Menggenggam Dunia – (3) Bunga Desa

Standard

Hari sudah semakin panas, aku beranjak pulang ke rumah sewaan yang berada di perbatasan desa. Cukup melelahkan tetapi sangat menyenangkan.

Hari ini aku telah menerima pelajaran berharga, bahwa sebaiknya aku harus mensyukuri hidup ini. Semenjak keluar dan memutuskan hijrah dari kota menuju pedesaan, aku kurang mensyukuri hidup pada Tuhan dengan segala yang telah Ia berikan padaku. Berupa ilmu, harta, kedudukan, tetapi yang ada hanya kesombongan untuk melakukan sesuatu. Apakah ini pengaruh dari kota? Entahlah, adakalanya itu benar.

Langkah demi langkah, aku berjalan menikmati pemandangan desa yang indah, sejuk, dan tentram. Aku melewati lapangan bola tempat bermainnya Rahmat dan Saiful. Sepi tak ada yang bermain di lapangan itu, yang ada hanya dua gawang dari kayu dan sebuah bola di tengah lapangan.

Bola? Aku senang dengan permainan bola. Aku menyukai permainan ini, semenjak duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar. Sudah lama tidak bermain bola, bahkan terakhir kali bermain bola saat aku berada di bangku SMA bersama teman sekolah. Permainan bola memang membutuhkan kerja sama tim.

Lapangan sepi dan bola tak ada yang memakai, kebetulan sekali. Aku ingin melepas rasa rindu untuk bermain sepak bola.

Kedua tangan kumasukan dalam saku celana. Aku menari bersama bola tanpa menyentuh tangan sedikitpun, aku memainkan bola dengan menendang ke atas, menyundul bola, memantulkan melalui betis dan berbagai jenis gaya aku mainkan dengan indah. Selang beberapa waktu, saat bola mengenai kaki kanan, dengan cepat aku mengarahkan bola ke gawang, dan shoot. Gool! Tendangan sempurna mengarah tengah gawang.

Sambutan berupa tepuk tangan dari anak-anak mengiringi bola masuk, layaknya pertandingan bola di stadion. Dan aku baru menyadari ternyata anak-anak itu telah memperhatikan gerak-gerikku saat bermain bola.

“Wah, Kakak hebat.” Kata anak berambut ikal dan berkulit sawo matang.

“Kakak pemain timnas Indonesia, ya?” tanya penuh kekaguman dari anak yang lain.

“Waduh, anak-anak terima kasih pujiannya. Maaf tadi Kakak pinjam bola kalian.”

“Kak Arkan, mau bermain sama kami?” ajak Saiful.

Ternyata ada Saiful, dengan senyum yang khas, saat memperhatikanku dari tadi. Ia mengajakku untuk bermain bola, nyaliku tertantang untuk bermain dengan anak-anak desa.

“Ok, siapa takut.” Ledekku penuh keakraban dengan anak-anak.

Akupun bermain dengan mereka layaknya anak-anak. Bermain bola di tanah yang becek, dan berlumpur. Tak heran bajuku ikut kotor. Seorang mantan asisten dokter sepertiku, bermain dengan anak-anak desa, sangatlah menyenangkan.

***

Hari sudah semakin siang, disertai cuaca yang sejuk berubah menjadi sangat panas. Aku berjalan pulang menuju rumah dengan baju yang sangat kotor penuh lumpur, usai bermain sepak bola dengan anak-anak.

“Eh, Mas Arkan. Kok bajumu kotor? Jatuh dimana?” tanya seorang ibu berbadan gemuk yang heran melihat kondisiku.

“Tadi saya bermain bola, bersama anak-anak, Bu. Jadi maklum baju saya ikut kotor juga.” Ucap ramahku pada Ibu Lusi, yang tiada lain adalah tetanggaku.

Sebelumnya, diperjalanan ada beberapa warga yang mengenalku dan menanyakan hal yang sama seperti pertanyaan Ibu Lusi. Sebenarnya berpakaian kotor sangat wajar di desa ini, seperti para petani yang pulang dengan pakaian kotor. Mungkin karena aku bukan petani. Jika dilihat dari postur tubuh, walau tinggal di desa dan memakai pakaian orang desa tetapi tubuhku masih terlihat orang kota.

Akhirnya aku sampai depan rumah. Aku rebahan di kursi teras rumah untuk melepas lelah. Walau cuaca panas, semilir angin perlahan menerpa ke seluruh tubuh.

Aku mengingat kejadian dari pagi hingga berakhir dengan berpakaian kotor. Ada suka maupun duka. Suka karena aku semakin akrab dengan penduduk desa serta bermain bola dengan anak-anak desa untuk pertama kalinya, dan duka karena masih ada orang yang berkeinginan untuk menyekolahkan anak dan menganggapnya sesuatu yang berat. Aku paham dengan kondisi mereka, tetapi syukurnya Ibu Sri telah menyekolahkan Rahmat pada pengajian gratis. Menurutku itu sudah cukup baik untuk bekal Rahmat.

Apa lebih baik, aku membiayai sekolah Rahmat ya?

Tiba-tiba pikiranku fokus untuk merencanakan hal tersebut. Itu memang ide baik, lagipula aku mempunyai cukup uang untuk membayar sekolahnya.

“Mas Arkan.” Sapa seorang wanita yang tiba-tiba menyapa di sampingku.

Aku salah tingkah dan mengambil posisi duduk. Aduhai, gadis yang menyapaku adalah bunga desa di pedesaan ini. Perasaanku bercampur heran dan berbunga-bunga.

“Ratih, ada apa? Ayo silahkan duduk.” Aku menggeser, untuk mempersilahkan Ratih duduk.

“Makasih Mas Arkan, Ratih cuma memberi titipan dari Ibu untuk makan siang Mas Arkan. Diterima ya, Mas.” Dengan suara lembut, ia memberikan kantung plastik berisi sayur lodeh dan dua ekor ikan goreng.

“Wah, terimakasih ya Ratih. Sampaikan ucapan terimakasih juga pada ibumu.”

“Sama-sama, Ratih pamit dulu, Mas.”

“Tidak mampir dulu?” pintaku iseng.

“Hem, lain kali saja pasti Ratih mampir. Mari Mas.” pamitnya sembari tersenyum manis.

Oh. Senyuman Bunga Desa yang tak akan kulupakan. Selain dia memiliki wajah yang indah dengan rambut panjang yang tergerai, dia juga memiliki hati yang lembut bagaikan selembut kain sutra. Pantaslah ia dijuluki oleh warga sebagai Bunga Desa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s