Menggenggam Dunia – (2) Sebuah Wasiat

Standard

Aku menggendong bocah berkulit putih menuju rumahnya, ditemani dengan teman sepermainannya. Sesekali bocah itu mengerang kesakitan pada kakinya.

“Adek sabar ya. Sekarang Kakak antar kamu pulang.” Jelasku pada bocah yang kugendong.

“Kak, sebenarnya ini bukan pertama kalinya Rahmat keseleo, dia sering sekali. Tapi untuk kali ini saja dia keseleo gak bisa berdiri.” Jelas temannya.

Ternyata nama bocah berkulit putih dan berhidung mancung ini bernama Rahmat.

“Kalau Adek sendiri, namanya siapa?” tanyaku pada teman Rahmat.

“Namaku Saiful, Kak. Teman-temanku biasa panggil Ipul, kalau Rahmat biasa dipanggil Mamet. Unik ya, Kak?” tanya Saiful diiringi tawanya.

Aku membalasnya dengan senyum. Sungguh masa kanak-kanak, terlihat dari wajah mereka yang polos tanpa beban kehidupan di wajah mereka.

“Rumah Mamet masih jauh?” isengku untuk bertanya.

“Mau saja ngomong, Kakak sudah tanya. Nah itu rumahnya.” Saiful menunjuki rumah yang sederhana dan terdapat kandang ayam.

Aku hanya mengangguk membalas ucapan Saiful. Di rumah tersebut, aku melihat seorang ibu yang sedang menjemur pakaian di pekarangan rumah.

“Itu ibunya Mamet?” tanyaku.

“Ia Kak, itu ibunya. Ayo Kak.” Ajak Saiful mendekati ibunya Rahmat.

Saat kami mendekat, ibu tersebut menengok dan sangat terkejut mungkin karena melihat anaknya di gendong tak berdaya oleh orang yang tak ia dikenal.

“Ipul, kenapa Rahmat?” tanya beliau dengan rasa cemas.

“Biasa Bu, dia keseleo lagi saat main bola. Nah, Kakak ini yang mengantarkan Mamet ke rumah.” Jelas Saiful kepada ibunya Rahmat.

“Aduh Mas, terima kasih banyak ya.”

“Sama-sama, Bu. Oh ya, Ibu punya balsam dan kain buat membalut kaki? Apabila Ibu berkenan, saya sekalian ingin mencoba mengobati Rahmat.” pintaku pada ibu yang berpenampilan tertutup rapat dan menggunakan kain penutup kepala.

“Oh, ada Mas. Tunggu sebentar ya.” Balas ia dengan ramah.

Memang beda kehidupan di kota dan di desa. Mungkin kalau kejadian ini di kota, seorang ibu tak akan mempercayai anaknya dirawat oleh orang asing sepertiku. Tapi alangkah indahnya kehidupan di desa, semua saling percaya satu dengan yang lain, itupun saling percaya pada batas-batas tertentu.

“Kak, Ipul boleh tanya?” pinta Ipul menepuk pundakku dari belakang.

Akupun menengok dan menundukan badanku sembari menggendong Rahmat. “Ipul mau tanya apa?”

“Nama Kakak itu Arkan ya? Kakak tinggal dimana?” tanya polos Saiful.

“Iya nama Kakak, Arkan. Kakak tinggal di ujung desa ini. Kalau Ipul tinggal dimana?”

“Ipul tinggal di dekat lapangan bola tadi, Kak.”

“Ibunya Mamet, namanya siapa?” tanyaku pada Saiful.

“Ibu Sri, Kak.”

“Tampaknya Ibu Sri sangat khawatir, ya?” ungkapku.

“Wajar saja, Kak Arkan. Mamet ini anak satu-satunya dan keluarga satu-satunya yang Ibu Sri miliki.” Jawab Saiful.

Aku hanya mengangguk memakluminya. Terlihat Ibu Sri dengan tergesa-gesa membawakan balsam dan kain putih padaku. Tampaknya ia pantas khawatir apabila Rahmat sedang sakit. Inilah ibu yang amat mencintai sang anak, apabila terjadi sesuatu bukan dengan memarahi anaknya, tetapi dengan kasih sayangnya.

“Loh kok masih berdiri toh, Mas? Ayo duduk.” Ajak Ibu Sri padaku, sembari menunjukan kursi panjang di teras rumah beliau.

Akupun membawanya dengan menggendong Rahmat dan membaringkannya di kursi tersebut. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Rahmat, mungkin karena ia menahan rasa sakitnya yang luar biasa. Perlahan aku periksa keadaan kaki Rahmat.

Aku oles balsam perlahan pada daerah mata kaki, lutut, dan kedua sikunya. Ia pun merintih kesakitan. Tak heran Ibu dan Saiful ikut khawatir melihat kondisi Rahmat. Untuk mengurangi terjadinya pembengkakan, aku harus mengompreskan air dingin pada kakinya.

