Monthly Archives: August 2011

Naskah Film : Friend Forever

Standard

Karya : Muhammad Arif Ali Wasi

Pemeran film sekolah berjudul, “Friend Forever”

Arkan : karakternya netral, peran utama yang menguasai cerita

Faiz : keliatan modis dengan pakaian yang ia pakai,

Rahmat : agak cupu, berkacamata, pakaiannya selalu rapih

Wahyu : peran lawak, tampangnya juga bikin orang ketawa,

Egi : agak berantakan dari cara ia memakai baju dan rambutnya, terlihat kaya anak nakal

Adesty : terlihat anggun, harus pintar nangis kalo bisa, pakaiannya modis yang menandakan ia terlihat seperti orang pintar

Echa : membawa keceriaan, gerakannya gak kaku saat berbicara sama teman-temannya.

Kelompok pintar : Yudha, Yudi, Sarah, Annannda, Rizki Aulia, Anggit. : be your self

Genk Tercentil : Maya, Mona, Mentari.: centilnya terlihat, gerakan centilnya juga harus bisa

Guru : Bu Ani, Bu Mukti, dan guru yang mngajar di SMA 1 : cara beliau ngajar

Anak kecil : laki-laki dan perempuan. Anak kecil yang beneran. : anak kecil beneran, dan cara pembawannya juga kekanak-kanakan.

Adegan 1

Setting : trotoar

(Musik 1 mulai. Shoot Arkan dari kaki sampai wajahnya, dia menggunakan baju seragam SMA. Dia merapihkan rambutnya, sembari menunggu angkot jurusan sekolah. Terlihat mobil lalu lalang dengan dipercepat. Arkan melihat jam tangannya, lalu menurunkan tangannya kembali tanda bahwa ia takut telat masuk sekolah. Dan akhirnya dengan wajah gembira, angkot yang menjadi penantiannya datang. Arkan melambaikan tangan dan angkot pun menghampirinya, ketika akan naik dan masuk angkot, tanpa sengaja kepalanya terbentur pintu masuk)

Arkan : “Auuwwwww…!!”

(Semua penumpang diangkot pun menahan tawanya)

Sopir : “Alon-alon bae mas.”

(Arkan masuk dan duduk sembari mengusap kepalanya)

Adegan 2

Setting : Lingkungan sekolah

(Musik 1 masih. Shoot kondisi sekolah. 3 kali pengambilan gambar. Arkan turun dari angkot, kembali lagi melihat jam tangan. Shoot jam tangannya yang menunjukan pukul 06.55)

Arkan : “Ahh… belum telat”

(Mulai dari sini, kamera tanpa “cut”. Arkan berjalan masuk dari gerbang sekolah masuk dengan percaya dirinya. Sesekali ia menyapa teman di parkiran motor sekolah. Faiz berlari dari belakang menuju Arkan. Faiz menepuk bahu Arkan tanda menyapa. Arkan membalasnya. Ketika masuk pintu masuk sekolah, Arkan, faiz dan siswa-siswa yang baru datang menyalami guru yang stand by. Setelah masuk lalu absent jempol. Faiz menyapa Genk Nero, genk tercentil di SMA 1 yang terdiri dari 3 orang antara lain, Mentari, Maya, dan Mona. Mereka berjalan menuju ruang BOP, kamera shoot mereka berjalan dari belakang, ketika belok shoot tetap lurus, ada Wahyu dan Egi yang disorot kamera. Wahyu memberi tau Egi dengan menunjuk Arkan dan Faiz.)

Egi : “Wei…!” (sapa Egi menghampiri, kamera mengikuti gerakan Wahyu dan Egi)

(Mereka bertemu dan salam ala Geng mereka. Dilanjutkan dengan gerakan Faiz sendiri yang penuh gaya menghampiri rahmat yang sedang membaca di tempat duduk dekat kolam ikan. Faiz duduk dan merangkul Rahmat, masuk Arkan, Egi dan Wahyu. Setelah mereka berlima dalam satu shoot. Mereka pun beranjak masuk kelas, dengan gaya mereka masing-masing. Di langkah mereka, mereka menyapa teman-temannya yang di lewati. Hingga sampai dibelokan dekat wc, depan 12 sos 2, Rahmat yang masih saja konsentrasi dengan buku sejarah yang ia pegang, tersandung dan jatuh mendorong Arkan di depan. Otomatis yang dibelakang Arkan ikut rejatuh, dan terjatulah mereka berlima, tepat di persimpangan depan 12 sos 2. Faiz terakhir jatuhnya. Semua orang yang melihat mereka terdiam sejenak, tak ada suara, musik 1 pun berhenti sejenak)

(Arkan, Egi, Wahyu, dan Faiz langsung menatap Rahmat.)

Rahmat : “Heheh… peace… maap” (mengacungkan 2 jarinya)

(shoot dari tangga wc ce sesaat, terlihat semua orang terdiam. Shoot wajah mereka berlima yang melihat ke depan dengan rasa malunya. Shoot lagi dari tangga wc ce yang melihatkan semua orang bertepuk tangan dan tertawa melihat kejadian jatuhnya 5 orang tersebut. Nakal ya? Musik pun kembali bunyi)

(Bel masuk pun bunyi, shoot anak-anak lain yang pada masuk kelas sambil ledek 5 orang yang jatuh itu. Terdengar suara, “bukannya bantuin malah diketawaain, tapi gapapa ding. Lucu sih… wkwkwkw”)

Adegan 3

Setting : Kelas

(Seorang guru. Dialah bu Mukti. Shoot dari kaki hingga wajah beliau. Musik 1 pun berhenti)

Bu Mukti : (menjelaskan UAS sebentar lagi, sedangkan materi sejarah belum selesai dibahas. Dan beliau bilang hari ini selesai atau tidak selesai dibahas semua, ulangan harus siap)

(Mulai penjelasan Bu Mukti seperti biasa, beliau menjelaskan tentang Perang Dingin. Ruangan interaktif, tetapi Arkan malah asyik dan sms Adesty, pacar Arkan kelas 11. Hp’y disembunyikan dibalik tas yang diletakkan di atas meja. Shoot hp’y. “yank, nnti istirahat ktemu ya, bls. Luph U” lalu di send, dan kembali ke wallpapernya yaitu gambar Arkan dan Adesty. Arkan pun tersenyum. Tiba-tiba Bu Mukti beri pertanyaan)

Bu Mukti : “Arkan, siapa yang menandatangani surat perdamaian dari pihak Rusia terhadap Amerika?”

(Rahmat, teman sebangkunya paham jika Arkan tidak tau jawabannya. Dengan lekas, Arkan menulis jawabannya di selembar kertas di hadapannya. Arkan melihat tulisan Rahmat dan segera menjawab)
Arkan : “……., Bu”

Bu Mukti : “Ya, benar. Jadi….. (menjelaskan kembali tentang perdamaian perang dingin)”

(Arkan menghembus nafas panjang, tanda leganya bisa menjawab. Ia pun mengacungkan jempol kepada Rahmat tanda ucapan terimakasih)

Adegan 4

Setting :Koridor kelas 11

(Shoot Adesty dan Arkan yang berjalan di koridor kelas 11)

Adesty : “Mas, ke kantin yuh.”

Arkan : “ok, kamu yang traktir aku, ya?” (candanya)

Adesty : “Yehh.. seharusnya Mas yang traktir aku.. uhh…” (pukul manja pada bahu Arkan)

(datang Desi, teman Adesti menghampiri mereka berdua. Desi menyapa Arkan sopan)

Desi : “Ades, ayo cepet, ini kan rapat padusmu.” (ajak desi)

Adesty : “oh iya, maaf hampir saja lupa. Mas, aku ikut rapat dulu ya. Maaf banget mas, aku tinggal gapapa?”

Arkan : “ya sudah, aku mau ke perpus dulu aja.” (tersenyum)

(adesti dan Desi pamit)

Adegan 5

Setting : Dareah ruang BK, dan perpustakaan

(shoot Bu Ani selaku , guru BK dan Egi. Bu Ani sedang menasihati Egi)

Bu Ani : (Penjelasan Bu Ani jika ada anak yang nakal dan nilai dari kelas 1 sampai sekarang menurun)

(Egi hanya diam dan terkadang hanya menganguk. Di setting lain, Arkan masuk pintu wilayah perpus. Mau masuk ke perpus, perhatiannya terhenti karena melihat sahabatnya, Egi yang sedang bersama Bu Ani. Tanpa ragu, Arkan pun menguping dibalik sela jendela tanpa diketahui Bu Ani. Shoot lagi Bu Ani yang menasehati Egi melanjutkan dialog awal. Di setting lain, Rahmat melihat Arkan di depan ruang BK, Rahmat berada di dalam perpus bersama Kelompok orang pintar, diantaranya Yudha, Sarah, Ananda, Yudi, Rizki Aulia dan Anggit. Shoot dahulu situasi di perpus, kelompok orang pintar itu mendebatkan tentang soal Biologi UM UGM. Konsentrasi rahmat terpecah antara debat dengan melihat gerak-gerik Arkan. Setting lain, shoot Arkan lagi mendengar perkatan Bu Ani kepada Egi. Tiba-tiba, faiz dan Wahyu sudah berada di samping Arkan tanpa diketahuinya.)

Arkan : “Busyet! (suara keras) Hus, Keget, gila.. (bisiknya)!”

(Faiz dan Wahyu tertawa nyengeh, khususnya wahyu dengan tertawa ala Sponge bob. Shoot Bu Ani melirik ke jendela yang menyadari Arkan telah mendengarkan ucapannya pada egi)

Bu Ani : “Temanmu (melirik dengan matanya) Ya sudah lebih baik, kamu harus lebih semangat lagi dalam belajar. (penjelasan motivasi)”

(Shoot Rahmat tersenyum dan pamit keluar pada kelompok orang pintar yang daritadi debat dengan mempertahankan argumennya. Yah.. dasarnya orang pinter c… Shoot Rahmat bergabung dengan Arkan, Faiz, dan Wahyu)

Rahmat : “Ada apa c heboh amat?”

Arkan : “Sssttt…. (sembari menyuruh yang lain mendekat) Si Egi, masuk ruang BK lagi.”

Faiz : “hahh?kok bisa?insyaf dia?”

Wahyu : “kayonge, ketangkep maning keh..”

Rahmat : “Ketangkep satpol PP?” (polos)

Arkan : “Bukan, bro. Dia kayanya… (terpotong)”

(Arkan melihat Egi yang sudah berdiri di belakang meraka disusul dengan Rahmat, Wahyu dan Faiz melihatnya secara satu per satu)

Arkan : “(melanjutkan kalimat terpotong) pintar dan baik hati.”

(Semuanya tertawa dengan terlihat maksa, dan lagi-lagi Wahyu tertawa dengan ala sponge bob)

Faiz : (merangkul Egi keluar diikuti yang lain) “Ayo cuy, ceritakan.”
Wahyu : “Yaul, ana apa maning keh”

(Di koridor depan lab komputer atas, levelitas diatur)

Egi : “Nilaiku turun dari tiap semester, makanya aku ditangkep Bu Ani.”

Wahyu : “Tangkep?” (berbungah)

Egi : “Maksudnya dipanggil, bro.. Kalian tau ndiri lah kondisi orangtuaku”

Rahmat : “Menurutku sendiri, itu bukan alasan, gi. Tunjukan bahwa kamu bisa hidup mandiri dan bisa sukses. Aku yakin, lama-lama ortumu pada sadar bahwa anaknya itu membanggakan mereka”

Arkan : “masalah pelajaran makanya kalo diajak belajar bareng ma kita, jangan bawaannya males mulu. Lumayan tuh, les gratisan dari Rahmat.”

Faiz : “Kita ini sobat, kita hidup ga sendiri.”

Wahyu : (Wahyu nangis lawak)

(suasana jadi mencair, suasana keharmonisan terlihat)

Egi : “Thanks ya, bro.”

Adegan 6

Setting : Koridor kelas 12, pulang sekolah

(Di ruang kelas. Arkan, Wahyu, dan Faiz sudah menggunakan tas, sedangkan Rahmat belum bergegas)

Arkan : “Yuh balik.”

Rahmat : “Diluan aja, aku diajak belajar bareng buat persiapan UM UGM sama anak-anak OSN”

Arkan : “Ya wis, diluan yak. (diikuti Wahyu dan Faiz pamit pada Rahmat)”

(Rahmat sudah bergegas, bawa tas dan hendak keluar kelas. Saat keluar Musik mulai, shoot Genk tercentil sekolah. Maya, Mona dan Mentari. Mereka tampil mengesankan. Rahmat gugup, dan masuk kelas lagi dengan nafas ngos-ngosan. Suasana kelas sudah sepi. Ngintip lagi dari balik pintu, tanpa sengaja tatapan Mona berpapasan dengan mata Rahmat. Rahmat kembali sembunyi. Setelah mencoba untuk menenangkan diri, Rahmat memberanikan keluar kelas dan langkahnya gugup melewati genk tersebut. Setelah lewat 3 langkah dari hadapan mereka, Rahmat langsung ngacir dan bersembunyi di daerah ruang ganti baju di bawah wc. Dia ngos-ngos-an sambil ngaca.)

Mona : “Rahmat.” (sapa halus Mentari)

(rahmat terkejut dan gugup tanpa berkata-kata)

Maya : “Kok gugup, suka ya sama kita-kita?”

(rahmat tetap gugup)

Mentari : “Rahmat, kamu kan baik hati, ganteng pula… (padahal tampangnya cupu). Mau gak, bantu kita ngerjain soal UAS?jawabannya di sms ya..?”

Mona : “Ya?” (rayu)

Maya : “Ya?” (rayu)

(Tanpa sepatahkata, Rahmat langsung jalan percepat dengan tatapan terus ke depan. Tanpa disadari tembok dihantamnya. Duukkk!!)

Rahmat : “Awww!”

Adegan 7

Setting : Aula sekolah

(Arkan, Wahyu dan Faiz dengan membawa tas pulang bersama karena mereka 1 kos. Pas di aula, mereka bertemu salah seorang anggota padus.)

Lia : “Hai mas.. Mas, mau anter ades ke jakarta?”

Arkan : “Jakarta?”

Lia : “He em.. Aku sedih deh, ades ternyata jadi pindah.”

Faiz : “Pindah?”

Arkan : “Maksude? Aku gak paham.”

Lia : “Lohh.. Adesty kan mau pindah sekolah, soale bapaknya pindah dinas. Masa mas belum diceritain sih?

Wahyu : “Pindah sekolah?”

Lia : “Belum ya?” (merasa bersalah plus heran)

(shoot Arkan, Faiz, dan Wahyu yang heran)

Adegan 8

Setting : Tempat duduk dekat kolam ikan

(Di tempat itu hanya ada Arkan, dia duduk termenung untuk menunggu Adesty. Tak lama kemudian, Adesty berjalan dari belakang Arkan mendekatnya dan duduk di sampingnya)

Adesty : “Mas” (tersenyum) Sudah lama ya, Mas?”

Arkan : “Nggak.” (jawabnya dingin)

(Suasana hening sejenak, shoot kamera jauh, lalu dekat lagi.)

Adesty : “Mas, ada suatu hal yang harus aku omongin ke Mas.”

Arkan : “Aku juga.”

Adesty : “Mas dulu., saja.”

Arkan : “kamu dulu.”

Adesty : “Gapapa, mas dulu saja.”

Arkan : “Kamu dulu.”

Adesty : “Mas… (mau membalas lagi, tapi terhenti) Ya sudah, aku dulu.”

(Arkan mengangguk dengan dinginnya tanpa melihat Adesty)

Adesty : “Mas, jam 4 sore hari ini, aku harus pergi.”

Arkan : “Ke Jakarta.”

(Adesty sedikit terkejut, lalu dengan beraninya untuk berbicara lagi ia terus menahan tangis)

Adesty : “Maafkan aku, Mas. Aku… (terpotong)

Arkan : “Kenapa kamu sembunyikan hal ini?”

Adesty : “Aku… (menahan tangis)”

Arkan : “Kenapa!?! (membentak dan berdiri)

(suasana hening, Adesty menangis)

Adesty : “Aku gak tega bicara hal ini, Mas.”

Arkan : “Kamu tega.”

Adesty : “Mas, tolong ngertiin perasaan aku… Aku.. (terpotong)”

Arkan : “Cukup. Aku gak peduli lagi, tolong pergi dari sini. Kita putus”

(Adesty langsung menampar Arkan, menangis perlahan mundur dan pergi dengan menangis. Shoot, Arkan duduk terlemas menyesali perbuatannya tadi)

Adegan 9

Setting : Kos

(Shoot, Faiz dan Wahyu duduk di ruang tamu Kos. Arkan masuk rumah tanpa melihat ada faiz dan Wahyu, tatapannya terus ke depan. Terlihat pasrah,. Melihat itu, Faiz dan Wahyu mendekat)

Wahyu : “Gimana, Kan?”

(Arkan tidak menghiraukan dan masuk kamar. Diikuti Faiz masuk kamar, wahyu mau masuk tapi segera dicegah)

Faiz : “Dia lagi sedih, ngelawaknya nanti saja.” (langsung masuk)

(Faiz masuk kamar dan segera duduk di hadapan Arkan)

Faiz : “Dari raut mukamu, aku dah bisa nebak.”

Arkan : “Aku dah mutusin dia, iz.”

Faiz : “Loh kok bisa?” (heran)

Arkan : “Aku dah gak peduli lagi”

(faiz terdiam dan berusaha untuk menguasai suasana hati Arkan)

Arkan : “Jam 4 ini, dia akan pergi ke Jakarta.

(Arkan melihat jam dinding pukul 14.05 dengan gelisah)

Faiz : “Yakin, kamu dah gak peduli lagi?”

Arkan : “Ya.” (ragu)

Faiz : “Bohong! Udahlah gak usah cemen, kejar dia sebelum dia pergi. Itu saranku.”

Arkan : “Apa urusanmu?” (dingin)

Faiz : “Aku ini sobat mu, Kan!”

Arkan : “Tinggalkan aku sendiri.”

(Faiz terlihat kecewa dan keluar kamar. Dalam kesendirian, Arkan terlihat gelisah dan selalu meliat jam dinding di kamanya. Waktu terus berlalu, hingga tepat pukul 15.45 akhirnya ia punya tekad tuk keluar dan ingin menemui Adesty)

Arkan : “Fren, aku keluar dulu.”

Faiz : “Mau kemana?” (menahan bahu Arkan dengan curiga)

Arkan : “Adesty.”

