dari itu saya sempatkan diri untuk menjenguk Rahmat. Apa benar ia sakit? Saya ketahui dari teman-temannya.”

Aku merasa gugup. Dua orang dalam waktu berdekatan, tiba-tiba mengagetkanku dengan cara yang sama pula.

Tenangkan diri. Huft…

            “Terimakasih sudah menengok Rahmat, Pak Rudi. Semenjak kemarin sore, kondisi Rahmat memburuk. Tampaknya ia sangat kelelahan, mungkin keteledoran saya mengajak Rahmat jalan-jalan ke pasar.” Jawabku.

Pak Rudi mendekati Rahmat yang tertidur pulas di ranjang, cara yang ia gunakan sama seperti Ratih untuk memeriksa kondisi Rahmat.

“Panas sekali, apa tidak dibawa ke rumah sakit saja?” Tanya Pak Rudi.

Bahkan pertanyaannya pun sama dengan Ratih.

“Dia dokter, Pak.” Potong Ratih.

“Dokter? Mas Arkan seorang dokter? Saya lihat pada surat wali dari Rahmat, Mas Arkan tidak ada pekerjaan.

“Untuk kali ini saya memilih istirahat dulu.” Aku menjawab dengan sopan.

“Baiklah, jika anda dokter saya akan lebih tenang. Sebab, jika Rahmat sakit dengan sangat berat hati, runner up dari siswa teladan di desa ini yang akan maju dalam lomba tersebut. Kami pihak sekolah, tidak ingin mengambil resiko.” Ungkap Pak Rudi.

Aku terkejut mendengar ucapan Pak Rudi, bagaimanapun Rahmat anak yang berbakat, lomba itu adalah kesempatan yang baik untuknya.

“Baik, Pak. Semoga Rahmat bisa sembuh dan mengikuti perlombaan tersebut.” Jawabku.

***

Aku mengajak Ratih ke teras rumah, sebab bila mengobrol dalam rumah sama saja mengganggu istirahat Rahmat.

“Mas, jika Rahmat masih belum sembuh. Lebih baik dia tidak usah mengikuti perlombaan itu.” Ucap Ratih.

“Ya, aku pikir juga begitu. Aku memegang tanggungjawab untuk merawat Rahmat. Dengan kondisi yang sakit, dia tidak akan bisa untuk konsentrasi belajar, yang ada malah akan tambah memperburuk kondisinya.”

“Ratih awalnya terkejut, bukankah Rahmat baru masuk sekolah? Kenapa bisa langsung diajukan mengikuti perlombaan?”

“Dia membaca semua buku dalam waktu semalam, hari pertama masuk di sekolahannya ada seleksi untuk diajukan menjadi siswa teladan ke tingkat Kota. Uniknya dia adalah anak kelas satu, mengikuti seleksi itu. Akhirnya ia berhasil meraih nilai terbaik. Pak Rudi yang datang tadi mengajukan dia menjadi kelas empat. Karena persyaratannya kelas empat atau kelas lima.” Ungkapku panjang lebar.

“Ya Tuhan, dia luar biasa sekali.”

“Benar, itu ungkapan pertamaku saat bertemu dengan Rahmat ketika bermain bola.”

“Bermain bola?”

“Ya, dia sangat pintar memainkan bola. Kamu pasti akan kagum melihatnya ketika ia menari bersama bola.”

“Mas Arkan, terlihat bangga sekali dengan Rahmat.”

“Ya, dia memang anak yang luar biasa. Jarang kutemui anak seperti dia. Kita bisa lihat, baru pertama kali masuk sekolah, Rahmat sudah dipercaya mengikuti lomba itu.”

“Suatu saat dia pasti akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik dari ini.” Ucap Ratih sembari senyum padaku.

Aku terdiam sejenak. Pandanganku dan pandangan Ratih bertemu. Wajahnya lembut menentramkan hatiku, matanya bagaikan sebutir berlian yang menyilaukan hati. Hatiku bergetar membawa wajahku mendekati wajahnya.