“Maaf Ibu Sri, apakah ada air dingin?” pintaku.

“Oh iya, saking khawatir Ibu lupa suguhi air.” jawab Ibu Sri.

“Kak Arkan, haus?” tanya Saiful.

“Oh, bukan itu maksud saya. Air itu buat dikompres pada kaki Rahmat.”

“Oh begitu, ya sudah Ibu ambilkan dulu, Mas.” Jawab Ibu Sri dan memasuki rumah.

***

Perawatan sesuai prosedur ilmu perawatan sederhana telah aku lakukan kepada Rahmat, setelah absen satu bulan untuk tidak memeriksa seorang pasien.

Rahmat tertidur lelah di atas tempat duduk yang berada di teras rumahnya, dengan kepala di atas pangkuan Ibu Sri dan kaki yang dibalut oleh kain putih. Sedangkan Saiful telah pulang menuju rumahnya.

“Terima kasih loh, Mas Arkan.” ramah Ibu Sri.

“Sama-sama, Ibu.” Balasku dan meneguk teh hangat yang telah disuguhi oleh Ibu Sri.

“Sebenarnya Ibu ingin memberikan sesuatu sebagai tanda ucapan terima kasih, tapi..”

“Tidak usah Bu, terima kasih. Saya ikhlas buat menolong Rahmat.” Potongku dengan halus.

“Mas Arkan baru pindah ke desa ini ya? Saya baru pertama kali lihat Mas Arkan di wilayah sini.”

“Saya tinggal di perbatasan desa ini satu minggu yang lalu.”

“Tinggal sendiri, Mas?” tanya Ibu Sri.

“Iya, di wilayah ini tidak ada kerabat dekat saya. Oh iya, Bapaknya Rahmat sedang kerja ya, Bu?” tanpa segan aku bertanya.

“Bapaknya Rahmat sudah tiada, Mas. Beliau meninggalkan kita, saat umur Rahmat beranjak enam tahun.” Ungkap Ibu Sri sembari merenung.

“Maaf atas pertanyaan saya yang tidak sopan, Bu.” Sesalku.

“Tak apa, pertanyaan Mas Arkan mengingatkan kembali terhadap wasiat yang diberikan untuk Ibu. Dahulu saat Bapak meninggal dia mewasiatkan sesuatu yang menurut Ibu berat untuk kami jalankan. Tapi ia yakin sekali bahwa kami akan sanggup menjalankan sebuah wasiat tersebut.” Jelas Ibu Sri, mengingat massa lalu.

“Sebuah wasiat?” aku mulai heran dengan yang diucapkan Ibu Sri.

“Menyekolahkan Rahmat hingga ia menjadi orang yang sukses, di massa depannya. Hanya itu.”

Aku terkejut dengan yang diucapkan oleh Ibu Sri. Menurutku pribadi yang mempunyai harta yang cukup, tak perlu ada beban untuk menyekolahkan keponakan sendiri. Tetapi hal ini merupakan beban untuk rakyat yang berpenghasilan kurang.

Dalam hati kecil ini, aku berpikir seakan pikiranku ini masih buta terhadap penderitaan rakyat kecil, seperti Ibu Sri. Alangkah beruntungnya diriku ini dengan penghasilan yang cukup.

“Ya sudahlah, mungkin ini belum rezeki Ibu untuk menyekolahkan Rahmat. Tuhan akan selalu memberi rencana yang terbaik untuk ciptaan-Nya.” Ucap Ibu Sri dengan senyum yang merekah tanda ketegaran hatinya.

“Jadi, Rahmat dari dulu sampai sekarang tak pernah sekolah?”

“Dia menimba ilmu dari pengajian gratis di dekat lapangan bola tempat ia bermain.”

Rahmat perlahan bangun dan memanggil ibunya. Sesungguhnya dia punya bakat untuk berprestasi, tetapi sayang nasib kehidupan menghambat ia menuju kesuksesan.

“Kakak yang tadi menolong Mamet, ya?” tanya Rahmat dengan lugu.

“Iya, tadi Kakak lihat kamu kesakitan. Gimana kakinya, masih sakit?”

“Lumayan, Kak.” Ucap Rahmat sembari merasakan kesakitan.

“Lain kali hati-hati ya, Mat. Nanti kalau ada apa-apa sama kamu, gimana?” tanya Ibu Sri khawatir.

“Maaf ya, Bu.” Menunduk dan mengakui kesalahan.

“Gak apa-apa, Ibu sayang kamu, nak. Kamu anak yang Ibu banggakan.” Peluk Ibu Sri pada Rahmat.

Saat melihat mereka, aku teringat massa kecilku yang berada pada dekapan kasih sayang ibu, dan sekarang ibuku telah tiada.

Ibu, aku selalu merindukanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s