Faiz : “Naik angkot? Kamu gak ngerti apa, angkot nge-time mulu. (liat ke Wahyu) Yu, pinjemin vespamu.”

Wahtu : “Vespa? (kaget lebay) Ok..ok..”

(wahyu melempar kunci Vespa pada Arkan)

Arkan : “thank, bro.”

Faiz : “yayaya… Dah sana..”(faiz mendorong Arkan tanda untuk bergegas)

(Arkan menyalakan wespa, shoot Arkan di jalan naik motor. Tiba-tiba hampir sampai rumah Adesty, terlihat alat pengukur bensin di motor habis. Motorpun berhenti. Arkan kesal, dan langsung berlari menuju rumah Adesty. Helm masih dipakai, lalu dilepas dan dibanting saat berlari. Hingga dibelokan menuju rumah Adesty, terlihat Adesty sedang naik ke mobil. jalan Arkan jadi perlambat sambil menghela nafas. Saat mobil melaju, Arkan langsung berlari kembali)

Arkan : “Ades!!!!!” (teriaknya sambil berlari)

(shoot Adesty dari dalam mobil dan melihat kebelakang dari jendela mobil terlihat Arkan yang berlari mengejar mobil. Adesty hanya pasrah dan langsung menangis dengan menutupi mulutnya. Shoot Arkan pun berlari dan berhenti karena mobil tak terkejar, iapun terjatuh di sampingnya ada 2 orang anak kecil laki-laki dan perempuan. Arkan hanya menunduk.)

AP : “mirip film korea, sedih huhuhu.” (nangis dipundak bocah laki-laki)

AL : “cup.cupcup. Sabar ya..”

Adegan 10

Setting : Dimana-mana Arkan berjalan

(Mulai dari shoot jam dinding dan Arkan, Arkan duduk di tempat duduk dekat kolam ikan, lalu di di kantin. Dan yang terakhir masuk adegan 11)

Adegan 11

Setting : Sekolah

(Di tempat yang sepi dari keramaian siswa, ia duduk sendiri dengan memegang buku dan pensil. Arkan melukiskan wajah Adesty di secarik kertasnya. Echa melintas, dan melihat Arkan sendirian. Echa segera mendekat diam-diam,, mengintip apa yang dilakukan Arkan dengan secarik kertasnya itu)

Echa : “Wah cantik sekali lukisannya.”

Arkan : “Oh, kamu Cha.”

Echa : “Siapa tuh? Wah imajinasimu hebat juga yah.. (tertawa)”

Arkan : “Kamu gak kenal?”

Echa : “Loh, emang salah satu teman kita ya?”

Arkan : “Adesty kelas 11.”

Echa : “Kelas 11 aku ndak terlalu kenal. Kenalin donk pacarmu,” (ledeknya)

Arkan : “Dia dah pindah ke Jakarta. Sampai saat ini sama sekali gak ada kabar dari dia.”

Echa : (Raut mukanya turut prihatin) “maaf ya, aku ngomong macem-macem.”

(Rahmat, Faiz, Wahyu dan Egi mendekati Arkan.)

Faiz : “Arkan, mau sampai kapan kamu kaya gini terus?”

Rahmat : “Bentar lagi UAS, aku harap nanti kamu mau ikut belajar bareng ma kita.”

Egi : “Kamu ingat kan dulu pernah nasehati buat belajar bareng, Sekarang giliranku, ayo persiapkan buat UAS.”

Wahyu : “Eeh.. (mau ngomong tapi ga jadi) Iyah..”

Arkan : “Jujur, aku gak semangat.”

(Shoot Echa narik lengan Wahyu)

Echa : “kenapa sih?”

Wahyu : “Begitu ceritanya.”

Echa : “Yeyy..”

(shoot Arkan)

Arkan : “Makasih ya, kalian dah peduli.”

Rahmat : “Arkan, kamu ingat gak? Kita berlima sahabat, jika satu diantara kita dalam kesusahan, kita janji akan saling bantu cari jalan keluar. Kita ini sobat, dan aku harap perlahan, kamu bisa keluar dari permasalahan ini. Kamu pasti bisa.”

Faiz : “Benar, Kan. Gak baik, larut terus dalam kesedihan. Oke?”

(Arkan terlihat tersenyum)

Egi : (merangkul lalu 5 sahabat itu mengumpulkan tangan kanannya menjadi satu) “Friend Forever….!” (teriak mimpin)

(semua kompak menjawab, “yaul!!!”, setelah itu shoot Echa tersenyum melihat 5 orang itu)

Adegan 12

Setting : Cuplikan ringkas di segala tempat

(Musik mulai, dialog redam tapi tetap menunjukan yang di shoot percakapan. Shoot pertama : Arkan, rahmat, Faiz, Egi, Wahyu, dan Echa di perpustakaan. Tampak yang mimpin belajar Rahmat yang menjelaskan materi pelajaran pada teman-temannya. Lingkungan belajar harmonis, Arkan sudah mulai tersenyum walau masih terlihat guratan sedih di wajahnya. Shoot kedua : Echa lagi nerangin materi pada Arkan berdua, sedangkan yang lain misah. Yang lain usil, ledekin Arkan dan Echa yang lagi berdua. Tapi dilempar stip oleh Arkan balas candaan juga yang mengenai Wahyu. Wahyu nangis lawak. Shoot ketiga : Ruang BOP, bu kris kasih kartu UAS pada Arkan, faiz, Egi, Wahyu, dan Rahmat diakhiri “terimakasih Bu.” Tapi dialog tetap diredam karena musik tetap main. Shoot ke empat : UAS dimulai, kalo bisa ambil gambar yang saat kelas 11 ini lagi UTS agar terlihat alami sampai bel masuk. Shoot ke lima : Ruang kelas lagi UAS, tapi isi ruangan gak nyata, terdiri dari para pemain di 1 ruangan minimal 17 orang. Ada Arkan, Egi, Faiz di dalam ruang itu, shoot guru yang membagikan kertas terlihat kertas yang dibagikan kewarganegaraan. Shoot ke 6 : kalender yang dirobek atau dicoret. Shoot ke 7 : lembaran kertas hari ke-2. Shoot ke 8 : coretan kalender atau kalender yang dirobek. Berulang samapai hari terakhir yaitu bahasa jepang. Shoot terakhir : di aula Arkan, faiz, rahmat, Egi dan Wahyu, kembali menyatukan tangan kanan mereka dan berkata “sukses!!”. Dan musik pun berakhir)

Adegan 13

Setting : Koridor kelas 12

(Pengumuman UAN-Live. Di layar ada tulisan “26 April 2010”. Shoot ekspresi siswa yang harap-harap cemas, atau ekpresi yang pantas di ambil. Tidak mesti pemeran yang diambil tapi natural. Shoot rasa bahagia siswa yang lulus, usahakan cari siswa yang nangis.)

Adegan 14 (Ada prolog)

Setting : Koridor kelas 12

(Musik sedih. Dari keramaian berganti sepi. Di pohon cinta, terlihat Arkan yang melihat sekitarnya. Tempat kelas 12 yang penuh kenangan. Flashback masa lalu, mulai dari rekaman bersama Adesty, Perpisahan Adesty, sahabat yang memberi semangat, kejadian lucu, ruangan kelas, guru satu persatu di shoot yang mengajar anak kelas 12.)

(Setelah flashback, Egi, Wahyu, faiz, Rahmat dan Echa. Satu persatu menghampiri Arkan yang duduk di pohon cinta.)

Arkan : “Setelah kita keluar dari SMA 1 ini, kita akan berpisah. Kamu (shoot Rahmat) akan ke UGM, kamu (faiz) ke Jakarta, kamu (Wahyu) akan ke semarang, kau (Egi) ke purwokerto dan kamu Echa akan ke Bandung. Tak ada yang abadi di dunia ini, pasti kebersaman ini akan berakhir pada perpisahan. Aku pasti merindukan kalian, teman. Friend forever. Tapi ku harap, kita masih tetap berhubungan walau dalam jarak jauh.”

(Arkan, Faiz, Egi, Wahyu, dan Rahmat saling merangkul membentuk lingkaran dan Echa duduk memandanginya dengan menahan tangis. Lagu yang menandakan kenangan pun diputar, kalo saran lebih baik ambil lagu Peterpan yang aku dan kenangan, kalo bukan itu Elemen yang Waktu terus berlalu)

The End

Naskah Film : Sahabat

Standard

Karya : Muhammad Arif Ali Wasi

Tokoh-tokoh :

  1. Arkan
  2. Furqan
  3. Anisa
  4. Reyhan
  5. Aisyah
  6. Gilang
  7. Lukman
  8. Reza
  9. Satria
  10. Mona
  11. Lisa

ADEGAN 1

Setting : Koridor-Kelas

(Arkan berjalan dari XI IPA 7 menuju XI IPA 2. Dalam perjalanan, Arkan disapa oleh anak-anak.)

Gerombolan cewek : “Hei, Arkan….”

(Arkan membalasnya dengan senyum terpaksa. Beberapa langkah kemudian ia disapa oleh Gilang, tiada lain adalah sahabatnya sendiri.)

Gilang : “Arkan!”

Arkan : “Eh bro, ada apa nih?”

Gilang : “Nanti pulang sekolah, aku ingin bertanya soal Fisika ya? Waduh, aku tidak paham yang dijelasin oleh guru”

Arkan : “Insya Allah ya (tersenyum akrab) Gilang, aku mau ke XI IPA 2 yah.”

Gilang : “Mau ke siapa?”

Arkan : “Furqan” (beranjak pergi)

Gilang : “Oh ya mangga (logat jawa) hus… hus….” (ledek Gilang)

(Arkan kembali melanjutkan perjalanan ke IPA 2, di depan IPA 3 terdapat geng kansas yang diketuai oleh Reza, saat Arkan melewati mereka, Reza melirik sinis kepada Arkan. Tetapi arkan tak menyadarinya. Dan saat memasuki kelas XI IPA 2, dia langsung menemui Furqan yang sedang membaca buku, disebelah Furqan ada Lukman teman dekat Furqan yang sedang mengobrol dengan temannya)

Arkan : “ Assalamualaikum, Furqan…” (mendekat Furqan dan duduk disamping meja Furqan)

Furqan : “Walaikumsalam, ada apa Arkan?” (tersenyum ramah)

Arkan : “Gimana toh kabarmu?”

Furqan : “Baik.”

Arkan : “Aku kesini mau minta pendapat kamu, boleh?

Furqan : “Pendapat tentang apa, Arkan?”

(Diluar pintu, Anisa yaitu gadis berjilbab yang soleh se sekolah, lewat dengan teman-temannya dengan anggun. Arkan menatap Anisa. Furqan melihat apa yang sedang dilihat Arkan kemudian tersenyum dan menyadarkan Arkan)

Furqan : (melambaikan tangan depan wajah Arkan) “Minta pendapat tentang gadis itu toh? Hehe”

Arkan : “Eitt, apaan… Nggak kok, bener…” (salah tingkah sembari tertawa)

Furqan : “Oalah, yang bener?” (ledek Furqan)

(Arkan dan Furqan tertawa akrab)

ADEGAN 2

Setting : Kelas

(Jam ulangan Biologi, yang bimbing adalah Bapak Rudianto. Pak Rudi setelah membagikan soal, seketika langsung duduk di kursi guru dan lama-lama ketiduran. Anak-anak langsung ber-aksi, mereka saling mencontek, ada yang buka buku, tanya teman, dan melihat contekan dalam selembar kertas. Yang tetap tertib hanya tiga orang, Furqan, Anisa, dan teman Anisa yaitu Reyhan. Mereka duduk dibangku depan. Sebelum bel pulang sekolah mereka telah menyelesaikan soal ulangan dengan rasa bangga. Bel pulang pun berbunyi, Pak Rudi terkejut)

Pak Rudi : “Gimana ulangannya? Sudah selesai semuanya?

Anak-anak : “SUDAH PAK……!!!!” (kompak)

Pak Rudi : “Kalian memang pintar. Sekarang soal dan jawaban harap dikumpulkan. Dan PULANG…..”

ADEGAN 3

Setting : Kantin

(Arkan sedang memakan Bakso dan Gilang hanya meminum es teh sembari konsen pada buku Fisikanya)

Gilang : “Arkan, ini caranya bagaimana?” (menyodorkan buku)

Arkan : “Ouw, ini… kita lihat contohnya…” (dijelaskan)

Gilang : “Hah???Cuma gini tok?? Daning gampang?” (meremehkan)

Arkan : “Kalau mau belajar, pasti kamu bisa kok. Banyak-banyak latihan soal saja. Kalau kamu tidak paham, Tanya ke aku saja.”

(Lisa, cewek favorit disekolah dating menghampiri Arkan dan Gilang)

Arkan : “ssutt… ssutt….(kepada Gilang) tuh cewek yang kamu taksir, datang!”

(Lisa melambaikan tangan.. Arkan membalas dengan senyuman, Gilang dengan lambaian tangan)

Gilang : “oalah dia lambaikan tangan buat aku…” (GR)

Arkan : “Bukan buat kamu, tapi kita berdua.”

(Lisa duduk di sebelah Arkan)

Lisa : “Belum pada pulang?” (tersenyum anggun)

Arkan : “Kita lagi belajar Fisika.” (balas tersenyum)

Lisa : “Belajar? Ouw, menghitung gaya pada bakso ya?” (ledek Lisa)

Arkan : “Ah Lisa ada-ada saja, aku sekalian makan siang”

Lisa : “Ouw…” (tersenyum)

Arkan : “Lah kamu?kenapa belum pulang?”

Lisa : “Aku janjian sama teman di kantin.”

Arkan : “ouw…”

(Arkan melirik Gilang yang sedang menatap Lisa dengan mulut mangap, Arkan menendangi kaki Gilang tanda menyadarkannya)

Arkan : “Hempp, kayanya kita sudah selesai, kita pulang dulu ya. Ayo Gilang?”

Gilang : “O…oh… iya..iya… kita.. kita-kita pulang dulu” (salah tingkah)

Lisa : “hati-hati ya, guys!!!”

(Mereka pergi meninggalkan Lisa, Arkan tersenyum melihat Gilang. Gilang pergi dengan mulut mangap)

ADEGAN 4

Setting : Mushola

(Furqan mengambil air wudhu, setelah usai, Anisa dan Reyhan lewat dihadapannya. Furqan tersenyum, Anisa dan Reyhan membalasnya dengan senyum. Di dalam Mushola ada Lukman yang menunggu berjamaah)

Lukman : “Kamu imam ya.”

Furqan : “Qamat” (memerintahkan Lukman Qamat)

Luman : (mengumandangkan Qamat)

(di Mushola hanya ada 4 orang, Furqan, Lukman, Anisa dan reyhan. Mereka shalat berjamaah. Selesai sholat, Furqan dan lukman berbincang-bincang di teras Mushola. Anisa dan reyhan melihatnya. Dan saat keluar dari Mushola mereka mengobrol)

Reyhan : “Furqan dan Lukman, mereka sangat soleh. Aku sungguh kagum dengan mereka.”

Anisa : “Iya, Rey. Kamu ingat pada saat Furqan mendapatkan beasiswa pendidikan gratis ke Australia ? Dia lebih mengutamakan merawat almarhumah ibunya yang pada saat itu sedang sakit keras. Walaupun ada pembantu yang akan merawat ibu dan ibunya pun mengizinkan Furqan mengambil beasiswa, dia tetap teguh untuk merawat ibunya, yang tiada lain satu-satunya keluarga Furqan.” (kagum)

Reyhan : “Berita wafat ibunya, membuat kita semua ikut merasakan kesedihan Furqan. Betapa tidak? Selain kehilangan beasiswa dia juga kehilangan seseorang yang amat berharga baginya. Dan sekarang dia hidup sendiri dengan hasil uang warisan yang tak seberapa.”

Anisa : “Tetapi keputusan ia, adalah keputusan yang tepat.” (tersenyum)

Reyhan : “Kita doakan saja, ya…”

ADEGAN 5

Setting : Ruangan anak nongkrong

(Gerombolan Geng Kansas yang terdiri dari 4 orang cowok. Reza, Satria, Robby, dan Roni)

Satria : “Men, tadi gue lihat, si Arkan ngobrol sama si Lisa, mesraaaaaaa bgt skl…!”

Mona : “Gila si Arkan! Cari masalah aja tuh anak.”

Roni : “Cewek yang lu incer, malah digodain sama cowok lain, bos..” (kepada Reza)

Mona : “Kita kasih pelajaran aja tuh anak! Biar Kapok!!!”

Satria : “Pelajaran?? Benar tuh.. Gimana kalo pelajaran Fisika? Susah banget tuh”

Mona : “Bukan pelajaran itu, oon..!”

Reza : “Tenang men.. Liat saja tanggal mainnya.” (sinis licik)

Satria : “Main? Jangan bilang kalo mau main petak umpet?”

Mona : “siapa yang mau bilang itu?? Oon..!”

Satria : “Iya, maaf-maaf…”

Mona : “Lalu rencana kita apa bos?”

Reza : “Dia orang yang paling gue benci di sekolah ini. Gue eneg liat dia so artis, so kecakepan! Liat saja, gue bakal bikin dia jadi sampah!” (senyum licik)

Mona : “Gimana caranya bro?”

(Reza menceritakan ide-nya untuk menyerang Arkan kepada yang lain)

Satria : “Wuih, bagus tuh..”

Mona : “Yo’i, gue setuju cara lo..”

Satria : “Eyauld…”

Reza : “Tujuan kita, membuat dia jadi sampah!”

Semua : “Ok bos!”

ADEGAN 6

Setting : Kelas

Pak Rudi : “Anak-anak, hasil ulangan kemarin sudah saya koreksi dan saya nilai. Dan herannya kalian tidak ada yang di remidi. Beda sekali pada saat UHB kemarin, hanya ada 3 orang yang lulus.”

Siswa1 : (berbisik pada temannya) “Ya iyalah, masa ya iya donk.. Duren aja dibelah masa dibedonk.”

Pak Rudi : “Siswa1, ada apa. Kenapa ngomong duren. Saya jadi lapar.” (bicara dengan irama datar)

(anak-anak menahan tawa )

Siswa1 : “Oh ga apa-apa, Pak. Duren itu enak ya, Pak?” (berbicara tanpa dosa alias sekenanya)

Pak Rudi : “Iya-iya enak… (tertawa) Loh, kok bahas duren? Kita tidak membahas lagu Julia Peres, loh..”