PRANKKKK….

Suara kaca pecah dari dalam rumah. Rahmat, ada apa dengan dia? Segera kuberlari masuk, khawatir akan terjadi hal yang buruk pada Rahmat.

Gelas pecah di samping ranjang tempat Rahmat tertidur. Ia menggeliat lemas dengan muka yang pucat hendak turun dari ranjang.

“Rahmat?” aku berlari menghampiri Rahmat. “Auww!” tak sengaja aku menginjak serpihan beling gelas yang pecah.

“Kak, Mamet mau sekolah. Mamet kesiangan.” Pinta Rahmat dengan tubuh yang lemas.

Ratih mendekati Rahmat dengan berjalan hati-hati, karena berserakannya serpihan beling.

“Rahmat, lihat kondisimu. Kamu harus istirahat.” Ucap Ratih menenangkan Rahmat.

“Mamet udah janji, sepulang sekolah ikut tambahan pelajaran untuk persiapan lomba.” Isak Rahmat memohon.

Sepertinya beling yang kuinjak telah menembus dalam telapak kaki. Aku merasa kesakitan.

“Mamet, tadi Kakak sudah minta izin pada gurumu. Hari ini lebih baik kamu istirahat.” Ucapku.

“Tapi, Kak..”

“Cukup! Met, kamu gak akan ikut lomba jika kondisimu masih sakit. Kalau kamu sudah sehat, Kakak izinkan.” Ucapku dengan tegas.

“Makanya, Rahmat istirahat dulu ya, biar cepat sembuh.” Lanjut Ratih sambil membelai pipi Rahmat.

Ratih, sungguh mulia hatinya. Aku merasa engkau adalah pilihan hidupku. Suatu saat aku akan melamar, karena aku jatuh cinta padamu.

Menggenggam Dunia – (12) Wanita Berjilbab

Standard

Keesokan harinya, aku bersama dengan Rahmat berjalan mengelilingi pasar untuk mencari bahan kebutuhan sehari-hari dan sebuah kado untuk Ratih. Cuaca yang sangat panas, keadaan pasar yang penuh sesak, dan ramai dengan kegiatan tawar menawar antara penjual dan pembeli, bergabung menjadi satu wadah dalam sebuah pasar tradisional.

Mungkin beda ceritanya bila aku berada di kota. Tanpa berdesak-desakan, dengan air conditioner yang sejuk, dan bahan belanja yang tertata rapih, dengan mudah aku bisa mengunjungi pasar swalayan atau yang lebih dikenal dengan supermarket.

Belanja di pasar tradisional, membuat bajuku dibasahi oleh keringat. Tak heran perkiraan suhu di pasar telah mencapai tiga puluh enam derajat celcius, sama saja dengan suhu tubuh manusia. Suatu desa dengan cuaca sejuk di waktu pagi, panas di waktu siang, hangat di waktu sore, dan dingin di waktu malam. Bagaimana bila aku berada di timur tengah dengan suhu yang lebih menggila? Alamak.

Waktu telah menunjukan pukul sebelas siang. Kami baru membeli bahan makanan pokok. Rencananya kami akan membelikan kue ulang tahun untuk Ratih, walaupun telat membelikannya tetapi tidak apa. Ratih mungkin akan sangat senang dengan pemberian kue tersebut, itulah harapanku.

Tujuanku saat ini adalah toko kue yang tak jauh dari pasar ini. Perkiraan untuk menuju sana sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki. Terlihat Rahmat sudah nampak kelelahan, mungkin aku terlalu memaksakan kehendak untuk mengajaknya berjalan.

“Met, mau istirahat dulu?” tanyaku.

“Langsung saja, Kak. Nanti istirahat di rumah saja.” Jawabnya dengan lemas.

“Benar tidak apa-apa?” tanyaku meyakinkan.

“Mungkin, hehe.” Candanya walau terlihat memaksakan.

Walau sedikit tidak tega pada kondisi Rahmat, aku terus melanjutkan perjalan sembari memegangi tangan kiri Rahmat. Ketika hampir tiba di toko kue, tiba-tiba Rahmat menghentikan langkah. Terlihat ia seperti menahan rasa sakit. Dengan erat ia menahan dan memegangi tanganku. Aku melihatnya memasang raut muka yang terasa  kesakitan.

“Met, lebih baik kita istirahat dulu. Kita duduk dulu, ya?” tanyaku khawatir.

Tak lama kemudian, ia terjatuh di hadapanku. Ia jatuh tak sadarkan diri. Dengan segera aku menahan jatuhnya dan segera memeriksa kondisi Rahmat. Ternyata badannya panas dan denyut nadi terasa lemah.

Untungnya suasana di depan toko kue tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang yang melihat Rahmat terjatuh. Merekapun dengan ikhlas membantuku untuk memindahkan Rahmat yang terkulai lemas ke tempat teduh.

“Mas, kenapa anak ini?” tanya lelaki berkumis tebal yang membantu mengangkatkan Rahmat menuju tempat teduh.

“Sepertinya dia kecapekan, terima kasih atas bantuannya Pak, Bu.” Sahutku Ramah kepada orang yang telah menolongiku.

“Tidak apa-apa kami tinggal?” tanya seorang ibu yang memegang tas belanjaan.

“Tidak apa-apa. Maaf merepotkan.” Jawabku ramah.

Merekapun pamit, dan menitipkan pesan untukku agar lekas pulang ke rumah, dan merawat bocah yang imut ini. Aku hanya mengiyakan kata mereka, walau agak geli dengan kata imut.

Aku mencoba untuk membangunkan Rahmat, tetapi satupun tak ada reaksi darinya. Aku merasa bersalah padanya, seharusnya aku harus mengerti kondisi Rahmat, dan seharusnya pula aku menjaga Rahmat dengan baik sesuai dengan amanah yang telah diberikan padaku.

Ya, lebih baik aku segera pulang.

Aku menggendongnya pada punggungku, kurasa Rahmat sangat lemas sekali tanpa tenaga. Ketika hendak beranjak dari depan toko kue, dihadapanku berdiri seorang wanita berjilbab yang terlihat anggun dengan pakaian muslimahnya. Ia memegang sebotol air pada tangannya.

“Maaf, mungkin anda akan memerlukan air minum ini.” Sahutnya sembari menundukan wajahnya dan menunjukan sebotol air.

“Oh maaf tidak usah, terima kasih banyak atas tawarannya. Sekarang kami akan pulang.” Jawabku.

Aku merasakan gerakan tangan Rahmat. Ia sadarkan diri, terlihat raut mukanya terasa gelisah.

“Kak, Mamet lemas sekali” rintih Rahmat.

“Sabar ya, kita sekarang pulang.” Sahutku lembut.

“Kak, haus.” singkat kata Rahmat.

Wanita berjilbab itu mendekatiku sembari membuka botol air yang bersegel. Raut wajahnya datar dan selalu menunduk.

“Insya Allah, apabila ia minum ini anakmu akan baik-baik saja.” Jawab wanita berjilbab.

Anak? Tampaknya wanita ini salah paham tentang hubunganku dengan Rahmat, tetapi biarlah tidak penting untuk dibicarakan. Dengan senyum aku menerima pemberian dari wanita yang mungkin umurnya sebaya denganku. Sebaiknya aku percaya dengan penampilannya yang terlihat ikhlas membantuku. Karena bila yang memberi botol air dengan penampilan yang tidak meyakinkan, aku tidak akan berani menerimanya.

Perlahan aku turunkan Rahmat dari gendonganku, dan menyandarkannya pada tanganku.

“Mamet, minum dulu ya.” Sahutku mendekati botol pada mulut Rahmat.