(anak-anak tertawa)

Pak Rudi : “Sudah-sudah, diam semuanya. Saya lanjutkan yang tadi.”

(semua terdiam perlahan)

Pak Rudi : “Tadi sampai mana ya?”

(anak-anak tertawa kembali)

Siswa2 : “Julia Peres, Pak.” (ledek siswa2)

Pak Rudi : “Hus ah,, apa ya? (berpikir) oh ya, saya ingat… ULANGAN.”

(anak-anak masih ada yang tertawa)

Pak Rudi : “SStt… jangan berisik. Saya lanjutkan lagi. Jawaban kalian memang sungguh sempurna, jawaban dengan panjang lebar. Mungkin karena pikiran kalian sama semua. Hahaha… Ya, silahkan tepuk tangan untuk diri sendiri..”

(semua bertepuk tangan dengan meriah)

Pak Rudi : “Karena nilai kalian bagus-bagus, kalian akan dapat hadiah dari saya.”

Siswa1 : “Buat saya saja pak, hihi.” (cengengesan)

(semua siswa menyoraki Siswa1)

Pak Rudi : “Semua siswa harus kebagian, kalian semua ingin hadiah toh?”

Semua : “IYAAA, PAK…”

Pak Rudi : “Beneran toh kalian ingin dapat hadiah?” (tanya dengan meyakinkan)

Semua : “IYAAA PAK….”

Pak Rudi : “Ok, hadiah kalian adalah ditambahnya soal menjadi 65 soal untuk UHB berikutnya. Setuju toh?”

Semua : “IYAAA, PAK….”

Pak Rudi : “Anak pintar”

Semua : (baru menyadari) “APAAAA?????”

(Semua gadih dan saling menyalahkan)

Pak Rudi : “Ayo kita mulai pelajaran Biologi!” (semangat)

(semua siswa kecuali Furqan dan Anisa lemas di tempat duduknya masing-masing)

Pak Rudi : “Hei… hei… hei…. Jangan terlalu senang, santai saja anak-anak” (bicara dengan enteng)

ADEGAN 7

Setting : Kelas-Koridor

(Bel pulang sekolah berbunyi. Di koridor kelas, Furqan berjalan dengan Lukman sembari membawa tas. Furqan melupakan sesuatu)

Furqan : “Lukman, kamu pulang diluan saja. Aku mau ambil buku kimia. Kebawa sama Satria.”

Lukman : “Ok” (meninggalkan Furqan)

Furqan : “Hati-hati ya!”

(Sebelum memasuki kelas menemui Satria, Furqan mendengar percakapan Geng Kansas yang mencurigakan)

Reza : “Ini tugas lo, yang numpahin air ke seleting celana Arkan. Lu bilang aja, gak sengaja numpahin itu air! (Ke satria) lalu, tugas lo, Mona. Lo ajak Arkan ngbrol untuk mengalihkan perhatian dia. Dan saat Arkan keluar kelas, gue bakal sindir dia habis-habisan, ’oalah mimpi basah toh, siang-siang gini!!’ Hahaha, mampus tuh anak!”

(Anggota Geng Kansas mengiyakan. Furqan yang berada di balik pintu, menggelengi perilaku mereka)

Reza : “Ayo, kita beraksi!”

(Mereka keluar dari kelas, posisi mereka berjalan seperti anggota F4 yang di Taiwan itu lohw. Satria menyapa anak-anak cewek yang lewat sembari memegangi botol air. Setelah tiba di kelas XI IPA 7, mereka melihat di dalam kelas terdapat, Arkan dan Gilang. Gilang menunggu Arkan membereskan buku-buku. Sedangkan Mona beraksi masuk kedalam kelas)

Mona : “Hai, Arkan, Hai Gilang! Mau pada pulang ya?”

Gilang : “Iya.”

Mona : “Arkan, gue mau Tanya Fisika. (menyodorkan buku) Ini gimana caranya?”

Arkan : “Oh.. ini. Ini memang cukup sulit. Konsentrasi ya….” (dijelaskan)

(Satria masuk diikuti oleh Furqan, ketika Satria mendekati Arkan, Furqan dengan cepat menyapa satria. Dan satria terkejut, tanpa sengaja botol air itu tumpah ke celananya sendiri)

Gilang : “Waduh… hati-hati bro. Tuh kan malah tumpah…!”

Satria : “Gue kaget tau!!!”

(Arkan menahan tawa, sedangkan Mona heran dengan perilaku temannya yang gagal)

Furqan : “Maaf ya…! Aku mau Tanya, kamu pinjam buku Kimia ku?”

Satria : “Tadi gue udah simpen di kolong meja lu…!”

Furqan : “Ouw, ya sudah.. sekali lagi maaf ya..!” (pergi)

Satria : “sialan” (berbisik pada dirinya sendiri)

ADEGAN 8

Setting : Ruangan anak Nongkrong

Reza : “Sialan, kita gagal!!!”

Satria : “Maaf bro..” (bersedih)

Mona : “Oalah gak usah sedih lah.. kita kan bisa balas di lain kesempatan.. santai saja bro..”

Satria : “Bukan itu, masalahnya,,,” (menunduk malu)

Mona : “Loh, memang ada apa apa sih?”

Satria : “Celana gue men… tadi ada anak yang ngeledekin gue. Katanya… , katanya… gue mimpi basah di siang bolong gini…! Gue malu….!”

Reza : “Oalah coy (memberi celana ganti) cepat ganti celana lu, sana…!”

Satria : “Thank ya” (pergi)

Mona : “Rencana awal kita gagal, lalu gimana rencana selanjutnya?”

Reza : “DROP OUT.”

ADEGAN 9

Setting : Rumah

(Rumah Furqan yang kecil, sederhana, tetapi sangat rapi. Dia hanya tinggal seorang diri. Terlihat Furqan sedang memasak nasi goreng untuk makan malamnya, dan segelas teh untuk minumannya. Setelah selesai, dia duduk untuk segera menyantapnya. Tiba-tiba perhatian dia beralih ke hadapannya, yaitu kepada Fhoto kenangan bersama ibunya. Perlahan ia mendekati dan mengambil Fhoto tersebut, tatapan penuh kerinduan ia keluarkan, tangisan tetes demi tetes air mata tumpah ke kedua pipinya. Dia berusaha menghapus kedua matanya, tetapi tak berhasil, kerinduannya meluap. Tangis semakin menjadi-jadi, tangisan tanpa suara, hanya isak tangis yang terdengar. Perlahan ia mencoba tersenyum menatap Fhoto kenangan itu. Dia berusaha untuk menegarkan hatinya. Dan berakhir dengan kecupan manis kepada Fhoto tersebut. Furqan kembali duduk untuk menyantap makanannya. Belum sempat menyantap makanannya, ada yang mengetuk pintu dan seseorang mengucapkan “Assalamualaikum”. Furqan dengan segera membukakan pintu, ternyata Arkan yang datang bertamu sembari membawa sebungkus gorengan)

Arkan : “Assalamualaikum, Furqan..”

Furqan : “Arkan,, Waalaikumsalam.. Ayo masuk..” (mempersilahkan arkan masuk)

(masuk ke rumah, dan Furqan mempersilahkan Arkan duduk di ruang tamu)

Furqan : “Malam-malam begini, ada apa? Sudah pamitan sama orang tua belum?”

Arkan : “Hehehe, orang tuaku membebaskan aku pulang kapan saja, asalkan aku tidak berbuat yang negative. Oh ya, ini gorengan untuk kamu.” (memberikan sebungkus gorengan)

Furqan : “Oalah, gak usah repot-repot kalo mau datang kesini… nanti bekal uangmu malah habis toh?”

Arkan : “gak apa-apa”

Furqan : “oh ya, aku barusan buat nasi goreng, kita makan berama dulu. Lagian kayanya kamu belum makan”

Arkan : “Wah Furqan, kamu tau aja”

(Furqan tersenyum dan membagi sepiring nasi goreng menjadi dua piring kecil ditambah gorengan hangat pemberian Arkan. Furqan pun membuat segelas teh hangat. Furqan membawanya dengan nampan)

Arkan : “waduh, malah aku yang ngerepotin.”

Furqan : “Gak apa-apa, kita kan diajarkan untuk saling menghormati tamu, sebagaimana menghormati dirinya sendiri (tersenyum) Yuh, sambil dimakan”

(mereka mengobrol sembari makan)

Arkan : “Furqan, kalau kamu butuh sesuatu, kamu bilang saja sama aku, selagi aku mampu, aku insya Allah akan tolong.”

Furqan : “Makasih ya, semoga keikhlasan mu diberi kebaikan dunia akhirat.”

Arkan : “Amin.”

(Furqan termenung sesaat, Arkan menyadarinya)

Arkan : “Ada apa, Arkan?”

Furqan : “Aku rindu mereka.”

Arkan : “Siapa?”

Furqan : “Anisa”

Arkan : “Anisa???” (terkejut)

Furqan : “Ya bukanlah… Aku rindu orang tua ku”

Arkan : “Insya Allah, mereka akan selamat di Akhirat, karena mereka mempunyai anak yang soleh seperti kamu”

Furqan : “Insya allah, makasih ya sobat, kalau aku tiada, jaga dirimu dengan baik. Hormati orang tua dan teman-temanmu.”

Arkan : “Hei.. kita masih muda, insya Allah kita masih diberi umur panjang.”

Furqan : “Kematian itu datang kapan saja. Aku ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan bersih.”

Arkan : “Furqan, ganti topik. Kamu nyeremin sekali..”

Furqan : “Hehehehe… maaf-maaf..”

Adegan 10

Setting : Kelas

(Ruangan kelas ramai, guru tidak masuk dan siswa diberi tugas. Yang mengerjakan hanya Furqan dan Anisa, sedangkan yang lain sangat gaduh. Segerombolan cewek bahas Arkan, sedangkan gerombolan cowok bahas Lisa)

Siswa Cewek : “Aduh cakep deh….!” (melihat fhoto digenggamannya)

Siswa lain : “Siapa sih?paling seleraa yu murahan.. hahahaha…”

Siswa Cewek : ”Enak saja..! Arkan, bu… arkan…!”

Semua Cewek : ”Wah… mana-mana?? Mau donk.. buat aku aja Fhotonya…” (genit)

Siswa Cewek : ”Weh enak aja!”

Siswa lain : “Arkan… (cengengesan) udah pinter, keren, ramah pula.. hohohoho…”

(semua cewek tertawa centil)

(sedangkan siswa cowoknya)

Siswa 3 : “eh men, si Lisa.. oalah t.o.p.b.g.t.s.k.l.coy!!”

Siswa 4 : “hei… (mengagetkan) gue punya Fhotonya low….” (humor dan memperlihatkan fhoto)

(Semua cowok tertarik, dan ketika mereka serempak melihat, ternyata Fhoto monyet berpose)

Semua Cowok : “huuuu… sialan lu..” (menjitak kepala siswa 4)

(perilaku mereka dilihat oleh Lukman, sejak dari tadi menggelengi perilaku anak-anak)

Lukman : ”Furqan, liat deh tingkah anak-anak..”

Furqan : “Kenapa?”

Lukman : “Anak muda… ckckckck..”

Furqan : ”kalau begitu, kamu tua donk? (cengengesan)

Lukman : ”Bukan begitu….”

Furqan : “Lalu bagaimana?”

Lukman : “Bagaimana ya?”

Furqan : ”bagaimana yang bagaimana?”

Lukman : ”Sudah deh, lupakan…” (ngambek)

Furqan : ”hehehe… maaf, aku paham kok!tiap hari mereka begitu toh?”

Lukman : ”Apa gak bosen ya?”

(Jeda sesaat melihat perilaku anak-anak. Furqan mengalihkan pembicaraan)

Furqan : ”Oh ya, hari ini mau kumpul teater?”

Lukman : ”pasti donk, Arkan juga kayanya berangkat.”

Furqan : ”Nanti aku liat deh, latiannya…”

Lukman : ”Kenapa gak ikut teater sih?”

Furqan : ”Lebih baik menjadi penonton.. hehe”
Lukman : ”Huuuu…”

(Anisa melirik Furqan dengan sembunyi-sembunyi)

Reyhan : “Nis, anter aku ke toilet..”

Anisa : ”oh ya…”

(mereka keluar kelas)

Adegan 11

Setting : Koridor dan toilet

(saat di koridor menuju tangga toilet, mereka berbincang)

Reyhan : ”Tingkah kamu akhir-akhir ini aneh. Dan kamu sudah mulai jaraang curhat sama aku. Sebenarnya ada apa Anisa? Aku kan sohibmu, ceritamu akan aku jaga, dan insya Allah aku akan kasih solusi buatmu”

Anisa : ”Ada hal aneh dalam batinku, janggal sekali.”

Reyhan : ”Kenapa?”

Anisa : ”Rasanya, Furqan…” (ragu-ragu meneruskan)

Reyhan : ”Furqan? Ada apa dengan Furqan?” (masuk toilet)

Anisa : “Aku khawatir dengannya.” (berbicara sendiri)

(Anisa melihat sekitar kebun, sunyi, senyap, tetapi damai. Tak berapa lama kemudian, Anisa melihat Genk Kansas di daerah gudang.)

Reza : ”Kita jebak Arkan, pake ini” (memperlihatkan sebungkus rokok dan bubuk narkoba) Kebetulan hari ini, anak IPA 7 pada olahraga”

(Genk Kansas dengan gerak cepat memasuki kelas XI IPA 7, Anisa terus memperhatikan gerak-gerik mereka secara bersembunyi. Di kejauhan Furqan melihat aksi Geng Kansas. Setelah Geng Kansas selesai dan meninggalkan IPA 7, Furqan mendekati IPA 7 dengan sedikit berlari. Anisa mengintip perilaku Furqan yang memasuki kelas IPA 7. Barang-barang milik Kansas yang ditinggalkan di IPA 7, ia bawa dengan mimik khawatir. Dengan segera Furqan membuangnya ke tong sampah. Furqan pergi, reyhan keluar toilet, Reyhan heran memperhatikan tingkah Anisa)

Reyhan : ”Anisa? Kenapa?”

Anisa : ”sstt… cepat kesini…” (berbisik)

Reyhan : ”Kenapa?” (berbisik)

Anisa : (melihat Furqan sudah pergi) ”ikuti aku…”

(Anisa mengajak Reyhan mendekati tong sampah, Anisa mengambil sampah yang dibuang oleh Furqan)

Anisa : ”Astagfirullah… Reyhan lihat ini.” (terkejut dan memperlihatkan bungkusan rokok dan narkoba)

Reyhan : (menutupi mulut dengan tangan) ”Nis, ini kan…? (tak kalah kagetnya)

Anisa : ”Rokok dan narkoba”

Reyhan : ”Punya siapa ini?”

Anisa : ”Tadi aku lihat Furqan yang membuang ini.”

Reyhan : ”Apaahh???” (sedikit berteriak)

Anisa : ”Sssssttt…… Jengan berisik, yang pasti ini bukan miliknya.”

Reyhan : ”lantas?”

Anisa : ”Geng Kansas, teman sekelas kita”

Reyhan : ”KANSAS?” (berteriak)

Anisa : ”SSSTTTTTT… jangan berisik!!!”

Reyhan : ”Kita harus laporkan ini ke Kepala sekolah!”

Anisa : ”jangan, kita tak punya bukti”

Reyhan : ”Laporkan saja ke polisi dan sidik jari sebagai bukti”

Anisa : ” kalau begitu, terdapat pula sidik jariku dan Furqan”

Reyhan : ”Lalu kita harus bagaimana?”

Anisa : ”Untuk kali ini kita biarkan, dan kita harus tanyakan ini semua pada Furqan.”

(membuang bungkus rokok dan narkoba ke tong sampah lalu pergi dengan segera.)

Adegan 12

Setting : Perpustakaan

(Lukman, Furqan, Anisa, dan Reyhan berjalan menuju perpustakaan. Tetapi Lukman pamit dan tidak dapat menemani Furqan, Furqan mempersilahkan Lukman pamit. Setelah sampai diperpustakaan, mereka duduk)

Anisa : (menunduk) ”Kami ingin menanyakan sesuatu.”

Furqan : ”Mengenai apa?”

Reyhan : ”IPA 7, Geng kansas dan kamu”

(Furqan terkejut)

Reyhan : ”Sebenarnya ada apa?”

Anisa : ”Aku yakin, kamu tak akan berani berbohong.”

Furqan : ”maaf, aku tidak tahu permasalahan ini.”

Anisa : ”BOHONG, lantas kenapa ada rokok? Kenapa ada narkoba?” (sedikit berteriak)

(semua siswa-siswi yang ada di perpustakaan melihat Anisa, Reyhan langsung mengalihkan perhatian yang lain)

Reyhan : ”Iya.. jadi narkoba itu mengandung zat kimia yang dapat merusak sistem organ, tubuh manusia dan alkohol juga sama dapat merusak sistem organ. Lalu bedanya apa? Aduh pelajaran kimia pusing!”

(semua siswa-siswi kembali biasa)

Reyhan : (berbisik pada Anisa) ”Hufft, kalau bicara pelan-pelan saja,Nis. Nanti malah kedengaran orang!” (Reyhan lega dan duduk kembali)

Anisa : ”tolong jawab pertanyaan ku, Furqan.”

Furqan : ”Mereka ingin memfitnah Arkan.”

Reyhan : ”Arkan?”

Furqan : ”Mereka memasuki barang itu ke dalam tas arkan.”

Anisa : Mengapa mereka melakukan hal itu?”

Furqan : ”Entahlah, yang pasti akan aku cegah perilaku mereka.”

Adegan 13

Setting : ”Ruangan anak nongkrong

(Reza dan Satria dengan mimik senang)

Reza : “Mampus tuh anak, gue rasa dia hari ini juga bakal di Drop Out dari sekolah!”

Satria : “Yo’i, men… si Mona pasti bakal berhasil jebak Arkan.”

(Kansas tertawa kompak. Suara ketukan pintu, Mona masuk dengan mimik kecewa)

Robby : “Sorry bro, kita gagal…! Tadi pas gue jebak dia buat buka tas-nya.. Rokok and narkobanya, NIHIL!!!Alias gak ada bro..!”

Reza : “Apaaa????”

Satria : “jangan-jangan. Si Arkan sudah tau? And bungkusan itu sudah cepet-cepet dia buang?”

Reza : “Sialan!!!cara yang kedua gagal..”

Satria : “Gue curiga…”

Mona : “Curiga kenapa, Sat?”