Perlahan Rahmat meminum air, tampaknya ia sangat kehausan. Mukanya terlihat sangat pucat, dan keluar keringat dingin di sekitar lehernya.

Sangat kebetulan sekali, ada seseorang yang tidak dikenal dengan ikhlas menawarkan air putih pada Rahmat. Aku sangat berterima kasih sekali padanya.

Saat pandanganku beralih dari Rahmat, wanita berjilbab tersebut telah menghilang dari hadapanku dan tanpa sepengetahuanku. Cepat sekali ia menghilang, padahal aku ingin mengucapkan terima kasih padanya sebagai balas budi.

Datang tiba-tiba, pulangpun tiba-tiba. Aku berharap pada Tuhan agar membalas amal perbuatannya, amin.

Setelah meminum air pemberian wanita berjilbab itu, kondisi Rahmat agak membaik. Perlahan aku mengendongnya kembali, dan beranjak untuk menuju rumah.

***

Setiba di rumah, aku membaringkan Rahmat pada ranjang. Ia tertidur sangat pulas sekali. Wajah putih berhitung mancung itu terlihat lemas tak berdaya. Berbeda sekali dengan semangat ia saat bermain bola.

Dengan seadanya aku memeriksa kondisi Rahmat lebih lanjut, dari pergelangan tangan, leher, dada, nafas, dan suhu tubuhnya.

Ternyata ia demam, suhu tubuh terlalu tinggi. Mungkin ia sangat kelelahan akhir-akhir ini, atau mungkin ia mempunyai beban berat pada pikirannya.

Aku mengambil sebuah baskom yang kuberi air dingin. Penanganan sementara yang tepat untuk orang yang mengidap demam, pertama kali adalah dengan mengompres air dingin pada dahi atau leher.

Lap tangan yang telah dibasahi oleh air dingin kutempelkan perlahan pada dahinya yang matanya masih terpejam rapat.

Sembari menunggunya bangun, aku membuat obat sederhana dari bahan alami yang akan kupakai untuk pengobatan tradisional penderita demam pada kanak-kanak. Sebuah jeruk nipis yang diperas untuk diambil airnya, lalu bawang merah diparut dengan parut yang dilapisi daun. Perasan jeruk nipis parutan bawang merah ditambah garam itu aku campurkan dengan minyak. Selesai. Setelah kubuat ramuan sederhana, aku kompreskan perlahan pada ubun-ubun Rahmat.

Semoga dengan obat tradisional yang kubuat dapat mengurangi rasa sakit yang diderita Rahmat. Melihat Rahmat membuatku terkenang akan masa lalu, ketika berumur sepuluh tahun aku terbaring lemas tak berdaya di rumah sakit karena penyakit diare. Beruntungnya saat itu, aku masih didampingi oleh ibu kandungku yang rela meninggalkan pekerjaan hanya untuk berada di samping anaknya yang sedang sakit. Kasih sayang yang ia berikan membuatku nyaman walau dalam keadaan sakit. Belaian tangan pada wajahku membuatku merasa terlindungi disaat tak berdaya.

Oh Ibu, aku jadi teringat disaat kanak-kanak pernah membuatkan puisi indah untukmu. Dan engkau sambut dengan tangis kebahagiaan yang engkau ungkapkan untukku. Kecupan kasih sayang pada pipiku masih terkenang dan terasa hingga aku beranjak pada umur tiga puluh tahun ini.

Menggenggam Dunia – (11) Jatuh Hati

Standard

Ketika tiba di depan rumah, aku melihat Rahmat dengan berseragam olahraga dan menggunakan tas punggungnya, sedang bermain bola menggunakan sundulan kepala, kedua paha, bahu, dan tentunya kedua kaki. Sungguh hebat dia memainkan bola layaknya pemain profesional. Mungkin dia telah terbiasa bermain bola bersama temannya, sehingga dengan amat mudah ia menari bersama bola.

Melihat Rahmat seakan melihat masa laluku saat bermain bola di SMA. Tetapi untuk seumuran Rahmat, hal ini termasuk luar biasa. Bayangkan saja, aku bisa lancar bermain bola ketika berumur sebelas tahun, sedangkan Rahmat dengan tubuh kecilnya yang berumur delapan tahun sudah lebih mahir.

Aku selalu membandingkan Rahmat dengan pribadiku sendiri. Semakin lama aku semakin mengenali Rahmat persis dengan diriku saat masa kecil. Perbedaannya hanya dari status sosial. Aku keturunan orang berada, sedangkan ia turunan dari orang yang amat berkecukupan, bahkan bisa dibilang juga kekurangan.

Daritadi aku terus memperhatikan gerak-gerik Rahmat yang asyik memainkan bola. Perlahan aku mendekati tepat di belakangnya, niat jahat untuk mengagetkannya terlintas dalam benakku. Serasa ingin tahu, bagaimana ekspresi kaget dari bocah perawakan kecil berkulit putih ini.

Belum sempat untuk mengejutkannya, tiba-tiba sasaran bola menuju tepat di wajahku. Bruk. Auw. Bola yang telah terkotori debu itu, menepuk keras terutama di bagian hidung. Sehingga, hidungku keluar darah alias mimisan.

“Kak Arkan?” kagetnya yang baru menyadari keberadaanku.

“Mamet?” jawabku sedikit bercanda meniru gerakan kaget Rahmat.

“Maaf Kak, Mamet tidak sengaja. Mamet gak tahu, kalau ada Kakak di belakang Mamet. Maaf Kak.” Ibanya memohon sambil menunduk.

“Yah, lagian Kakak juga yang tadinya niat ngagetin Mamet, hehe. Eh, malah Kakak yang kena kejutan dari bolanya. Gak apa-apa, lagian, ini bisa cepat sembuh.” Jawabku sembari menahan darah yang keluar dari hidung.

Rahmat terlihat menyesali perbuatannya. Apabila berada di posisi Rahmat, mungkin aku akan sangat menyesal telah mencelakakan orang hingga terluka.

“Ya sudah, ayo masuk.” Ajakku semangat.

Kami berdua pun masuk rumah. Rahmat lekas mengganti seragam dengan baju rumah, sedangkan aku mengambil handuk kecil serta sebaskom air dingin untuk meredakan darah yang keluar, dengan cara mengompres pada leher dan di atas hidung. Aku melepas lelah dengan duduk di kursi.

“Masih sakit, Kak?” khawatir Rahmat.

“Lumayan, tapi sekarang agak mendingan. Tadi Mamet nunggu Kakak lama ya?” tanyaku.

“Lumayan, Kak. Tadi Kakak habis dari mana?”

“Rumah Pak Romli.”

“Pak Romli? Guru ngajinya Rahmat?” tanya ia heran.

“Iya, kenapa Met?”

“Gak apa-apa, Kak. Mamet senang kalau Kakak sudah kenal akrab dengan Pak Romli. Orangnya ramah dan sabar, Kak.” Pujinya.

“Iya, nanti kapan-kapan kita silaturahim ke rumahnya. Gimana kalau besok sore? Besok hari Minggu, Mamet punya waktu luang toh?”

“Boleh Kak.” Jawabnya sembari duduk di sampingku.

Darah yang keluar dari hidung masih merembas dan membasahi handuk. Aku jadi teringat akan masa laluku. Terakhir kali hidung berdarah, disaat aku berada di bangku kelas empat SD. Saat-saat yang memalukan, tetapi menjadikan kenangan yang tak akan terlupakan di masa kecilku.

Ketika itu, aku sedang berjalan dan melihat sahabatku yang bernama Rizal sedang berbicara akrab dengan temanku yang bernama Putri. Dengan cepat aku menanggapinya dengan guyonan yang menyebutkan bahwa mereka sepasang kekasih. Swit, switt. Aku pun tertawa geli melihat mereka. Tetapi mereka membalasnya dengan guyonan juga.