Satria : “tadi lu semua lihat gak?pas kita keluar dari kelas, si Furqan melirik ke kita terus.”

Reza : ”Gue gak lihat!”

Mona : ”gak liat!”

Satria : “lalu, lo semua sadar gak? Rencana pertama kita gagal juga karena Furqan?” (meyakini)

Mona : ”Kebetulan kali”

Reza : ”Tunggu… yang diomongin Satria ada benarnya juga. Jangan-jangan Furqan sudah tahu rencana kita”

Mona : ”yakin lu????”

Reza : ”kita lihat saja nanti.”

Mona : ”Oh ya, nanti sore ada latihan teater. Arkan ikut latihan teater, gimana kalau kita beraksi pas dia latihan, setuju gak men?”

Satria : ”Setuju banget, untuk kali ini gak ada si Furqan! Kita harus ngapain, bos?”

Reza : (berpikir) ”Gue gak ada ide.”

Mona : “Hajar aja langsung, kita sekap aja dia di gudang.”

Reza : ”itu artinya kita bunuh diri! Nanti dia malah laporkan kita ke guru.”

Mona : ”Kita bisa pakai topeng, coy..! Gimana, setuju?”

Satria : ”Yaul setuju, bro”

Reza : ”ok, ide bagus.”

(mereka semua tertawa sinis)

Adegan 14

Setting : Halaman depan sekolah, Jalan raya, pantai

(Arkan, Gilang, Furqan, dan Lukman berjalan di Halaman depan sekolah)

Gilang : “Arkan, Ngomong-ngomong tadi si Mona ngapain nyuruh buka tas kamu?”

Arkan : “Katanya pulpen kesayangannya hilang pas dia minta ajarin Fisika, kemarin. Kata dia, mungkin kebawa sama aku. Tapi nyatanya gak ada toh..”

Gilang : “Oh, gitu.”

Furqan : “Jadi kan?ke pantai?”

Lukman : “Pantai?memang ada apa?”

Arkan : “kata Guru Biologi kita, suruh bawa contoh populasi tanaman disekitar pantai.”

Furqan : “Sekalian aku juga ingin ke pantai, mau ikut?”

Lukman : “Wah, asyik tuh…!”

Gilang : “Kelas kamu gak disuruh bawa tanaman pantai, ya?

Lukman : “Di kelas kita penjelasan materi, lagi pula Pak Rudi sendiri yang bawa tanaman itu.”

(mereka tiba di parkiran motor. Gilang dibonceng oleh Arkan, sedangkan Furqan dibonceng oleh Lukman. Di tengah perjalanan, Furqan merenungi kejadian yang ada di sekolah disaat Kansas memasuki barang haram di tas Arkan, dan dia bersukur bisa menghentikan fitnah dari Kansas untuk Arkan. Dan mereka tiba di pantai, Gilang dan Arkan berpencar mencari tanaman. Arkan ditemani Furqan, sedangkan Gilang ditemani Lukman)

Arkan : “Wuih, panas bro..”

Furqan : “Tapi asyik juga. Aku suka dengan pantai, indah, sejuk, tentram dihati. Rasanya ini untuk terakhir kali aku berkunjung ke pantai.”

Arkan : “Ngomong itu lagi,, nanti tiap libur sekolah kita ajak yang lain buat holiday in the beach, ok?”

Furqan : “Ide bagus.”

(Arkan terus mencari, sedangkan Furqan duduk di pesisir pantai sembari menikmati pemandangan sekitar pantai)

Arkan : “Yes, akhirnya dapat nih, lumayan lah…” (tersenyum bahagia)

(Furqan tersenyum dan dibalas oleh Arkan dengan ssenyuman pula. Arkan duduk di samping Furqan)

Arkan : “Furqan, aku boleh tanya?”

Furqan : “Tanya apa? Tanya aja lagi…” (tersenyum)

Arkan : “Ada yang kamu sembunyikan tentang aku?”

Furqan : “Wuih, GR… Gak ada kok..”

Arkan : “Beneran?”

Furqan : “Kenapa kamu tanya begitu?”

Arkan : “Hemmpp, gak apa-apa si.. Cuma tanya..” (tersenyum)

(Furqan merenung dan berbicara dalam hati)

Furqan : Maaf Arkan, aku tidak mau membuat kamu cemas. Walau geng Kansas akan menyerang kamu, insya allah aku pasti akan jaga kamu, sahabat…

Arkan : (Arkan melihat Furqan merenungi sesuatu) “Kok melamun?”

Furqan : (Furqan menanatap pantai dengan pandangan kosong sembari tersenyum) “Walau terkadang dunia menyerangmu, walau dunia memusuhimu, walau dunia membencimu, walau dunia mengucilkanmu. Tapi ingat, satu hal yang perlu kamu tahu,.. bahwa kamu tidak sendiri, kamu punya seseorang yang dapat menemani kamu dalam suka maupun duka, dalam keramaian maupun kesendirian, dalam kesenangan maupun kebencian. Tahukah kamu siapakah itu?” (melihat Arkan)

(Arkan hanya melongok ke Furqan)

Furqan : “Tuhan, Orang Tua, dan Sahabat. Kita berharap kepada tuhan, agar orang tua kita diberi kesalamatan dunia akhirat. Mereka yang telah membesarkan kita, merawat kita tanpa pamrih, cinta dan kasih sayang yang tulus mereka berikan untuk kita. Kita tidak ingin kehilangan orang tua, kita masih butuh orang tua, kita gak boleh sia-siakan kepercayaan mereka.. ” (Furqan mulai meneteskan air mata tetapi dengan perasaan tegar)

Arkan : “Furqan?” (memegang pundak Furqan dengan iba)

Furqan : “Semua itu sama halnya dengan seorang sahabat… Sahabat merupakan salah satu anugrah terbesar yang diberikan Tuhan untuk kita. Sahabat akan saling menjaga, sahabat akan saling mengerti. Tapi ingat, sahabat juga pasti punya kesalahan… Apabila aku punya kesalahan mohon maaf ya, jangan sampai kesalahan yang pernah aku lakukan membuat kita terputus tali persahabatan..”

(Arkan hanya melihat heran ke Furqan)

Furqan : “Heh, kok nglamun toh? Ada yang salah ya?”

Arkan : “Oh gak, gak.. (tersadarkan) Aku kagum sama yang telah kamu ucapkan. Yo’i, semoga persahabatan kita seperti apa yang kamu ucapkan.” (tersenyum dan merangkul Furqan)

Furqan : “nanti sore mau latihan teater toh? Ya sudah, ayo pulang ”

Arkan : “Ok, kita cari Gilang sama Lukman.” (melihat Furqan)

Furqan : “Gak usah dicari, tuh mereka sendiri yang datang kesini.”

Arkan : “Oh iya.”

(Gilang mendekati Arkan dan Lukman mendekati Furqan)

Gilang : “Gimana?”

Arkan : “Nih.. (menunjukan tanaman di genggaman Arkan) Lumayan dari pada lumanyun., hehe”

Gilang : (menepuk pundak Arkan) “Yuh, kita pulang, nanti sore kita ada latihan teater.”

(mereka berjalan meninggalkan pantai. Furqan berjalan dibelakang teman-temannya sembari melihat ke pantai, dan tersenyum mengucapkan “Selamat tinggal” kepada dirinya sendiri)

Adegan 15

Setting : Aula, Gerbang belakang, kantin, Koridor dan Gudang.

(Pada sore hari, di aula sedang latihan teater penampilan anak-anak di kelas, Arkan hanya menonton ditemani dengan yang lain)

A : ”Pak Guru…. gawat Pak, gawat…”

B : “Ada apa ini? Kenapa kamu baru masuk, heh??

A : ”Ada hal penting yang harus diselamatkan sekarang juga pak, menyangkut kehidupan berbangsat. Eh, maksud saya berbangsa dan bernegara. Kita harus segera menyelamatkan ini pak, kalau tidak berdampak amat sangat super duper dahsyat sekali…”

B : (bengong) apa itu?”

A : “Tidak pak, nanti saja… sekarang lebih baik kita kesana, ayo kita kemon!!”

C : ”weh, kamu nyindir aku doraemon ya? Kurang ajar.”

Anak-anak : ”Kemon!!!! Doraemon…..” (serempak)

B : “Oah…. sudah-sudah.. Ayo kita ikuti orang utan ini.”

A : ”Bapak?” (terkejut)

B : ”Aduh… maksud saya orang ini… Hayu…”

(disisi lain, Arkan pamit pada ketua teater untuk ke toilet)

Arkan : ”Mba, aku ke toilet dulu ya…?”

(diizinkan)

(Arkan memasuki toilet dekat kelas XI IPA, hal ini diketahui oleh geng Kansas yang berada di Gerbang belakang untuk menyerang Arkan. Tak ayal, perilaku Geng kansas ini pun diketahui oleh Furqan, yang mengawasinya dari balik tembok menuju kantin belakang)

Reza : ” Akhirnya, ini adalah kesempatan kita! Cepat pakai topengnya” (menyuruh Satria)

(Tanpa disadari Furqan, ia diketahui oleh Mona, yang berada di belakangnya)

Mona : ”Tunggu, bos…” (sedikit berteriak)

(Kansas mendengar teriakan Mona, Mona tersenyum picik pada Furqan dan serta merta di dorong tubuh Furqan oleh Mona sehingga ia terjatuh dan terlihat oleh teman Kansasnya)

Reza : ”sialan!!!!” kita ketahuan.”

(Satria dengan lekas melipati tali pada tangan Furqan dengan posisi tangan kebelakang, dan Mona bergantian mengawasi Arkan yang berada di dalam toilet)

Satria : ”Lo ngapain ngintip kita, heh???”

Furqan : ”Perilaku kalian harus aku cegah.” (jawab dingin oleh Furqan)

Reza : “So, alim lo…!” (menampar)

(Mona memperhatikan Arkan dari balik tembok gerbang belakang)

Mona : “Men, si Arkan sudah keluar.”

(Furqan dengan lekas berteriak)

Furqan : “ARKANN..!(teriakan pertama) Ar…”

(belum selesai teriakan kedua, Furqan dipukul dengan keras hingga pingsan)

Reza : ”Sialan ini, anak!”

(Disisi lain, Arkan menengok ke arah sumber suara, dengan mimik penasaran. Perlahan ia membalikan badan dan segera berjalan perlahan mendekati suara yang seperti memanggil namanya. Beberapa langkah berjalan, Arkan disapa oleh Gilang)

Gilang : ”Arkan!!! Lama sekali dari toilet, beser ya?” (cengengesan)

Arkan : ”Oh kamu, lang… Oah… ya sudah ayo kita ke aula lagi.”

(Arkan dan Gilang kembali ke aula, sedangkan keadaan di daerah gerbang belakang, Satria sedang memegangi Furqan yang pingsan dan dibiarakan di lantai, Reza berdiri depan Furqan, lalu Mona yang berada tepat di balik tembok pasca mengintipi Arkan)

Mona : ”dia sudah pergi”

Satria : ”Kita apain anak ini? Dia sudah lihat kita, dan mungkin dia bakal ngancam kita ke guru.”

Reza : (berpikir keras) ”Ok, kita sekap dia di gudang.”

(geng kansas dengan segera mengikuti komando Reza. Furqan di seret tak sadarkan diri menuju gudang. Setelah sampai di gudang, Furqan diikat dengan tali ke bangku, dimasuki kain kedalam mulutnya, dan diplester mulutnya. Reza tersenyum melihat kondisi Furqan)

Reza : ”Hemp, aku punya ide.”

Satria : ”Ide apa bos?”

Reza : “Akan aku jadikan Furqan sebagai sandera buat menjebak Arkan.” (tersenyum licik)

Adegan 16

Setting : Aula (sedang latihan teater)

Lukman: “Si Furqan, kok gak datang ya?” (khawatir)

Arkan : “Dia kan gak ikut teater?”

Lukman: “tapi dia mau nonton latian teater ini.”

Gilang : ”Mungkin lagi sibuk, karena ada tugas sekolah, atau mungkin juga tugas rumah numpuk.”

Lukman: ”Mungkin.” (tetap khawatir)

Adegan 17

Setting : Gudang

(Furqan terikat tak berdaya duduk di kursi kayu, mulut tak bisa bersuara karena penuhnya kain yang ada di dalam mulutnya, gerakan kaki dan tangannya pun tak bebas karena saking kuatnya ikatan tali. Furqan terus berontak tetapi tidak ada hasilnya sama sekali, yang ada ia hanya menangis lirih.)

Furqan : Tuhan… ujian apa lagi yang akan engkau berikan pada hamba-Mu yang lemah ini… inikah jalan hidup yang harus hamba lalui? Inikah ya Tuhan? Ya tuhan, hamba ikhlas terima semua ini, pastilah engkau akan memberikan hikmah disetiap cobaan. Pastilah Engkau akan memberi petunjuk kepada mereka yang terseseat. Engkau Ada ya Tuhan, Engkau Maha melihat kami…. ciptaan-Mu….

(Tak lama kemudian suara azan berbunyi, dia melihat jam yang ada di tangannya yang sudah menunjukan pukul 18.00.)

Furqan : Sudah jam 6 sore, aku harus sholat. (melihat sekitar ruangan) oh ya, aku bisa tayamum walau dengan badan yang terikat, tapi aku harus menjalankan kewajiban ini.

(Furqan dengan lekas bertayamum dan sholat. Setelah sholat ia kembali menangis. Furqan teringat semua kenangan pada masa kecilnya ketika bersama ibunya yang tercinta.)

Furqan : ibu…. (menangis)

Adegan 18

Setting : Rumah Arkan dan rumah Furqan

(kamar tidur Arkan)

Arkan : “hehm, apa Furqan benar-benar sibuk ya? (berpikir sejenak) Aku telepon saja, barangkali saja dia butuh bantuan.” (berbicara kepada diri sendiri)

(Arkan menekan Hp, dan segera menelepon ke rumah Arkan, di rumah Arkan telepon terus berbunyi tanpa ada seorang pun yang mengangkat)

Arkan : ”Kok gak diangkat ya? Mungkin benar-benar gak bisa diganggu. Sudahlah, biar besok aku temui dia.”

(beranjak tidur, menarik selimut, dan…) “Zzzzz” (tertidur)

Adegan 19

Setting : Koridor dan kelas

Arkan berjalan menuju IPA 2, dia disapa oleh beberapa temannya. Arkan sesekali menyapa temannya. Ketika tiba di kelas IPA 2, dia langsung mencari Furqan dan ternyata tidak ada. Arkan menghampiri Lukman)

Arkan : ”Assalamualaikum Lukman, Furqan hari ini masuk sekolah?”

Lukman: ”Dia hari ini gak masuk, gak ada surat pula… Biasanya kalau izin dan sakit dia pasti bikin surat. Tapi jarang sekali ia tidak masuk sekolah)

Arkan : ”Oh begitu ya,, ya sudah, kalau kamu melihat Furqan, tolong kabari aku, ya?”

Lukman: ”Ok.”

(Arkan keluar kelas, genk kansas tersenyum melihat mimik Arkan yang khawatir, Anisa pun merasakan kecemasan yang terlukiskan dalam mimik wajahnya)

Adegan 20

Setting : ruangan anak nongkrong

(genk kansas merasakan kepuasan)

Reza : ”sekarang saatnya arkan kita serang habis-habisan.”

Mona : ”Lalu kita harus apakan si Furqan, bos?

Satria : ”Bro, gue punya ide. Undang saja geng centil Mozart buat godain Furqan,. Gue muak sama sikap Furqan yang sok alim!!!”

Mona : “Bener juga tuh, si Furqan pasti ikut tergoda coy!! Nanti saat Furqan dan geng Mozart beraksi, kita Fhoto saja mereka, dan kita ancam Furqan pake Fhoto itu untuk tutup mulut. Pastinya, dia bakal takut di DO dari sekolah ini. Dia kan dapat beasiswa dari sekolah ini.”

Reza : “otak lu semua memang pada encer. Gue terima ide kalian. Tapi sasaran kita ini bukan Furqan! Sasaran kita adalah si Curut Arkan…!”

Satria : ”Lalu bagaimana kita mulai serang Arkan?”

Mona : ”Gimana kalau kita permalukan di depan umum?”

Satria : ”Yaul, tapi bagaimana caranya bro?”

Mona : “kita telanjangi saja dia, dan kita ikat di pohon sekolah. Lumayan tuh, pemandangan, heheh”

Satria : ”Itu si mau loe…! Tapi ide bagus tuh, yang pastinya kita gunakan topeng.”

(mereka semua tersenyum sinis)

Adegan 21

Setting : Mushola

(Anak-anak perempuan berjilbab sedang mendengarkan tausiyah dari Aisyah)

Aisyah : (menjelaskan nasihat tentang persahabatan hakiki)

(setelah selesai, semua saling bersalaman, dan keluar. Aisyah mengajak Anisa mengobrol, Reyhan pun ikut menemani)

Aisyah : ”Aku bukannya untuk ikut campur dalam permasalahan kalian, tetapi alangkah lebih baiknya kita saling mencurahkan hati. Insya allah solusi terbaik akan aku berikan untuk kalian.” (mengucapkan kata demi kata dengan halus)

Anisa : ”maksud mba Aisyah?” (heran dan menatap Aisyah dengan penuh tanda tanya)

Aisyah : ”Aku tau, dari raut muka kalian. Tampaknya kalian memendam masalah yang serius.”

Reyhan: ”kenapa mba bisa tahu?”

Aisyah : ”Firasat orang beriman ada benarnya.” (tersenyum ramah)

(Anisa menunduk, Reyhan melirik Anisa)

Anisa : ”Geng Kansas, mba..”

Aisyah : ”Geng Kansas? Ada apa dengan mereka?”

Reyhan: ”Mereka ingin menyerang dan memfitnah Arkan.”

Aisyah : ”Tapi setau saya, Arkan baik-baik saja.”

Anisa : ”Itu karena Furqan yang selalu melindungi Arkan, dan saat ini Furqan tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Kita khawatir mba…” (Anisa mengusap air mata yang perlahan membasahi pipinya)

Aisyah : ”Apakah kamu memendam perasaan kepada Furqan?”

(Anisa hanya menunduk tak menjawab)

Reyhan: ” menurut mba Aisyah,kita harus bagaimana?”

Aisyah : ”Lebih baik, dinginkan dahulu pikiran kalian. Pertama periksa ke rumah Furqan, mungkin dia sedang sakit dan tak ada yang mengantarkan surat izin ke sekolah.”