Karena saking puasnya untuk mengerjai mereka, tanpa sadar di hadapanku terdapat dinding kelas dan aku pun menabrak dinding itu hingga hidungku mengeluarkan darah. Sakitnya, bukan hanya sakit karena mimisan saja, tapi juga sakit karena malu ditertawakan teman-temanku yang melihat.

Dari pengalaman itu, aku mengambil pelajaran. Bahwa kita memalukan orang, tetapi suatu saat kita akan dipermalukan orang. Makanya jangan sampai kita memalukan orang. Huhuhu. Mengingat masa SD, membuatku teringat dengan sekolah Rahmat.

“Oh ya, gimana pelajaran di sekolah?” tanyaku.

“Tadi ada pelajaran olahraga dan Mamet main bola bersama teman-teman. Asyik banget Kak. Mamet bisa cetak empat gol ke gawang lawan.” Jawabnya dengan girang.

Aku tersenyum melihat tingkah Rahmat, dan aku tidak perlu heran dengan permainan sepak bolanya yang luar biasa.

“Sip, nanti Kakak tantang Mamet main sepak bola, Ok?” tantangku.

“Ok Kak.”

“Lalu gimana dengan persiapan murid teladan?”

“Tadi Mamet ketemu dengan Pak Rudi, katanya mulai hari ini Mamet harus mengurangi bermain untuk persiapan lomba. Dan mulai hari Senin, Mamet diberi tambahan jam pelajaran setelah pulang sekolah, selama satu jam.” Paparnya.

“Memang, untuk mencapai peringkat juara kita harus belajar dengan giat dan tidak menggunakan waktu dengan sia-sia, kecuali untuk pengembangan diri. Ingat nasihat dari Kakak, ya?”

“Yo’i, Kak.” Jawabnya dengan gaul.

“Wuih, yo’i? Belajar darimana bro?” jawabku tak kalah gaul.

“Hehehe, teman Mamet suka pake kata-kata itu.”

“Asalkan jangan kata yang kasar dan tidak sopan, yang Mamet tiru. Ok?”

“Ya, Kak.”

“Ok bocah, biar tambah pintar kita makan siang dulu.” Ajakku sembari menaruh handuk dan baskom yang telah kupakai, hingga mimisan yang mereda.

“Ok bro. Hehehe.” Jawab ia dengan candanya.

***

Tok. Tok. Tok.

Disaat aku sedang menyetrika pakaian, terdengar suara pintu. Rahmat dengan segera membukakan pintu. Saat dibuka, berdiri seorang wanita yang anggun dan berkarisma dengan senyum yang merekah serta rambut yang terurai indah. Ia adalah Ratih sang Bunga Desa.

Ratih membawa rantang tertutup, kemungkinan isi dari nampan itu adalah makanan untukku dan Rahmat.

“Maaf Mas Arkan, Ratih mengganggu.” Ucap ia dengan sopan.

Seketika melihat tingkah dari Ratih, hatiku berdebar kencang. Aku menutupi kekagumanku dengan tersenyum padanya, walau mungkin terlihat aneh.

“Loh Kakak? Itu kan baju kesayangan Kak Arkan?” tanya Rahmat memecahkan pandanganku pada Ratih.

Alangkah terkejutnya diriku bagaikan tersambar petir dan gemuruh halilintar, baju yang kusetrika telah hangus dan membuat salah satu baju kesayanganku bolong. Dengan lekas aku mencopot kabel setrika dari listrik.

Entah apa perasaan yang aku luapkan. Mungkin apabila tidak ada Ratih dihadapanku, pasti tingkahku akan sangat tak karuan. Mungkin juga apabila dibayangkan seperti anak kecil yang diambil mainannya dan merengek, karena baju yang gosong itu adalah baju penuh kenangan. Tetapi ini lain, rasa tak karuan itu harus terpaksa disembunyikan, hanya karena seorang Ratih yang ada dihadapanku.