Reyhan: ”Temani kami, ya mba…”

Aisyah : ”Insya allah, lebih baik kita kerumah Furqan sekarang.”

Reyhan: ”terima kasih mba.”

Adegan 22

Setting : kantin

(Arkan dan Gilang sedang memakan bakso)

Arkan : “Aku heran, seharian ini, aku tidak melihat Furqan, kemana ya..?”

Gilang : ”Sudah telepon ke rumahnya?”

Arkan : ”Kemarin malam aku telepon, tapi tidak ada yang mengangkat.”

Gilang : ”Kita kesana saja. Besok tidak ada tugas dan PR, jadi hari ini aku bisa santai dan bebas dari pelajaran” (girang kekanak-kanakan)

Arkan : ”pak, bakso sebungkus ya.” (kepada penjual bakso)

Pak bakso: ”campur de?”

Arkan : “Iya pak, sambalnya dipisah ya.”

Gilang : ”masih laper toh?”

Arkan : ”bakso itu buat Furqan, dia doyan banget sama bakso.”

Gilang : ”Ouw.. Oh ya, arkan.. aku ingin cerita sesuatu tentang perasaan aku, boleh?”

Arkan : ”Gilang? Kamu naksir aku?” (ledek Arkan)

Gilang : ”wehhh, enak ajaa… huuu..”

Arkan : ”Curhat apa, lang?”

Gilang : “Jujur, aku ngerasa sekali, bakal terjadi apa-apa dengan kamu. It’s my feeling”

Arkan : ”maksud kamu?”

Gilang : ”aku khawatir sama kamu, entah karena apa?”

Arkan : ”Tenang saja, aku kan punya sohib yang bisa menjagaku.” (menepuk pundak gilang)

Gilang : ”Aku bukan baby sister lu kali…” (ledek Gilang)

(Arkan dan Gilang tertawa akrab)

Pak bakso: “ini mas.” (memberi)

Arkan : “berapa semuanya pak?” (bersiap-siap untuk beranjak pergi)

Pak bakso: “7500”

Arkan : “Makasih pak.”

(Arkan dan Gilang pergi untuk menuju rumah Furqan)

Adegan 23

Setting : Gudang

(Koridor sekolah sepi, geng Kansas menuju gudang tempat Furqan disekap. Mereka masuk pintu gudang dengan mendobraknya. Mirip birdistib pada saat di MOS, Furqan menunduk)

Reza : ”HEH…!!! CUNGUK…!!! BANGUN LO…!!” (menjambak rambut Furqan)

(Furqan terbangun dan merasakan kesakitan)

Mona : ”Manja! sok ALIM LO!”

Satria : ”Coy, lo sudah nelpon Geng Mozart buat ke sini?” (tanya Roni kepada Satria)

Mona : ” Udah bro, tenang saja.”

(Reza terus mengolok-olok Furqan)

Reza : ”heh, cunguk! Ingat ya, sekarang lo gak bisa ngapa-ngapain lagi…! Bentar lagi, lo bukan anak alim lagi, anak BEJAD!!!!” (tersenyum senang)

(semua pun akut tertawa licik, sedangkan Furqan menangis tak berdaya)

Satria : ”Cengeng lo!! BANCI!!!!” (menampar Furqan)

Mona : ”Eh bro, geng Mozart sudah datang.”

Reza : ”Suruh mereka masuk, dan kalian keluar…” (kepada Mona dan Satria)

(Duo geng Mozart, datang dengan tersenyum yang sinis dan menggoda)

Reza : ”Hei, guys!”

Mozart : ”Hei cowok…!”

Reza : ”Tugas lo disini, layani si Furqan! Gue yang bayar kalian! Terserah si cunguk itu mau kalian apakan. (menunjuk Furqan) Tapi jangan lupa, kalian fhoto aksi kalian dengan Furqan! Ok?” (tersenyum remeh)

Mozart : ”Dengan senang hati, Reza….”

Reza : ”Gue pergi dulu… selamat bersenang-senang.. hahahaha!!!!” (melihati Furqan)

(Reza keluar dengan rasa puas, Furqan berontak tetapi tak ada hasil, sedangkan Mozart mulai beraksi. Dengan perlahan pintu tertutup)

Adegan 24

Setting : Dekat lingkungan rumah Furqan

(Anisa, Reyhan, dan Aisyah berjalan. Perjalan hampir tiba ke rumah Furqan, tiba-tiba Anisa jatuh lemas dan menangis. Aisyah dan Reyhan khawatir dan segera membantu Anisa)

Aisyah: ”Anisa, kenapa? sudah jangan menangis. Cepat hapus air matamu, insya Allah dia tak akan apa-apa. Sebentar lagi kita akan tiba ke rumah Furqan.”

Reyhan: ”Anisa, kita semua berdoa semoga ia akan baik-baik saja.”

Anisa : (menangis terisak-isak) ” Aku tak kuat lagi, mba.. Rasanya hati ini sakit…”

Aisyah : ”Astagfirullah.. Nis, istigfar.. (menenangkan Anisa) Reyhan, coba kamu periksa rumah Furqan. Aku akan menjaga Anisa disini.”

Reyhan: ”Baik mba.”

(Reyhan dengan segera mengikuti perintah dari Aisyah untuk mendekati rumah Furqan yang tak jauh dari tempat mereka berada. Saat tiba di depan rumahnya, Reyhan lekas mengetuk pintu)

Reyhan: ”Assalamualaikum Furqan, Furqan? Furqan? Assalamualaikum…” (berkali-kali Reyhan mengetuk pintu)

(Tak ada reaksi sama sekali dari rumah Furqan, yang ada hanya reaksi dari tetangganya.)

Tetangga: ”Maaf mba, de Furqan nya sedang tidak ada di rumah.”

Reyhan: ”Permisi bu, kira-kira Furqan kemana ya bu?”

Tetangga: ”Saya tidak tahu, tadi malam juga lampu rumah de Furqan tidak menyala. Ini tidak seperti biasanya.”

Reyhan: ”terimakasih banyak ya, bu…”

(Reyhan khawatir dan segera kembali menemui Aisyah dan Anisa. Reyhan melihat Anisa masih menangis menahan sakit)

Aisyah : ”Gimana?” (bahasa isyarat dan sedikit berbisik agar tidak diketahui Anisa)

(Reyhan hanya menggelengkan kepala)

Aisyah : ”Ya Allah, apa jangan-jangan..? Astagfirullah, aku gak boleh berprasangka buruk.”

(Reyhan bingung, dari kejauhan Arkan dan Gilang datang. Arkan mempercepat langkahnya, ketika ia lmelihat Anisa jatuh terkulai di pinggir jalan. Diikuti oleh Gilang. Arkan sangat khawatir)

Arkan : ”Ya ampun, ada apa dengan Anisa, mba?” (bertanya dengan perasaan khawatir pada Aisyah yang sejak tadi menahan pundak Anisa di tangannya)

Gilang : ”Kita bawa saja ke tempat teduh, kebetulan kami mau ke rumah Furqan. Ayo kita bawa Anisa kesana.”

Adegan 25

Setting : Teras rumah Furqan

(Aisyah dan Reyhan meletakan Anisa di teras rumah, kali ini Anisa pingsan)

Aisyah : ”Astagfirullah,. Anisa pingsan.” (memegangi nadi di tangan dan kening Anisa dengan perasaan cemas)

(Reyhan mendekati Anisa, sedangkan Gilang mencoba mengetuki pintu rumah Furqan)

Reyhan : ”Gilang, percuma. Tak ada orang di dalam rumah.”

(Gilang berhenti mengetuki pintu rumah Furqan)

Arkan : ”Sebenarnya apa yang terjadi?”

Reyhan : ”Apa yang terjadi? Kamu masih sempat tanya itu? Kamu sadar gak? Kalau semua ini karena kamu!!”

(Reyhan membentaki Arkan. Gilang dan Arkan terkejut melihat perilaku Reyhan)

Aisyah : ” Reyhan, sabar Reyhan…” (menenangkan Reyhan)

Reyhan : ”Astagfirullah..” (menunduk dan kembali mendekati Anisa yang terkulai pingsan)

Arkan : ”Demi Allah, aku tidak mengetahui sama sekali, apa yang kamu maksud, Reyhan.”

Aisyah : ”Begini Arkan, kami sekarang tidak mengetahui keberadaan Furqan. Semenjak Furqan menghilang, kami merasa khawatir, dan Anisa pun merasakan sakit hatinya. Sebenarnya, sebelum semua ini terjadi. kamu berada dalam masalah dengan geng Kansas, mereka ingin menyerang dan memfitnah, tetapi….” (menghentikan perkataannya)

Arkan : ”Tetapi apa mba?”

Aisyah : ”Furqan selalu dan selalu menyelamatkan kamu dari fitnah tersebut.”

Reyhan : ”Dan kami khawatir, Furqan nekat mengorbankan dirinya hanya untuk kamu. Dia tak ingin kamu terluka oleh orang lain, saat itu Anisa sangat khawatir dengan Furqan. Seakan batin ia dalah batin Furqan sendiri.”

(semua hening tanpa kata meratapi nasib)

Adegan 26

Setting : Rumah Arkan dan Rumah Anisa

(Di kamar Arkan, Arkan merenungi perkataaan Aisyah dan reyhan saat di rumah Furqan, ia juga merenungi perkataan Furqan saat mereka mengobrol di pantai)

Furqan : Maafkan aku, Furqan

(Sedangkan di kamar Anisa ia menangis sejadi-jadinya. Ia tidak memperdulikan panggilan ibunya yang sejak dari tadi mengetuk pintu kamarnya)

Adegan 27

Setting : Kelas XI IPA 2

(Arkan berjalan, dengan langkah cepat dari IPA 7 hingga IPA 2 tanpa menghiraukan orang yang menyapanya. Disisi lain Reyhan sedang menenangkan hati Anisa di kelas XI IPA 2.)

Reyhan : ”Anisa? (memegang tangan Anisa) Ya ampun, Anisa. Badanmu panas sekali. Lebih baik kamu istirahat di UKS”

Anisa : (Anisa hanya menggeleng) ”Terimakasih, Reyhan” (jawab ia dengan lemas)

(Arkan tiba di IPA 2, dia melihat Geng Kansas sedang duduk di pojok kelas. Dia tak melihat Furqan dikelas, Arkan langsung beranjak mendekati reza, setelah mendekatinya, kerah baju Reza ia angkat)

Arkan : ”Heh, pecundang. Kalian kemanakan Furqan? Jawab!!!!”

(bentak Arkan sehingga semua siswa melihat ke arahnya. Termasuk Reyhan dan Anisa. Anisa menahan tangis, dan tiba-tiba ia terjatuh pingsan)

Reza : (Menepis tangan Arkan) ”Sante aja bro, ngapain lu tanya gue? emang gue culik Furqan apa? haha, heh, inget ya, gue gak demen sesama jenis. Gue bukan LO yang demen sama cowok…. BANCI LO…!!!!”

(Seketika Arkan memukul muka Reza. Mona menahan Reza, Satria mendorong Arkan, dari luar datang Gilang dengan tergesa-gesa, dan dengan lekas Gilang membawa Arkan keluar dari kelas dengan menariknya)

Reza : ”Heh,, liat saja pembalasan dari gue..” (tersenyum licik)

Adegan 28

Setting : Kelas XI IPA 7

(Arkan menundukan kepala, di atas tas yang berada di mejanya, sedangkan Gilang dengan mimik yang serius dan terlihat kesal.)

Gilang : ”Kamu ini, apa-apaan sih? Kamu mau berurusan sama Guru?”

(Arkan menunduk dan terdiam tanpa suara)

Gilang : ”kamu memang pintar di pelajaran, tapi kamu itu bodoh dalam penyelesaian masalah!! Kamu kan bisa ngomong dengan cara yang baik?”

(Arkan tetap terdiam)

Gilang : ”Coba, kalau kamu…”

Arkan : (memotong perkataan Gilang) ” CUKUP….!!!!! CUKUP…!!!!!! PERGI SANA.. PERGI..!!!!!”

(Dengan emosi yang tinggi Arkan mengusir Gilang, Gilang pergi dengan perasaan kecewa)

Arkan : ”Cukup sudah… aku tak sanggup …” (menangis dan menunduk)

Adegan 29

Setting : Parkiran sepeda

(Arkan berjalan lemas dengan mata yang sayu, tak lama kemudian Geng Kansas sudah berada di depan Arkan, dan Reza berdiri tepat dibelakang Arkan dengan membawa tongkat. Dan ”BRUKKKK….”, Arkan dipukuli dengan tongkat dari belakang)

Adegan 30

Setting : UKS

(Anisa terbangun dengan nafas yang tidak teratur, disampingnya terdapat Aisyah dan Reyhan, mereka pun terkejut oleh Anisa)

Aisyah : ”Anisa, ada apa? (khawatir)

Reyhan : ”Anisa tadi kamu pingsan..” (memegangi tangan Anisa)

Anisa : ”Aku….” (gemetar)

Aisyah : ”Kenapa Anisa?”

Reyhan : ”Aku, apa?” (khawatir dan penasaran)

Anisa : ”Aku mimpi…” (belum selesai bicara, Anisa menangis dan menunduk)

Aisyah : ”Istigfar, nis.. Istigfar…”

(reyhan khawatir)

Anisa : ”Aku mimpi….. Furqan…. meninggal..”

Reyhan : ”Inallilahi..”

Aisyah : ”Itu hanya mimpi, Anisa… tenang..”

Reyhan : (mengambil gelas) ”Lebih baik kamu minum dulu.” (menyerahkan dan Anisa meminumnya) ”Hal ini tidak bisa dibiarkan, kita harus lapor ke guru.”

Aisyah : ”Sekarang sudah sore, dan besok hari Minggu. Sudah jelas tidak ada guru disekolah ini.”

Reyhan : ”Jadi kita harus menunggu hari Senin untuk lapor ke guru?”

Aisyah : ”Apa boleh buat, tak ada jalan lain lagi. Kita usahakan semampu kita dulu.”

Adegan 31

Setting : Ruang ganti teater

(Satria dan Reza dengan muka yang sangat senang, dan pakaian seragam Arkan seluruhnya dipegang oleh Reza, sedangkan Arkan dikurung diruang ganti tanpa busana)

Arkan : (dari dalam ruangan) ”Heii, brengsek…!!!!! Balikin bajunya!!!”

Reza : ”Lu itu pantasnya gak usah pakai baju, lo kan gak punya malu. Lo itu memang jijik. sama kayak teman lo, Furqan! Teman lo sekarang ada di Gudang, dia gue sekap karena ELOO!!! Dasar cunguk!”

Arkan : ”Brengsek lo….! Biadab!” (menendangi pintu)

(Geng Kansas keluar dan membuang seragam Arkan di tong sampah. Sedangkan Arkan tak berdaya dan duduk dipojok ruangan, sembari meratapi nasib)

Arkan : (tiba-tiba dia mengingat sesuatu) ”oh ya HP… (merogoh saku) sialan, bajuku ada di Kansas..!”

(Arkan melihat sekitar ruangan)

Arkan : ”Apa yang harus aku lakukan?” (pasrah menunduk)

(saat menunduk dia melirik kesampingnya terdapa tumpukan barang-barang)

Arkan : ”Ya ampun, ini kan ruang ganti teater…?” (muka bahagia)

(Arkan mencari baju di tumpukan itu, dan ia temukan pakaian yang lusuh)

Arkan : ”Alhamdulillah, ternyata kostum pengemis ini masih disimpan di ruang ganti. Tapi?”

(melihat kondisi kostum yang tak layak pakai)

Arkan : ”Bau apek sekali…” Ya sudah, gak apa-apa… daripada kondisiku begini.”

(Arkan memakai kostum pengemis)

Arkan : ”Tinggal keluar dari ruangan ini,,, (mendekati pintu) sialan dikunci! Apa aku dobrak saja pintu ini, ya?”

(Pada saat ingin mendobrak, Arkan melihat dismpingnya ia temukan kunci)

Arkan : ”Kunci?jangan-jangan kunci…?” (lekas mengambil dan mencoba satu per satu kunci untuk membukakan pintu dan ternyata pintu dapat dibuka pada saat kunci yang ke-empat) ”Yes, sekarang aku harus ke gudang!”

(pergi meninggalkan ruangan dengan membanting pintu)

Adegan 32

Setting : Gudang

(Reza dan Satria berada di Gudang bersama Furqan yang terikat)

Reza : ”hahaha, Arkan mana mungkin bisa kemana-mana! Kita siksa dia perlahan-lahan…”

Satria : ”Benar bos, Arkan tak punya nyali kalau sudah ditelanjangi.”

(Furqan melotot dan berontak)

Satria : ”Ngapain lu?? Gak suka??” (tertawa ngejek)

Reza : ”Gak suka? heh, lu yang enak.. Lu sudah di layani geng Mozart, kita sudah nyimpen aksi Fhoto lo! Lihat nih.. lihat…” (tertawa mengejek)

(Furqan menangis)

Reza : (menyundul kepala Furqan) ”Eh ingat ya, sekali lu melawan, Fhoto ini yang bakal berbicara…!”

Satria : (memegang dagu Furqan) ”Yah,,, cengeng nih anak..”

(saat Satria hendak memukul, Arkan datang)

Arkan : ”BERHENTI….!!!!” (dengan nafas terengah-engah)

Reza : ”Berhasil lolos juga lu, ya… Hah? baju pengemis yang dia pake? Pinter juga lu ya…”

Arkan : ”Memang saya pintar.. Tapi kalian yang BODOH..!!!! kalian ngurung saya di tempat kostum teater..!!! cih….!” (mengejek Kansas)

Satria : ”Bener bos, tadi ruang ganti teater.”

Reza : ”Kenapa gak bilang dari tadi, oon!!” (menyundul Satria, Satria hanya menunduk)

(Seorang wanita muncul dari pintu, dengan membawa tongkat ia adalah Mona)

Arkan : ”Sekarang.. gue bakal..”

(”BRUKKKK…” pukulan keras ke pundak Arkan hingga terjatuh pingsan)

Reza : ”Kerja yang bagus..”