“Eh, hemp ini. Tidak apa-apa, ini sebagai corak baju, biar tambah keren.” Jawabku sekananya.

“Yah Kak. Itu sih bukan tambah keren, tapi bajunya udah compang-camping.” Jawab Rahmat.

Lagi-lagi aku salah tingkah dengan keberadaan Ratih dihadapanku.

Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa?

“Mas, ini ada titipan dari Ibu. Syukuran ulang tahun.” Potong Ratih dengan senyum yang lembut dan menawan.

“Siapa yang Ulang tahun, Mba Ratih?” tanya Rahmat.

“Hari ini Mba ulang tahun, Mat. Doakan Mba ya, adik imut.” Balas Ratih sembari megelus lembut rambut Rahmat. Terlihat bagaikan sosok ibu.

“Wah, selamat ulang tahun, Mba Ratih. Semoga keinginan Kakak bisa terkabulkan.” Jawab Rahmat dengan ceria.

Alangkah nyamannya melihat Ratih tersenyum dan bahagia, dia sangat menyayangi Rahmat. Hal itu terlihat jelas dari cara pandangannya, cara berbicara, dan dari tingkahnya. Untuk pertama kalinya, aku menemukan wanita yang membuatku nyaman setelah ibu kandungku.

“Kak Arkan, kenapa tidak mengucapkan selamat ulang tahun ke Mba Ratih?” tanya Rahmat yang terlihat memiliki maksud lain menanyakan itu padaku.

“Oh ya, selamat ulang tahun ya Ratih.” Jawab singkatku. Mungkin apabila aku ngomong ini dan itu akan terlihat salah tingkah.

Ratih memberikan rantang itu pada Rahmat. Rahmat terlihat senang dan aku hanya tersenyum pada mereka. Melihat mereka bagaikan seorang ibu dan anaknya, dan lebih pantas lagi kalau aku yang jadi Bapak dari mereka.

“Mas, aku pamit pulang dulu.”  Sahut Ratih dengan ramah.

“Ya, terima kasih, Ratih. Sampaikan ucapan terima kasih kembali pada ibumu.” Jawabku dengan ramah.

“Terima kasih ya, Mba Ratih.” Sambung oleh Rahmat.

Setelah Ratih keluar dari rumah, perlahan Rahmat melihatiku sembari menahan tawanya. Aku paham maksudnya, Rahmat bermaksud menyindirku.

“Ada apa bocah?” tanyaku pura-pura tidak mengetahui maksudnya.

“Gak ada apa-apa, Kak. Kalau dilihat-lihat, Kak Arkan sama Mba Ratih cocok, loh.” Sindirnya.

“Cocok dalam arti apa tuh? Sebagai teman? Tetangga? Atau..”

“Istri.” Jawab Rahmat dengan singkat memotong perkataanku.

“Huss.” Balasku.

“Kenapa huss?” tanya Rahmat.

“Belum waktunya.” Jawabku sekenanya.

“Kapan waktunya, Kak?”

“Kapan-kapan.”

“Jadi beneran donk, Kak Arkan mau istri seperti Mba Ratih.”

“Menurut Rahmat?” tanyaku perlahan mendekati Rahmat.

“Cocok.” Jawab Rahmat singkat sembari menaruh rantang pemberian Ratih.

“Kenapa Cocok?”

“Tampan dan cantik.”

“Wah, kamu bisa saja.”

“Bisa-bisa saja.”

“Lalu Kak Arkan harus bagaimana?”

“Umur Kak Arkan dengan umur Mba Ratih sudah cukup untuk menikah, toh?”

“Jadi maksud Mamet, Kakak nikah dengan Mba Ratih?”

“Yoi, Kak.”

Lekas aku menutupi wajah Rahmat dengan bantal yang berada di dekatku, dengan canda dan tawa. Walau tidak pantas dikatakan Rahmat, tetapi perkataan dia ada benarnya juga. Ya, suatu saat bila hati jatuh pada sang Bunga Desa, aku akan melamarnya.