Mona : ”Tanpa uang, gue gak mau melakukan hal ini…” (tersenyum)

(Satria menggotong Arkan dan mengikatnya sama seperti kondisi Furqan. Mona ikut membantu mengikatkan. Furqan berontak melihat Arkan pingsan)

(Setelah selesai mengikat Arkan)

Reza : ”Siram dia pake air..!” (menyuruh Satria)

(Satria sigap mengambil botol air didalam tasnya, dan menumpahkan tepat di muka Arkan hingga terbangun)

Arkan : ”Sialan… ” (dengan sura pelan sembari berontak melepaskan tali yang mengikatnya)

Reza : ”Liat sobat mu ini…. (menunjuki Furqan) Cuma buat nolongi lo, dia rela ngorbani diri.. (pandangan beralih ke Furqan) Kaciaan, lu laper ya… ckckck (kepada Furqan)

(Furqan tak bisa berkutik, dia kelihatan lemas tak berdaya, Arkan empati melihat Furqan)

Arkan : ”Saya rela, kalian apakan.. ASALKAN LEPASKAN FURQAN, SEKARANG JUGA….”(bentak)

(semua tertawa mendengar ucapan Arkan)

Reza : ”Heh.. lucu sekali… (tertawa kemudian sinis kembali) Tapi gue bakal bikin hati lo sakit.. Teman-teman hajar Furqan!”

(Satria dan Mona mulai mempermainkan Furqan. Satria melepaskan ikatan Furqan. Dan mereka tanpa hati mempermalukan, menyakiti, mempermainkan, dan melukai Furqan. Sedangkan Furqan tak berdaya sama sekali. Arkan berontak tetapi tak ada hasil karena tubuhnya terikat tali.)

Arkan : ”Lepaskan Furqan…!!!!!” Lepaskan dia…!!! Kumohon!!!!!”

(Reza menampar Arkan)

Arkan : ”Tolong, lepaskan dia….” (menangis)

Adegan 33

Setting : UKS, Aula

(Di UKS, kondisi Anisa semakin gelisah)
Anisa : ”Mba, kita harus segera mencari Furqan..”

Aisyah : ”Tapi kita harus pikirkan dulu. Kita harus mencari kemana?”

(Anisa beranjak dari tempat tidur UKS dan berlari keluar. Aisyah dan Reyhan mengikuti dengan cemas. Ada penjaga sekolah di luar)

Penjaga : (berbicara kepada Reyhan) ”Loh mba? pada belum pulang ya?”

(Aisyah terus mengejar Anisa dan menenangkannya, sedangkan Reyhan berbicara pada Penjaga)

Reyhan : ”Iya pak..”

Penjaga : ”Memang ada kegiatan apa?tadi saya juga melihat Arkan.”

Reyhan : ”Arkan, Pak?”

Penjaga : ”Iya tadi saya lihat Arkan. Kayanya dia sibuk sekali, tapi anehnya dia pakai baju seperti pengemis. Bukankah dia orang kaya…?”

Reyhan : ”Arkan kemana pak?” (penasaran)

Penjaga : ”Tadi saya lihat Arkan menuju gudang. Ada apa?”

Reyhan : ”pak, tolong antarkan saya ke gudang, saya mohon pak.”

Penjaga : ”Loh, kenapa mba?”

Reyhan : ”Antarkan saya pak…”

Penjaga : ”Baik-baik.. ayo!”

(Reyhan dan penjaga dengan segera menuju gudang, Reyhan mengajak Aisyah dan Anisa. Anisa dan Aisyah mengikutinya)

Adegan 34

Setting : Gudang

(Di gudang Furqan berhenti dipermainkan. Giliran Reza yang mengintrogasi Arkan dengan sinis)

Reza : ”Mulai saat ini, gue gak mau liat lo berada di sekolah ini. Lo pantasnya jadi gelandangan, TAU GAK LO??? JAWAB….!!!!”

(Arkan hanya mengangguk ketakutan)

Reza : ”Sebelumnya, gue punya hadiah untuk lu…” (mengeluarkan silet)

(Silet mendekati wajah Arkan)

Reza : ”Gue gak sudi, ketampanan lo di puja-puja sama orang.” (tersenyum licik)

(Satria dan Mona, melihat aksi reza dengan ngeri dicampur senang. Furqan menggelengkan kepala tanda berontak, Furqan di tindih oleh Satria. Saat silet hampir menyentuh kulit.. Tiba-tiba….)

Penjaga : ”HENTIKAN ULAH KALIAN…!!!!!”

(penjaga sekolah bersama Aisyah, Anisa, dan Reyhan memasuki gudang. Mereka terkejut)

Reza : ”Sialan..!”

(Geng Kansas lari meninggalkan ruangan. Penjaga membukakan tali Arkan, sedangkan tiga wanita mendekati Furqan)

Anisa : ”Furqan…. Furqan….” (khawatir dan menahan air mata)

(tangan Anisa perlahan mendekati wajah Furqan tetapi ditangkis secara perlahan oleh Aisyah. Arkan melihatnya)

Aisyah : ”Furqan!”

(Setelah tali Arkan terlepas. Arkan segera mendekati Furqan dan menidurkannya dengan kepala Furqan yang berada pada paha Arkan)

Arkan : ”Furqan.. kita sudah bebas. Furqan bertahanlah… Maaf Reyhan, bisa tolong hubungi Ambulan?”

Reyhan : ”Ok.” (dengan cepat memegang HP dan hendak menelepon)

Furqan : ”Jangan…” (dengan suara parau)

(semua perhatian ke arah Furqan)

Furqan : ”terimakasih atas semuanya. Sahabat, semua yang hidup pasti akan mati, semua yang kita miliki pasti akan kita tinggalkan, tetapi hubungan persahabatan yang kita jalin pasti akan berlanjut di akhirat kelak saat tuhan mempertemukan kita. (tersenyum lemah) Jaga diri kalian baik-baik ya…”

(ketika Furqan berbicara, semua melihat dengan perasaan sedih, semua menangis termasuk penjaga sekolah. Setelah selesai pada ucapan terakhir, Furqan telah menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya. Arkan menangis memeluk Furqan, Anisa keluar ruangan dengan menangis, Reyhan mengikutinya untuk menenangkannya dan memeluk Anisa. Aisyah menunduk, sedangkan penjaga menunduk sembari mengusap air mata. Semua menangis haru pada sore yang bersejarah ini)

Adegan 35

Setting : Jalan Wilis

(Geng Kansas berlari di jalan lurus disamping sekolah)

Mona : ”Reza, gue gak mau tau. Pokoknya lo yang harus tanggung jawab dengan semua ini!!!”

Satria : ”Gimana bos? kita sudah ketahuan.”

Mona : ”Kita semua bisa di Drop Out!”

Satria : ”Gue, gak mau kalo…”

Reza : ”CUKUPPP…!!!!! Gue mau kabur dari kota ini, terserah kalian semua mau ngapain, itu bukan urusan gua..!”

(saat sampai dibelokkan, ada mobil yang melintas. Mereka semua tertabrak dan tewas seketika)

Adegan 36

Setting : XI IPA 2

(Siswa IPA 2 serius mendengarkan nasihat dari Pak Rudi, Arkan mendengar dari luar IPA 2)

Pak Rudi : ”Hari ini, kita telah kehilangan empat teman kita yang amat kita cintai. terutama kita sangat kehilangan sosok Furqan, pemuda yang baik hatinya, yang tulus dalam berteman, dan menghargai arti dari sebuah persahabatan. Tragedi yang terjadi ini, merupakan pembelajaran berharga untuk kalian. Dengan kekuasaan dan uang, orang akan terjebak dalam kesenangan palsu yang sesaat. Rasa kesombongan dan kebencian akan merugikan diri sendiri. tetapi satu pembelajaran mahal untuk kalian, sebagai seorang sahabat, kita harus saling menghormati, menyayangi, dan melindungi sahabat kita. Ingat, sahabat merupakan salah satu anugrah terbesar dari Tuhan, untuk menemani dalam kehidupan kita. Ingatlah itu dengan baik.”

(Suasana Kelas menjadi damai, Anisa dan Lukman merasa kehilangan.)

Adegan 37

Setting : Depan IPA 2

(Arkan duduk merenungi kejadian yang telah berlalu, mengingat kenangan dengan Furqan. Dia terlihar lebih tegar dibanding saat tragedi terjadi. Gilang dengan simpati mendekati Arkan)

Gilang : ”Arkan, maafkan atas kesalahanku…”

Arkan : (mempersilahkan Gilang duduk) ”Seharusnya aku yang minta maaf, saat itu aku benar-benar sedang emosi. Maafkan aku juga Sobat, Kita adalah sahabat, apabila salah satu diantara kita mengalami kesulitan, kita janji harus saling membantu, ok?”

Gilang : (tersenyum) ”terimakasih… sahabat…..”

(Musik Penutup, dan menampilkan cuplikan-cuplikan adegan)

~~~~~selesai~~~~~~

Naskah Teater : Racun

Standard

Karya : Muhammad Arif Ali Wasi

Para Tokoh : Ayah, Lena, Ibu, Bapak, Ibu2, Sinta, Wanita pemabuk.

(Ayah duduk sedang menonton TV, sedangkan ibu membaca majalah dengan gelisah. Sesekali Ayah tertawa terbahak-bahak menyaksikan lawak di TV. Ibu semakin gelisah terutama terganggu dengan sikap Ayah. Kejadian tersebut berulang-ulang, sehingga Ibu kesal lalu dengan segera mengambil remot dari pangkuan Ayah dan mematikan TV)

Ayah : “Loh, kok dimatikan?”

Ibu : “Loh, kok dimatikan? (mengulang perkataan Ayah sembari intonasi menyindir) Papah ini gimana sih?”

Ayah : “Gimana apanya?”

Ibu : “Anak kita tidak pulang selama tiga hari, kok malah diam saja, malah ke asyikan nonton TV! Mana tanggung jawab Papah??!!”

Ayah : “Sudahlah… Kita serahkan permasalahan anak itu pada polisi lalu menjebloskannya ke dalam penjara. Dia harus terima konsekwensi atas perbuatan bejadnya itu! Anak itu memang tidak tau diri.”

Ibu : “Bagaimanapun dia anak kita! Darah daging Papah dan Mamah. Akulah yang merawatnya, aku paham perilakunya!”

Ayah : “Ya! Dia adalah sampah masyarakat berwatak binatang!”

Ibu : “Tidak, pah! Aku yakin dia hanya dijebak oleh pergaulan bebas! Dia tidak sengaja!”

Ayah : “Omong kosong! Aku adalah Ayahnya, tetapi kapan aku lalai mengurusi pergaulan dia! Sudah beribu kali kukatakan bahwa pergaulan itu harus dijaga dengan baik. Dia pun pasti sudah sangat bosan dengan perkataanku, tetapi lihatlah… Dia sudah berhasil menghamili anak orang.”

Ibu : “Roni itu anak yang baik, aku sangat yakin sekali dia terjebak oleh teman sebayanya yang amburadul itu! Aku paham watak Roni, karena akulah yang selalu mengurusnya.”

Ayah : “Kamu hanya bisa memanjakan anak gak tau diri itu! Kau selalu membelanya, padahal sudah jelas ia salah.”

Ibu : “Tapi…” (terpotong)

Ayah : “Sudahlah jangan ganggu, lebih baik aku nonton daripada mendengar radio rusak sepertimu!”

(Ibu mau membalas jawaban Ayah, tetapi ia pendam. Ayah kembali mennton TV, perlahan tetapi ragu, Ibu mendekati Ayah berniat untuk merayu. Hingga ia berada di belakang kursi Ayah)

Ibu : “Papah… (genit merayu) papah ini baik hati, pinta, berpendidikan, tampan, rajin menabung, dan tidak    sombong. Maafkanlah Roni, lebih baik nikahkan Roni dengan wanita yang tidak sengaja Roni hamili…. Ya?”

Ayah : “Tidak!”

Ibu : “Ya…” (genit terpaksa)

Ayah : “Tidak!”

Ibu : “Ya…”

Ayah : “Tidak!”

(Dialog Ya dan Tidak, sampai sepuasnya dengan emosi klimaks)

Ayah : “Tidak!! Tidak!! Tidak!!”

Ibu : “Ya!! Ya!! Ya!!”

Ayah : “Cukup! Papah capek, aku sudah bilang tidak, sekali tidak tetap TIDAK!”

Ibu : “Kenapa sih? Walaupun Mamah tidak suka dengan wanita bunting itu, tetapi itulah jalan terbaik dan jalan damai. Kenapa harus di penjarakan?”

Ayah : “Roni pernah berjanji, harus menerima konsekwensi atas segala perbuatannya. Papah benci, karena Roni telah menyepelekan kepercayaanku. Lagipula ini adalah negera hukum, dia sudah jelas melanggar hukum!”

Ibu : “Seperti yang tidak pernah melanggar saja”

Ayah : “Maksudmu?”

Ibu : “D kursi pemerintahan kau selalu tidur tanpa memberi solusi untuk kesejahteraan rakyat! Membuang putung rokok di sembarang tempat! Memakai mobil dinas untuk urusan pribadi. Apakah itu bukan pelanggaran hukum?”

Ayah : “Kenapa setiap kau emosi, selalu saja membicarakan semua aibku?!?! Biarlah aib menjadi aib yang telah lalu!”

Ibu : “Kalau Aib tak dikatakan, kau tak akan bisa intropeksi diri!”

Ayah : “Hei, sejak kapan kau menjadi istri yang pembangkang?”

Ibu : “Semenjak kau berlaku tak adil pada Roni, anakku!”

Ayah : “Roni juga anakku!”

Ibu : “Heeh!! Percuma bicara dengan Papah! Selalu berbelit-belit, bagimanapun aku tak akan menyerah melindungi anakku!”

(Ibu masuk kamar, keluar panggung)

Ayah : (Berjalan ke kursi dan menonton kembali)

“Heh..! biarlah untuk kali ini, aku harus bertindak tegas!

Dari dulu sampai sekarang Mamah selalu saja memanjakan Roni!”

Dan lihatlah, apa jadinya…

Susah payah dirawat, apa balasannya untuk orang tua?!

Buat malu keluarga saja!!

BUNTINGIN ANAK ORANG???!!!

Hehh.. (mendengus) Memalukan sekali!

(Lena, adik Roni memasuki panggung dan mendekati Ayah yang sedang menonton TV)

Lena : “Papah…” (memijat bahu dari belakang tubuh Ayah)

Ayah : “Kamu dengar pembicaraan Papah dan Mamah, ya?”

Lena : “Hemmm” (ragu)

Ayah : “Kok Hemm? Jawab yang jujur, Lena?”

Lena : “Ya, Lena mendengarnya”

Ayah : “Ingat ya, mulai saat ini kamu harus hati-hati pada pria manapun! Jangan sampai kau terbuai oleh perkataan buaya darat!”

Lena : “Tidak akan, pah..”

(Ayah kembali mendengus kesal)

Lena : “Papah?”

Ayah : “Hemm?”

Lena : “Kak Roni itu…” (terpotong)

Ayah : “Sudahlah, jangan bicara tentang Roni di depan muka papah.”

Lena : “Tapi Lena berada di belakang muka papah?”

Ayah : “maksudnya, papah tidak ingin diskusi lagi masalah Roni! Papah capek setelah duel sama Ibumu. Papah malu sekali perbuatan bejad Kakak kamu itu.”

(Lena berhenti memijat bahu Ayah dan beranjak duduk sembari baca majalah)

Lena : “Pah, Lena itu siapanya Papah?”

Ayah : “Tentunya kamu itu anak kandung papah dan juga Mamah.”

Lena : “lalu Kak Ro…” (terpotong)

Ayah : “Berhentilah membicarakan tentang anak itu!”

(Lena kembali membaca majalah)]

Lena : “Berkumpul bersama keluarga” (berbicara untuk dirinya sendiri)

(Lena mendengus pasrah, lalu menutupi majalah, dan mendekati Photo Roni yang terpajang di dinding tepat di belakangnya)

Lena : (mengusap photo Roni) “Pah, Lena kangen Kak Roni.”

(Dengan sergap Ayah beranjak dari kursi dan mengambil photo dari genggaman Lena lalu membantingnya)

Ayah : “Cukup! Cepat pergi ke kamar!” (marah)

(Lena menangis dan masuk kamar, keluar panggung. Sedangkan Ibu memasuki panggung ketika mendengar benda jatuh. Ibu tidak percaya menyaksikan perilaku Ayah. Ayah terdiam meratapi nasib)

Ibu : “Tadi Mamah yang kau bentak, sekarang Lena yang kau marahi! Kemarin kau usir keluarga anak yang Roni hamili. Mau kamu itu apa? Apakah ini yang namanya kepala keluarga, hah?!?!”

Ayah : “DIAM!!??”

(Ibu terkejut tak percaya)

Ayah : “Jika kamu selalu melawan setiap perkataanku! Akan kuceraikan kamu sekarang juga!”

(Ibu semakin kaget dan menangis rintih)

Ibu : “Baiklah jika itu maumu, aku bersedia.”

Ayah : “Apa?” (tak percaya perkataan Ibu)

Ibu : “Bila kau inginkan perceraian aku terima.”

Ayah : “kamu bicara apa?” Ingat ya, aku hanya memperingati agar kamu tidak semena-mena melawanku!”

Ibu : “Aku tak akan melawanmu jika kamu tidak berbuat salah!”

Ayah : “Berbuat salah bagaimana? Secara hukum dia telah berbuat salah.”

Ibu : “Kau ini memang keras kepala! Andaikan kau jadi ibu, kau akan merasakan apa yang aku rasakan.”

Ayah : “Sudah habis kesabaranku! (berancang-ancang memukul)

Ibu : “Apa??!! Kau ingin memukulku? Pukul?!! Pukul!!! Sekarang juga, Pukul?!”

Ayah : “Talak”

Ibu : “Aku tak peduli”

Ayah : “Talak!!”

Ibu : “Aku tak peduli!”

Ayah : “Talak!!!”

Ibu : “AKU TAK PEDULI!”

(Hening sejenak, terdengar suara hendusan nafas tak beraturan dan tangisan pelan dari Ibu)

Ibu : “Puas, kau?” (menahan emosi)

(Ibu langsung pergi keluar rumah sambil menangis. Lena yang mendengar langsung memasuki panggung dengan menangis dan mengejar Ibu)

Lena : “Mamah… Mamah…” (menangis)

(Ketika mau keluar, Lena ditarik oleh Ayah dan mendorongnya agar Lena duduk di kursi)

Ayah : “Dengarkan papah, Lena. Kamu adalah anak papah, dan kamu harus patuh terhadap papah. Paham??”

Lena : “Tidak!! Papah jahat!!”

Ayah : “Apa kau bilang??!!” (ancang-ancang menampar, tetapi tidak menamparnya)

(Lena ketakutan)

Ayah : “saat ini, kamu akan papah maafkan!”

Lena : “Kenapa sekarang Papah berubah?”

Ayah : “Apa maksudmu?”

Lena : “Kemana Papah yang selalu melindungi keluarga?

Kemana Papah yang selalu menjadi sahabat di keluarga?

Kemana Papah yang selalu mengayomi keluarga?

Kemana Papah yang…” (terpotong)

(Ayah menampar Lena hingga diam terpatung)

Lena : “…pernah berjanji menyayangi kami selamanya?” (Lena menangis)

Ayah : “Lena kamu masih kecil, kau tidak mengetahui perasaan Papah yang sudah di permalukan. Papah adalah kepala keluarga disini.”

Lena : “Papah telah menceraikan Mamah… Papah bukan kepala keluarga lagi..”

Ayah : “Sudah cukup, Lena! Sekarang, masuk kamar dan renungi apa yang telah kamu lakukan!”

(Ayah menarik lengan Lena untuk menyuruhnya ke kamar)

Lena : “Lepaskan!! (lepas dari pegangan Ayah) Baru kali ini, Lena melihat Papah yang bertindak otoriter! Tidak mementingkan perasaan orang!”

(Lena memasuki kamar, suasana hening. Ayah meratapi nasib. Beberapa waktu kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Ayah membukakannya)

Ayah : (ketus) “Mau apa lagi kalian kesini?” (berkata pada tamu yang masih diluar panggung)

Bapak : “Kami ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting, untuk menyelesaikan semua masalah ini, Pak.”

Ayah : “Baiklah, silahkan masuk.” (masih ketus)

(Ayah mengajak ketiga tamu masuk dan duduk. Tiga orang tersebut adalah Sinta, wanita yang dihamili Roni, serta kedua orang tuanya)

Bapak : “Begini, Pak. Permasalahan ini tidak akan kami bawa ke jalur hukum, jika Roni segera menikahi anak saya, Sinta.”

Ibu2 : “Roni harus bertanggung jawab! Saya tidak mau jika anak saya mengandung tanpa ditemani suaminya!”

Bapak : “Iya! Lebih baik, Bapak jangan menyembunyikan Roni dari kami!”

Ibu2 : “Mentang-mentang anak saya jelek, jangan dijadikan alasan putra Bapak tidak menikahi putrid kami!”

Bapak : “Iya!”

(Sinta dari nangis biasa semakin menjadi-jadi nangisnya karena dibilang jelek)

Bapak : “Sudah nak, jangan terharu.”

Ibu2 : “Iya, kami ikhlas Sinta. Kamu harus kuat ya.”

Sinta : “Iya mah, pah. Tapi Sinta kan tidak jelek.” (merengek-rengek)

(Bapak dan Ibu2 menenangkan Sinta)

Bapak : “kamu sih, mah.. Kalau bicara, jangan menjelek-jelekan Sinta.”

Ibu2 : “Waduh… mamah keceplosan, lagipula papah juga mengiyakan perkataanku, toh?”

Bapak : “papah kan reflek menjawab ucapan mamah!”

(Ayah menegur melalui pura-pura batuk. Bapak dan Ibu2 tenang)

Ayah : “Sudah selesai? Silahkan keluar..” (menunjuk arah pintu)

Bapak : “kami kemari untuk menemui Roni!”

Ibu2 : “Dan hari ini juga, Sinta dan Roni harus menikah. Hey Roni cepat keluar kau! Jangan bersembunyi terus! Jangan jadi pria tak bertanggung jawab! (Menunjuk ke arah kamar)

Ayah : “Bapak dan Ibu yang terhormat, sudah saya katakan kemarin bahwa anak saya kabur dari rumah! Dan saya sudah serahkan permasalahan ini seutuhnya pada polisi. Saya serius!”

Ibu2 : “Anda sudah tidak waras, Pak?”

Ayah : “Enak saja, saya waras! Perhitunganpun masih saya kuasai. 1+1=2, 2+2=4, 3+3=6. Lihalah saya waras!”

Bapak : “Bagaimanapun Roni adalah putra Bapak, bagaimana bisa Roni dibiarkan tertangkap dan nantinya dijebloskan ke dalam penjara?”

Ayah : “Tentu bisa, dia jelas-jelas melanggar hukum.”

Ibu2 : “Hukum bisa ditawar, jika kita sudah ada kesepakatan, Pak!”

Ayah : “Heh… Pantas saja Negara ini bobrok, jika banyak diisi oleh makhluk seperti kalian! Hukum hanya untuk tawar-menawar, cih!”

Bapak : “Anda ini sangat tidak sopan ya.. Maksud kedatangan kami disini untuk damai, menikahi Sinta dan Roni, cukup… hanya itu…”

(Sinta bernjak dari tempat duduk menuju kaki Ayah yang sedang berdiri)

Sinta : “pak, kumohon… Restuilah hubungan kami. Jangan penjarakan Roni, aku tidak ingin calon suamiku dipenjara…” (memohon sambil tidak sengaja menarik celana Ayah)

Ayah : (melepas dari genggaman Sinta) “Ouh.. jangan-jangan, ini cara kamu menggoda anak saya? Dengan menarik celana Roni, begitu?” (membetulkan celana yang agak melorot)

(Sinta menggelengkan kepala, tanda tidak setuju pernyataan Ayah)

Ayah : “Hehh… pantas saja Roni tergoda, karena sesuatu yang harusnya di tutup terlihat oleh wanita lain. Atau mungkin kau menyentuh terdahulu miliknya?”

Bapak : “Hey, pak. Jaga omongan anda ya..!”

Ibu2 : “Sangat tidak pantas!”

Ayah : “Bukankah lebih baik mengetahui penyebab awal terjadinya musibah ini? Terkadang manusia lalai hanya karena tak mengerti penyebab awal menuntaskan sesuatu.”

Bapak : “Baiklah, tak masalah. Sinta! Apakah itu benar?”

(Sinta kembali menggeleng tanda tidak setuju)

Ibu2 : “Sinta sebagai wanita, mamah juga dapat merasakan itu, lalu jawab yang jujur, nak.”

(Sinta tetap menggeleng tapi lama-lama ia mengakui dengan mengangguk)

Ayah : “Hou… hou… hou…! Ternyata benar, Roni akan tergoda karena wanita itulah yang tidak benar! Semua berawal dari wanita, anda tidak akan hamil jika anda berprilaku sesuai dengan norma keberadaban! Heh… Lagi ‘Racun Dunia’ dari The Changcuters ada benarnya.”

(Sinta malu, Ibu2 hanya tertunduk menutup mulut)

Bapak : “Anda jangan menyalahkan, anak saya. Siapa suruh Roni tergoda dan menikmati tubuh anak saya! Lagipula, anak dan Ayahnya pastinya tak jauh beda, anda juga pasti akan melukakan hal yang sama bila terjadi pada anda!!”

Ayah : “Hey, sebaiknya pertanyaan itu diajukan pada anda sendiri!”

Bapak : “Saya bertanya kepada anda!”

Ayah : “Anda dahulu yang menjawab dengan jujur, setelah anda, saya akan menjawab dengan jujur.”

Bapak : “Baiklah, Ya!” (ragu)

Ayah : “Nah… sudah terbukti anak dan ayah yang tidak jauh beda adalah kalian sendiri. Saya sudah tentu, tidak akan melakukan hal haram seperti itu!”

Ibu2 : “papah! (tak percaya) kamu tidak ada bedanya dengan lelaki hidung belang! (nangis sempat ditenangkan Bapak, lalu keluar panggung)

(Bapak pamik, lalu menarik lengan Sinta untuk keluar panggung)

Bapak : “Hey, Pak Tua. Suatu saat kau pun akan terpuruk! Encamkan itu!” (keluar panggung)

Ayah : “Ya.. ya… ya… Sebaiknya kau makan omonganmu sendiri.” (menyindir)

(Lampu redup tapi tidak mati, Ayah memasuki kamar. Suasana panggung hanya terdengar bunyi detakan jarum jam yang mensuasanakan heningnya malam. Beberapa waktu kemudian, terdengar suara ketukan pintu yang tidak beraturan. Ayah memasuki panggung dengan memakai baju tidur, Ayah langsung membukakan pintu. Saat dibuka, tiba-tiba masuk seorang wanita pemabuk berpakaian mini, sempoyongan dan akhirnya terduduk lemas di kursi ruang keluarga. Ayah awalnya terkejut dan heran, lama-lama Ayah dekati wanita mabuk itu. Dipandanginya wanita itu, kemudian tiba-tiba wanita tersebut berdiri dan menarik kerah baju Ayah dan dibawanya ke kamar. Ayah mengikuti saja tanpa melawan. Panggung kembali sunyi kembali, dan hanya terdengar suara detakan jarum jam. Lampu kembali terang, diikiti Lena memauki panggung dengan mengusap matanya tanda habis menangis, setelah itu pandangannya tertuju pada pintu depan rumah yang terbuka. Lekas, ia mendekati pintu rumah yang terbuka tersebut.)

Lena : “Papah? Papah?”

(tak ada jawaban)

Lena : “Papah?”

(Ayah membukakan pintu kamar dan memasuki panggung dengan kondisi memakai kaos dalam dan celana pendek, serta ada bekas lipstik di pipi dan di dadanya)

Ayah : “Kenapa?” (lemas mengantuk)

Lena : “Pintu? Terbuka?” (menunjuki pintu)

(Ayah menuju tengah panggung, Lena juga menuju tengah panggung memperhatikan lipstik yang terdapat pada tubuh Ayahnya)

Lena : “Pah? (heran+prihatin) bekas bibir siapa?

(Ayah dari lema , saat melihat ada beka lipstik langsung tegang. Dan segera menghapusnya)

Ayah : “Mam… mam…. Ma… mah…” (gagap)

(Wanita pemabuk keluar kamar dengan pakaian mini ditutupi selimut)

WP : (mendekati Ayah dan menamparnya) “Brengsek! Semalam kau telah merampas keperawananku, kurang ajar! Lelaki bajingan!” (menampar lagi)]

(WP keluar sembari menangis)

Ayah : “Tunggu…”

WP : “Apa lagi?”

Ayah : “Selimutku…”

WP : “Sialan!” (melemparkan sepatu)

(WP keluar panggung, Lena benar-benar tidak menyangka perilaku Ayahnya. Lena menahan tangis tak bisa berbicara, Ayah mencoba menenangkan Lena tetapi dibalas dengan tepisan tangannya. Seketika ia memasuki kamar)

Ayah : “Keluar dulu, Lena! Papah ingin menjelaskan semua ini.”

(tak ada respon, Ayah berjalan lemas menuju kursi dan duduk di kursi. Tak lama kemudian, Lena keluar dengan membawa Tas dan memakai jaket, Lena berusaha keluar rumah tetapi berhasil ditahan Ayah)

Ayah : “Lena, kamu mau kemana?!”

Lena : “Lepaskan, pah! Dulu Papah pernah bilang, kalau Lena harus hati-hati sama pria buaya darat! Aku tidak mau tinggal serumah dengan papah yang tidak jauh beda dengan lelaki hidung belang!”

Ayah : “Lena, dengarkan dulu penjelasan papah!”

Lena : “Penjelasan apa lagi, Pah?!? Semua sudah cukup jelas Papah hanya bisa berteori indah, tapi prakteknya kotor!”

Ayah : “Kamu adalah anak kandung papah, jaga omonganmu pada orangtua, dan kamu harus patuh perintah Papah!”

Lena : “Aku juga anak kandung Mamah, lebih baik aku mengikuti perintah mamah daripada perintah Papah yang maunya menang sendiri!”

(Ayah bersiap-siap mau menampar, tiba-tiba terserang penyakit jantung. Hanya memegangi dada dan duduk menahan rasa sakit)

Lena : “Andai ada kebebasan anak untuk menasehati orang tua yang salah, pastilah papah akan menyadari betapa banyaknya kesalahan yang papah perbuat.”

Ayah : “Cepat pergi dari sini!!!” (menahan sakit jantung)

(Lena pergi dari rumah, meninggalkan Ayah sendiri di panggung. Perlahan penyakitnya mereda)

Ayah : (monolog)

“Kenapa keadaanku seperti ini…

Kenapa wanita menjadi racun pada hidupku…

Tak adakah suatu massa, dimana wanita bersih dari racun??

Ha… Ha… Ha….

Racun… Racun… Racun…

Racun telah aku minum..

Racun telah aku telan…

Racun haram telah menjadi Racun halal…

Kenapa harus dengan Racun??

AKKhhh… Aku benci Racun Dunia…!!!!

(Penyakit jantung Ayah kumat, kali ini semakin parah. Ayah merasa kesakitan. Lampu kelap-kelip menyinari panggung. Nuansa pusing tergambarkan. Perlahan tirai tertutup)

SELESAI

Cerpen : Jati Diri Sesungguhnya

Standard

Karya : Muhammad Arif Ali Wasi

Masa remaja adalah masa yang menyenangkan untuk semua manusia yang mengalami pubertas. Rasa rindu, sayang-sayangan, hingga berpacaran sudah tidak dianggap tabu dan menurut sebagian besar orang merupakan hal yang lazim dalam kehidupan kita. Baiklah jika itu hal yang wajar, tapi mari kita intip dunia remaja ketika bermalam mingguan. Banyak sekali pasangan pemuda-pemudi bangsa yang bergandengan tangan, berpelukan, saling meraba di tempat umum, bahkan tak tanggung-tanggung dalam hal berciuman juga sudah melukiskan suasana kota di malam minggu. Tempat penginapan dan hotelpun tak sepi dari pengunjung yang katanya akan menjadi pengurus bangsa di masa depan.

Namaku adalah Arkan Saputra, seorang remaja yang sedang kebingungan mencari jati diri yang sesungguhnya. Saat iman diri ini kuat, aku semakin mantap untuk terus menjadi orang yang baik dan selalu beribadah kepada Tuhan. Lain halnya jika diri ini semakin lemah dan jinak kepada penghasut terbesar yaitu sang Setan terkutuk, pastinya ingin sekali berbuat hal yang menyenangkan nafsu, karena nanti juga akan taubat sendiri.

Itulah kendala terbesar yang aku hadapi saat ini. Di satu sisi, aku mempunyai sahabat dan teman-teman yang dikategorikan baik, sedangkan di sisi lain betapa liarnya teman-teman kategori nakal yang menghasut dan menggodaku agar terjerumus dengan perilaku menyimpang atau sekedar kenikmatan sesaat, salah satunya adalah mengenai hotel.

Namanya Roni, dialah yang selalu menggodaku untuk menyewa seorang wanita untuk mengajaknya ke ranjang hotel. Memang keterlaluan temanku yang satu ini, walau terkadang aku amat tergoda dengan ajakannya, tetapi ajakannya selalu kutolak dengan muka yang menyesal saat ia tidak dihadapanku. Banyak dari teman-temanku yang memanfaatkan kesempatan itu dengan alasan yang beraneka ragam, misalnya karena murah, cantik, kalem, perawan, janda, dan berbagai macam alasan yang membuatku muak tapi mau. Banyak yang beralasan bahwa wanita sewaan itu murah, terpenting bagi mereka hanya untuk menyalurkan hasrat impiannya.

Bebeda dengan Roni, temanku yang bernama Galih selalu mengingatkanku jika telah melakukan perbuatan yang salah. Dia adalah teman sepermainanku semenjak taman kanak-kanak hingga saat ini, jadi aku tak perlu merasa tak nyaman jika ditegur olehnya karena ia telah mengenal sifat dan sikapku seutuhnya begitupun denganku. Saat imanku lemah dialah yang menguatkanku menjadi lebih baik, tetapi keimananku semakin lemah jika sudah bertemu dengan Roni. Menjadi baik dan menjadi nakal memang sama-sama menyenangkan, hal itu menyadarkanku bahwa jati diriku masih rapuh dan belum terbentuk.

***

Mata pelajaran di bangku SMA memang sangat menyebalkan terutama Matematika. Bukan hanya karena mata pelajaran melainkan dengan guru matematika yang hanya memberikan tugas dan jarang menjelaskan teori yang ditugaskan. Alasannya karena SMA telah berubah status, dari Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional menjadi Sekolah Bertaraf Internasional, dengan alasan tersebut siswa wajib mandiri dan mencari sumber-sumber yang ditugaskan. Lalu, apa tugas dari guru?

Sebenarnya bukan hanya status yang berubah melainkan dengan tarif biaya sekolahpun turut berubah. Tak heran banyak sekali teman yang tidak bersekolah di tempat sekolahku yang menjuluki Sekolah Bertarif Internasional, walau memang fasilitas di sekolahku sangatlah memadai dan termasuk lengkap. Dari semua itu, sayangnya guru hanya lebih menonjolkan materi pelajaran semata, sedangkan akhlak dan moral siswa dibiarkan hancur.

Di Aula Sekolah, Galih terlihat sibuk seperti biasanya berkumpul dengan rekan-rekan OSIS. Ia merupakan Ketua OSIS di sekolahku. Figurnya yang baik, sopan, dan tampan kata sebagian perempuan, membuatnya menjadi sosok teladan yang akhirnya membawa ia menjadi Ketua OSIS.

“Galih, mana laporan pertanggungjawaban acara ulang tahun sekolah? Kok belum selesai dari seminggu yang lalu? Aku yang kena omelan Bu Rosmala,” cetus Lisa yang sedang bersama Galih dan rekan-rekan anggota OSIS.

“Aduh, gimana ya?” jawab Galih dengan cemas.

“Lisa, bilang ke Bu Ros kalau Laporan yang kita buat kemarin kehapus. Salahnya Romlan, soalnya dia ngetik laporan di komputer virusan, file laporan kena virus, flash dia kena virus, flash disk dia masuk laptopku, laptopku ada antivirus, dan akhirnya ludes kehapus antivirus di laptopku. Selesai,” jawab Farida ketus terhadap Romlan.

“Yey, kamu juga kena salah donk. Laptopmu itu kan yang ngehapus, yang penting kerjaanku sebagai sekretaris selesai,” jawab tak kalah ketus dari Romlan.

“Seharusnya setiap file ada duplikat, itukan peraturan dari zaman nenek moyang. Lah kamu, file cuma satu.”

“Intinya, kenapa kamu gak bilang kalo laptop kamu ada antivirus?”

“Kenapa juga kamu seenaknya masukin flash disk ke laptopku?” emosi Farida, kali ini dengan muka memerah.

“Ssstttt, sudah cukup, ini semua tanggung jawabku. Biar aku aja yang ngomong ke Bu Rosmala,” ucap Galih menengahi Farida dan Romlan yang bertengkar.

“Kamu yakin? Dengan tampang polos menemui Bu Rosmala tanpa tugas yang disuruh?” tanya Lisa.

“Jika Bu Rosmala, guru yang baik dia pasti mengerti dengan problem yang kita hadapi.” Galih meyakinkan Lisa.

“Itu sih bukan problem, tapi musibah!” ucap Farida ketus pada Romlan.

“Ihhh, nyebelin!” Romlan mendekati Farida tapi ditahan dengan tangan Galih.

Terlihat rekan-rekan OSIS yang lain memisahkan Farida dan Romlan pada dua arah. Aku menyaksikan kejadian itu tak jauh dari mereka berkumpul, memang lucu tingkah mereka layaknya masih duduk di bangku TK yang saling tuduh dan mengamuk atau mungkin juga meniru dari para anggota dewan dengan menuduh agar dirinya aman.

Niat untuk mengobrol dengan Galih sebaiknya aku tunda. Ia bergegas menuju ruang guru untuk menemui Ibu Rosmala sang Pembina Kesiswaan. Ibu Rosmala adalah guru Matematika, sebagian besar siswa menilai bahwa ia adalah guru yang sangat egois karena sesuatu yang murid perbuat harus sesuai dengan keinginannya, layaknya memperlakukan sebuah robot.

“Hei, Bro! Walah ngintipin ruang guru, seleramu rendahan, Coy!” serang Roni mengagetkan dengan mendorong pundakku.

“Hahaha, lucu,” jawabku meledek Roni.

“Maksa banget, betewe malem ni kita-kita pada kumpul yuk. Tempat biasa.”

“Daku mau tobat. Gak mau mampir kesana.”

“Tobat?” jawab Roni menahan ketawa mendengar ucapanku. Ia berusaha untuk merayuku, “Gak nyesel? Cuma buat happy-happy doang kok, ayolah.”

“Huft, oke deh. Nanti kamu yang jemput ke rumahku, malam ini motorku dipakai Kakak?” tanyaku pasrah dan akhirnya aku tergoda untuk kesekian kali dengan ajakan Roni

“Sip, gitu donk! Itu baru best friend gua. Udah ah, gua mau kasih tau yang lain dulu,” jawabnya berlalu dengan tawa.

Setidaknya ajakan Roni untuk mengunjungi Surga Dunia akan melepas beban dari tugas sekolah. Aku menyadari bahwa yang kuperbuat memang salah, tetapi niatku pasti akan tobat jika umur semakin tua dan kematian akan menghampiriku.

Terlihat dengan tampang yang lemas, Galih keluar dari ruang guru. Dengan muka demikian, aku sudah bisa menebaknya bahwa ia telah dimarahi oleh Ibu Rosmala. Sungguh iba melihat Galih, hanya karena ia seorang pemimpin sampai rela pasang badan untuk menutupi kesalahan anggotanya. Aku semakin salut dengan kepemimpinannya dan semakin kasihan dengan pengorbanannya. Semoga kepemimpinannya dapat dilanjutkan sebagai pemimpin bangsa suatu saat nanti.

“Galih,” sapaku memanggil Galih dengan isyarat tangan.

“Arkan, ada apa?” jawabnya.

“Sini, nyante dulu aja.”

Galih mendekatiku dengan menundukan kepala, tampaknya amarah Bu Rosmala memang luar biasa berpengaruh pada kondisi kejiwaan Galih.

“Dimarahin lagi?” ucapku santai untuk menenangkan Galih.

“Ah, biasa.”

“Kalau biasa, santai aja, Bro. Jika ada yang mengkritikmu, kamu harus buktikan dengan praktik jangan teori.”

“Alah, itu semboyan Bu Rosmala,” jawab Galih sembari meledekku, tanda ia sudah mulai membaik dari tekanan. “Tadi ketemu Roni?”

“Loh?” aku heran Galih bisa mengetahui.

“Jeritan Roni terdengar sampai ke ruang guru. Ngapain lagi, dia?” selidik Galih.

Setiap Galih melihatku bertemu dengan Roni, pasti dia mengira bahwa Roni akan menjerumuskanku lagi. Memang tidak salah dugaannya, topik pembicaraan setiap bertemu Roni selalu mengenai tampat lokalisasi. Jika aku memberitahu kepada Galih, pasti dia akan melakukan sesuatu supaya aku batal untuk mengikuti ajakan Roni. Lebih baik aku berbohong dan mencoba ajakan Roni untuk pertama kalinya.

“Oalah, bengong. Aku dah ngerti, malam ini pasti diajak Roni ke tempat maksiat lagi. Kalau ingin tobat, yang konsisten donk. Arkan ingat ya, itu hanya kesenangan sesaat. Sekali kamu kesana, nanti akan selalu tergoda untuk kesana. Please kasihan orangtua kamu, dia didik kamu supaya jadi orang baik-baik, bukan berakhlak kotor seperti Roni. Saranku, kamu jangan bergaul dengan Roni lagi. Tolong dengarkan ucapanku, jika aku masih dianggap sahabat,” jelas Galih dengan tegas.

Maksud untuk menutupi ajakan Roni memang tidak mempan pada Galih. Ucapan Galih, untuk kesekian kalinya menyadarkan bahwa jati diri ini amat lemah pada godaaan. Saran dia untuk menjauhi Roni memang benar tetapi berat untukku, padahal tidak ada keistimewaan dalam pribadi Roni. Rasanya seperti disantet.

***

Malam ini Galih berada di rumahku, niatku untuk ikut bersama Roni akhirnya terbongkar. Aku dan Galih bermaksud belajar bersama sebagai cara penolakan untuk ajakan Roni, itulah pilihan yang aku ambil. Sebelumnya Galih memberi dua pilihan agar Roni tidak jadi mengajakku, pilihan yang lain yaitu dengan bertindak tegas dan menjauhi Roni tetapi aku tidak mengambil pilihan tersebut.

Aku mengerti dengan sikap Galih yang sangat peduli denganku. Walau bukan hak dia untuk melarangku, tapi dia tidak ingin memiliki teman pecandu wanita murahan ataupun hal negatif lain. Entah harus syukuri atau tidak mempunyai sahabat sepertinya, tetapi aku mengakui bahwa ia adalah teman yang luar biasa untukku.

“Den Arkan, ada tamu,” sahut pembantu bernama Bi Inah, sembari menghampiriku.

“Roni?” tebakku.

“Iya Den, ada Mas Roni.”

“Ya sudah suruh masuk, Bi.”

“Baik Den Arkan,” ucap Bi Inah dan menuruti perintahku.

Aku melirik Galih, dia memberikan gerakan isyarat tubuh agar tidak jadi mengikuti ajakan Roni dan sedang sibuk belajar bersamanya. Akupun hanya mengangguk mengikuti perintah Galih, karena sikap yang ia tunjukan hanya untuk kebaikanku.

“Arkan,” sapa Roni dari pintu masuk, ia mendekatiku dengan gayanya yang santai. Dia hanya tersenyum kecut pada Galih, sedangkan Galih hanya diam tanpa mersepon.

“Yuk, tepati janjimu,” tidak seperti biasanya, Roni mengajakku secara paksa dengan menarik lengan tanganku.

“Kita lagi belajar bersama, please jangan ganggu,” tahan Galih dengan menarik lengan kiriku dan mendorong bahu Roni.

“Jangan kurang ajar, Bro! Mentang-mentang Lu Ketua OSIS bukan berarti gua takut sama lu,” semprot Roni dengan meludah ke wajah galih.

Dengan cepat, Galih memukuli wajah Roni hingga terjatuh. Roni tak ingin mengalah, ia membalas dengan balik memukuli hidung Galih hingga berdarah. Kejadian itu sontak membuat orang tuaku terkejut dan langsung meleraikan Galih dan Roni, terutama Ayahku yang terlihat sangat marah dengan kejadian itu.

“Ada apa ini? Main rebut di rumah orang. Arkan, kenapa mereka? Sekali lagi kalian main tonjok-tonjokan, Bapak tidak segan-segan membawa kalian ke Pos Polisi untuk menyelesaikan ini,” tegas Bapakku sangat marah.

“Coba dibicarakan baik-baik dulu, jangan dibiasakan berantem. Ada apa toh, Nak?” tanya Ibu cemas.

“Dia, Tante,” Roni menunjuk ke wajah Galih, “Dia yang mukul saya diluan, saya tidak terima. Apa salah saya?”

“Arkan, benar yang diucapkan dia?” tanya Ibu melanjutkan perkataan Roni.

“Benar, Ma.”

“Nak Galih, ada apa toh? Kamu itu kan siswa teladan di sekolah dan Ibu juga mengenal kamu sudah cukup lama, kenapa kamu bisa berbuat seperti ini? Ibu benar-benar tidak menyangka,” ucap Ibu memojokkan Galih.

Galih tidak berkata sepatah katapun, ia hanya menunduk seperti menahan amarahnya. Aku bingung melihat ini terjadi, dua orang teman dekat berantem karena diriku. Padahal sebelumnya berjalan lancar, ketika menolak ajakan Roni dengan berpura-pura belajar.

“Galih, sekarang kamu pulang. Bapak akan laporkan kejadian ini pada orangtuamu,” ucap Bapak menarik tangan Galih secara paksa dan membawa keluar rumah.

Galih sempat melirikku tanda ia meminta pembelaan dariku. Aku sangat merasa bersalah pada Galih, tetapi aku tidak bisa membelanya. Saat aku memojokkan Roni, pasti rahasia nakalku yang telah dikenal Roni akan dibongkarnya. Aku mengetahui sikap Roni yang demikian, karena pernah terjadi pada temannya sehingga dikucilkan oleh semua orang. Aku tidak mau mengalami kejadian tragis seperti itu.

Maafkan aku, Galih.

***

Malam semakin larut dan waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Roni akhirnya membawaku ke tempat tujuannya. Seperti yang kuduga, banyak sekali wanita berkeliaran dengan menggunakan busana yang membuat hati para pria bergetar. Nafasku memompa semakin cepat, darahpun rasanya seperti meluap. Inilah untuk pertama kalinya, aku diajak ke tempat berjuluk Surga Dunia bagi para lelaki hidung belang.

Melihat sikapku, Roni hanya bisa tertawa dan selalu mengarahkan wajahku pada wanita yang menurutnya sangat menarik.

“Bro, teman-teman yang lain pada dimana?” tanyaku pada Roni.

“Biasalah, tempat tertutup,” jawab Roni dengan santai.

Roni memang terlihat santai jika dibandingkan olehku. Cukup wajar, karena ia seringkali datang ke tempat ini hanya untuk memuaskan hasrat cintanya. Lokalisasi ini memang tidak membuatku bosan, banyak kejutan ketika aku berjalan melewati para kupu-kupu malam.

Aku terkejut, tiba-tiba ada yang meraba dan memelukku dari belakangku. Sontak aku mendorong orang yang memelukku dengan keras hingga wanita itu terjatuh dan lecet pada bagian kaki.

What’s happen, bro? Santai aja,” ucap Roni menenangkanku yang dari awal memang terlihat sangat tegang dengan tempat ini.

Sorry, aku tidak sengaja. Maaf ya,” ungkapku dengan malu tertunduk.

Wanita berwajah mungil itu bangun dan mengajakku berjabat tangan, tampaknya ia akan memaafkanku. Ketika aku menjabat tangannya, dengan lekas ia menarikku menjauhi Roni.

“Eit, tunggu. Ron, sebentar,” perintahku pada Roni.

“Yang lama. Ntar Gua telpon Lu,” ucap Roni menertawakanku.

Roni memang keterlaluan, ia belum menyadari bahwa aku masih belum siap untuk menghadapi ini. Sikapku semakin tidak bisa ditahan, mukaku semakin pucat memanas dan mungkin terlihat memerah.

Wanita itu terus berjalan dengan menggenggam erat tanganku tanpa sepatah kata apapun. Setiap langkah menuju tujuannya membuatku semakin canggung, hingga ia berhenti dibawah pohon di dekat lampu taman. Ia mengajakku perlahan untuk duduk di bangku taman.

Aku hanya tertunduk diam, nyaliku tidak berani untuk membuka pembicaraan. Wajahnya semakin mendekati wajahku, ia memperhatikan wajahku dengan seksama. Detak jantungku berdetak semakin keras.

“Santai aja, Mas,” ucap wanita itu tersenyum padaku. “Aku mengerti bahwa Mas, baru datang disini. Benar kan?”

“I, iya,” jawabku gugup.

“Kenapa mau datang ke tempat ini, Mas?”

“Aku diajak oleh temanku, yang tadi.”

“Oh, Mas Roni ya,” ucap wanita itu. Dia terdiam sesaat, entah ia sedang berpikir atau sedang gugup seperti yang aku alami.

“Kita ada dimana?” tanyaku.

“Kita keluar dari wilayah prostitusi itu,” jawabnya.

Pantas, aku memang tidak mengenal tempat ini, dan kami berdua telah berjalan jauh dari tempat semula. Lagipula, ia membawaku ke tempat umum dan hanya ada beberapa orang di tempat itu dan penjual sate ayam.

Oke, to the point aja. Aku suruhan Galih, dia menyuhku untuk membawamu kesini,” ucap wanita itu.

“Galih?” aku sangat terkejut mendengar ucapannya.

“Kenapa? Heran? Aku juga heran dengan sikap Galih seperti itu.”

“Lalu kenapa kamu menuruti perintah dia?”

“Karena dia ada disini.”

Tiba-tiba Galih muncul dari balik pohon dekatku dan wanita tersebut duduk. Ia muncul dengan wajah yang terlihat menahan amarah. Aku mengerti dengan sikapnya, kejadian di rumahku dengan menyudutkan posisi Galih mungkin tak akan termaafkan olehnya.

“Sinta, thanks udah bawa Arkan ke sini,” ucap Galih dengan wanita yang bersamaku.

“Iya, pokoknya cepat antarin pulang. Aku tunggu di motor,” ucap Sinta pamit dari hadapan kami berdua.

“Aku salut sama kamu, Lih. Kamu rela-rela datang kesini buat cegah perbuatanku? Apa hak kamu?” tanyaku dengan keras.

Sikap Galih yang satu ini memang membuatku kesal dari semenjak kecil, ia selalu menghalangiku berbuat sesuatu yang kumau hanya karena tidak baik menurutnya. Rasa kesal ini memang pernah terjadi pada saat kelas dua SMP, ketika itu ia melarangku untuk ikut dalam konvoi dan aksi coret baju dengan pilok tetapi aku menurutinya walau hati ingin sekali melakukan. Kali ini, kesabaranku terasa habis. Ia bukan orang tuaku, ia hanya seorang teman dan kurasa setiap manusia mempunyai hak untuk hidup dan memilih jati diri bukan karena perintah dari orang lain.

“Aku salah?” tanya Galih.

“Bukan begitu, tapi kamu terlalu mengatur. Kamu gak sadar, hah?”

“Oke, tampaknya kamu sudah lupa dengan prinsip kita yang harus dijaga.”

“Prinsip?”

“Lupakan saja,” ucap Galih dengan senyum yang dipaksakan dan pergi dari hadapanku.

“Galih, tunggu sebentar,” ucapku hingga Galih berhenti melangkah. “Jujur, aku mengakui perbuatanku salah. Maafkan, Lih.”

Galih tetap membelakangiku, “Aku melakukan ini semata karena aku sahabatmu dari semenjak kecil. Ingat saat kita berumur sepuluh tahun? Ketika aku jatuh kedalam sumur, aku hampir tenggelam dan susah bernafas dalam sumur itu. Tidak ada orang di sekitar sumur itu, dan beruntung kamu lewat dan datang menolongku. Kejadian yang memalukan sekaligus membuka mataku bahwa kamu bukan teman yang selalu iseng terhadapku, tetapi juga amat berharga yang harus aku jaga.”

Galih berhenti sejenak, dan ia berputar menghadapku. Wajahnya terlihat lesu dan sangat pucat.

“Saat kita beranjak remaja, aku semakin kenal dengan watakmu, pemikiranmu, obsesimu, bahkan yang mungkin kamu tidak sadar, aku menyadari perbuatan nakalmu dengan Roni. Kamu pernah meminum minuman keras, mencicipi ganja walau tidak seberapa tapi itu berpengaruh pada jati dirimu saat ini. Tidak sadarkah?”

Ucapan Galih bagaikan halilintar yang menyambarku. Jika ia mengetahui bahwa aku pernah mencicipi ganja, meminum minuman keras, seharusnya ia melaporkanku pada keluargaku seperti ia pernah melaporkanku ketika aku pernah melukai orang hingga celaka pada saat masa kanak-kanak. Tetapi pada kenyataannya dia tetap merahasiakan ini dari siapapun.

“Aku hanya berusaha sendiri untuk mengubahmu, tapi tampaknya sulit dikalahkan dengan nafsumu. Jati dirimu begitu rapuh, sehingga susah sekali mempertahankan ego yang kamu inginkan. Tapi aku yakin, suatu saat kamu akan sadar bahwa yang kamu lakukan adalah kesalahan besar yang haram untuk diulangi,” jelas Galih.

“Aku memang salah, Lih,” jawabku lirih sembari menunduk.

“Bukan. Ini semua bukan kesalahanmu,” ucap Galih berhenti sejenak. “Hahaha, santai saja Arkan. Ubahlah dirimu dari sekarang, itulah yang membuatku tenang.”

Thanks ya, Lih. Kamu memang sahabatku yang terbaik,” ucapku tersenyum haru pada Galih.

“Ya, sama-sama. Semoga prinsip kita masih bisa dipertahankan.”

Prinsip ketika kelulusan SMP, aku dan Galih pernah mengucapkan sepatah janji bahwa kita akan saling menjaga, menasehati, memotivasi dan terus mendukung untuk kebaikan. Jika aku berbuat salah, harus dengan tegas ditegur demikian pula sama dengan Galih jika berbuat salah.

Ya, inilah jati diriku yang masih rapuh, dan inilah sebuah gambaran kehidupan yang pahit untuk dikenang nanti. Penuh dengan jati diri yang busuk dan pantas disebut sampah masyarakat. Keyakinanku untuk menemukan jati diri yang kokoh semakin kuat. Bersama dengan Galih semoga langkah kehidupan yang mendatang, akan menjadikan diri ini semakin baik. Itulah jati diri yang ingin kuraih sesungguhnya. Terima kasih telah menjadi sebuah bagian penting dalam dalam hidupku, Sobat.

 

~~Selesai~~